Saturday, 31 December 2016

Catatan Akhir Tahun, Kaleidoskop Dua Wilayah Perbatasan

Kalimantan

Awal tahun 2016, saya masih berada di bumi Kalimantan tepatnya di Kabupaten Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia. Nunukan merupakan kabupaten yang terdiri dari Pulau Nunukan sendiri dengan beberapa kecamatan yang tersebar di Pulau Sebatik dan Wilayah III, sebuah sebutan bagi kecamatan Sebuku, Tulin Onsoi, Sembakung, Sembakung Atulai, Lumbis, Lumbis Ogong, dan Krayan yang terletak di pulau besar Kalimantan. Saya dengan beberapa teman ditugaskan atas nama Patriot Energi untuk memfasilitasi masyarakat merawat Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dibangun di desa mereka.

Kalimantan sangat identik dengan sungai. Bila menerawang peta Kalimantan, kita bisa melihat dengan jelas begitu banyak garis-garis biru dari laut bebas menjalar masuk ke dalam sela-sela pulau Kalimantan. Hal ini membuat penduduk Kalimantan familiar dengan alat transportasi air, seperti ketinting (perahu kecil panjang dengan sebuah mesin diesel), speedboat dengan mesin PK 40 sampai PK 200, dan kapal berukuran besar. 
Sebuah ketinting siap mengantarkan penumpang melalui sungai. Foto oleh: Soni Mijaya
Begitu pula dengan penduduk di Kabupaten Nunukan, masyarakat yang didominasi oleh suku Dayak Tidung dan Bugis ini banyak memanfaatkan alat transportasi air untuk kegiatan sehari-harinya. Untuk mencari ikan atau udang, masyarakat nelayan menggunakan ketinting. Saat hendak bepergian ke pulau lain mereka menggunakan speedboat, layaknya penduduk di Pulau Jawa menggunakan bis ketika hendak bepergian ke luar kota. Adapun untuk mendistribusikan kebutuhan bahan pokok sembako, minyak tanah, dan bensin ke beberapa titik di Nunukan penduduk menggunakan kapal besar.

Banyak desa di Wilayah III Kabupaten Nunukan belum memperoleh fasilitas listrik. Saat saya ditugaskan di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, beberapa warga melaporkan bahwa banyak desa yang berada di kecamatan Krayan dan Lumbis Ogong yang sama sekali belum terdapat aliran listrik. Setelah saya tanya lebih lanjut, ternyata desa-desa tersebut terletak di wilayah yang cukup dalam dan belum terdapat akses jalur darat. Masyarakat sendiri kesulitan untuk bisa bepergian ke sana.

Salah seorang teman yang bertugas di desa Sumentobol, kecamatan Lumbis Ogong melaporkan bahwa beberapa desa di sekitarnya masih gelap gulita. Lumbis Ogong merupakan kecamatan di Wilayah III yang tidak memiliki akses darat sehingga hanya bisa dicapai melalui sungai dengan aliran jeram yang deras. Saya bertanya padanya bagaimana pengiriman bahan-bahan konstruksi PLTS bisa sampai di sana. Dia mengatakan sangat sulit karena berton-ton berat total tiang listrik, gulungan kabel, baterai, modul surya, semen, baja ringan, dan komponen lainnya harus diangkut dengan kapal yang sering tersendat-sendat ketika sungai dangkal dan bertemu jeram deras.


Hambatan tidak sampai di situ saja, saat tiba di pelabuhan desanya barang-barang tersebut harus diangkut secara manual per orang. Sebuah baterai dengan bobot 70 kg diangkut warga dengan berjalan kaki mendaki bukit terjal dan licin begitu pula dengan komponen PLTS lainnya. Pembangunan yang dijadwalkan selesai dalam waktu tiga bulan harus memakan waktu sekitar lima bulan.
Motor dan barang-barang berukuran berat biasa diangkut ke perahu untuk dibawa mengarungi sungai
Saya jadi berpikir, barang kali hal ini yang menjadi salah satu sebab pembangunan di Indonesia tidak merata dan tidak efisien. Saat pembangunan digalakkan dari desa di wilayah terluar seperti Kabupaten Nunukan, sebaiknya pembangunan akses jalan dilakukan terlebih dahulu. Bila akses jalan sudah dibangun sebaik mungkin, pembangunan dalam asek lainnya seperti listrik bisa dilakukan dengan mudah. Selama ini, jalan yang sudah terbentang di Wilayah III kabupaten Nunukan merupakan jalan bekas pembukaan lahan perkebunan oleh perusahaan. Jalan-jalan tersebut cukup memprihatinkan. Truk-truk roda sepuluh pengangkut sawit dan kayu setiap hari berlalu lalang. Jalan yang diperbaiki lalu rusak kembali dalam tempo yang singkat.


Hambatan tidak adanya akses jalan ini sepenuhnya merupakan hambatan fisik, hambatan yang tampak nyata dan kebutuhannya konkret. Bila berbicara pembangunan desa secara keseluruhan, maka tantangan lebih banyak terdapat pada kesiapan SDM masyarakat desa. SDM masyarakat desa di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan – Malaysia sebetulnya sudah lumayan terdidik dengan baik. Di sana sudah ada pendidikan dari SD sampai dengan SMA. Sebagian pemudanya juga sudah mengecap pendidikan perguruan tinggi di kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan. Namun demikian, pendidikan itu lantas menjadi koreksi tersendiri. Banyak pemuda bertaraf pendidikan SMA di Nunukan lebih memilih bekerja di Malaysia dengan gaji yang menjanjikan. Adapun yang berpendidikan tinggi banyak yang enggan kembali ke desanya karena sudah merasa nyaman hidup dan bekerja di kota besar.
Tugu yang menjadi saksi pembangunan wilayah perbatasan RI - Malaysia
Tampaknya, pemerintah baik pusat maupun daerah memiliki tugas rumah yang cukup besar. Saya tidak tahu apakah mereka pernah melewati bukit tertinggi yang ada di Pulau Sebatik ataukah tidak. Pulau Sebatik merupakan pulau yang terbagi dua bagian, sebagian milik Indonesai sebagian lain milik Malaysia. Di Pulau Sebatik jalan berliku-liku dan naik turun cukup terjal. Ada sebuah bukit tinggi yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Saat saya melintasi bukit tersebut di malam hari - akses jalan di Pulau Sebatik sudah lebih baik daripada di Wilayah III - tampak pemandangan dua bagian negara, Indonesia dengan pemandangan Kabupaten Nunukan dan Malaysia dengan pemandangan Kota Tawau. Saya hanya bisa bersedih dan meratap, betapa di sisi negara tetangga tampak telah terang benderang dengan tatakota yang rapi sedangkan di sisi lain di bumi pertiwi yang tampak hanya gelap gulita. Sejak saat itu saya sebut bukit ini dengan nama Bukit Ratapan Negeri.


Papua




Pemandangan danau Sentani dari bukit Mac Arthur, Sentani, Jayapura. Foto oleh: Soni Mijaya


Negara kita adalah negara yang kaya raya akan sumber daya alam. Di sebelah utara Indonesia berhimpitan dengan Malaysia sedangkan di sebelah timur berhimpitan dengan Papua New Guinea (PNG). Berbicara tentang perbatasan bagian timur, wilayah ini jarang sekali disoroti media. Seringnya media hanya menggembar-gemborkan tentang kondisi Papua, perang-perang suku, dan wisata alam di Papua – ini juga baru beberapa tahun belakangan saja sejak terkenalnya Raja Ampat.

Bulan Juli saya bersama dengan belasan teman mendarat di tanah Papua, masih dalam misi tugas yang sama seperti sebelumnya. Butuh waktu penantian hidup selama 25 tahun bagi saya agar bisa menjejakkan kaki di sini untuk pertama kalinya. Tiba di bandara Sentani, saya mengibaratkan diri sebagai orang yang baru tiba di sebuah negara asing. Ketika melihat sekeliling, saya melihat banyak sekali orang kulit hitam berrambut keriting, tentu selain teman-teman dan pelancong lainnya. Keberadaan saya sebagai suku Sunda di tengah-tengah mereka suku Papua membuat saya menyadari bahwa saya minoritas. Keadaan ini barang kali merupakan sebuah shock therapy paling hebat saat pertama kali tiba di Papua.

Dalam benak saya sebelum tinggal di Papua – sebagai korban media korporasi yang penuh sajian bernuansa politis dan kurang mendidik, tanah cenderawasih ini merupakan gudangnya konflik suku, disintegrasi bangsa, dan isu-isu SARA. Maka, benak itu dengan sendirinya membuat saya sedikit khawatir dan takut melihat begitu banyak orang-orang suku Papua di sekeliling saya. Saya khawatir semua yang disebarkan media itu terjadi pada diri saya. Ternyata quote dalam film Man of Steel benar juga adanya, “Manusia takut terhadap apa yang mereka tidak pahami.” Lima bulan tinggal di pedalaman Papua membuat saya mengerti bahwa ketakutan dan gembar-gembor media itu keliru.

Di Papua saya tinggal dan bertugas di desa (di Papua lazim disebut kampung) Banda, Kecamatan (distrik) Waris, kabupaten Keerom. Desa Banda merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan negara PNG, hanya setengah jam dengan berjalan kaki. Para penduduk di kampung Banda merupakan suku Walsa bermarga May. Dengan jumlah kepala keluarga sekitar 120, warga kampung Banda baru teraliri listrik pada tahun ini.

Perjalanan menuju kampung Banda bisa ditempuh melalui jalur darat. Perjalanan dari Jayapura memakan waktu sekitar 4 jam dengan kendaraan roda empat. Namun, medan yang ditempuh cukup berat sehingga pengunjung lebih baik menggunakan mobil 4 WD atau dobule gardan. Jalan menuju distrik Waris mudah sekali longsor karena struktur lapisan tanahnya cukup labil dan secara geografis merupakan lereng-lereng gunung. Orang Papua biasa menyebut pergi ke daerah Waris dan seterusnya sebagai perjalanan naik gunung karena semakin ke selatan (dari Jayapura) dataran cenderung semakin meninggi, kecuali sudah tiba di wilayah Merauke yang berada di wilayah Papua paling selatan.
Distrik Waris berada di lintas jalan Trans Papua, jalan yang mencoba menghubungkan wilayah Papua bagian utara sampai selatan. Kedudukan kampung Banda cukup terisolasi karena tidak seperti kampung lainnya yang terletak tepat di pinggiran jalan Trans Papua, kampung Banda terletak menjorok ke dalam (dengan kondisi jalan yang buruk) sekitar 3 km dari poros jalan tersebut. Namun demikian, masyarakat di kampung Banda sudah cukup terbuka wawasannya karena dahulu kampung ini merupakan pusat distrik Waris. Puskesmas, Koramil, dan kantor Polsek juga masih berdiri di kampung Banda sampai saat ini sebagai bukti sisa pusat distrik/kecamatan. Sebagian (meskipun sangat sedikit) warga Banda juga ada yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan pandai berbahasa Inggris.

Yang unik dari perbatasan Indonesia – PNG di kampung Banda dan sekitarnya adalah masyarakat masih cukup abai dengan garis batas negara. Bagi mereka, garis batas tersebut hanyalah simbol. Warga Banda setiap hari merasa biasa saja melintasi perbatasan negara pergi ke PNG untuk berbagai keperluan, tanpa passport tanpa surat izin apa pun, begitu pun sebaliknya banyak warga PNG yang masuk ke Indonesia melalui kampung Banda. Hal ini dikarenakan hubungan kekerabatan antara kampung Banda dengan kampung Boda (kampung di PNG yang berbatasan dengan Indonesia) masih erat. Masyarakat di kedua kampung tersebut merupakan suku Walsa dan marga May. Banyak anggota keluarga dari masyarakat kampung Banda merupakan warga PNG dan perjalanan setengah jam membuat mereka bisa berinteraksi sehari-hari.

Maka, di distrik Waris dan sekitarnya adalah pemandangan yang biasa bagi saya menyaksikan beberapa warga PNG berlalu-lalang, ada yang sekolah, bekerja, ataupun berjualan di Indonesia. Ciri dari warga PNG adalah mereka memiliki tanda di dahinya. Bahasa yang biasa mereka gunakan adalah bahasa Pidgin dan Inggris slank. Saya pernah berbicara dengan beberapa dari mereka. Ketika saya tanya tanggapan mereka mengenai pembangunan Papua, mereka mengatakan bahwa pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia masih jauh lebih baik daripada wilayah perbatasan negara PNG. Di Papua, pendidikan dan pengobatan diberlakukan secara gratis sebagai kebijakan otonomi khusus. Di PNG bagian perbatasan, masyarakat masih terabaikan. Oleh karena itu, banyak masyarakat PNG pergi ke Indonesia untuk sekolah dan berobat. 
Keadaan masyarakat suku Walsa di kampung Banda, Papua. Foto oleh: Soni Mijaya
Lima bulan tinggal di kampung Banda dan bergaul dengan masyarakat di sana membuat saya sedikit banyak paham mengenai Papua. Mungkin kampung Banda bukan sebuah sampel yang sempurna untuk  bahan analisis tentang Papua, tetapi paling tidak banyak gambaran utuh mengenai masyarakat Papua yang saya peroleh di sana. Kondisi masyarakat di kampung Banda dengan telanjang memperlihatkan pada saya sebuah problematika yang kompleks tentang Papua. Mari kita kupas satu per satu.
Pendidikan dan Agama
Di kampung Banda, penduduk asli 100% beragama Katolik. Sebuah gereja paroki berdiri di sana dengan seorang pastur yang ditugaskan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Daniel. Pastur Daniel tidak tinggal sendiri. Ia tinggal bersama seorang pastur juga bernama Emanuel yang ditugaskan Paroki untuk memimpin sekolah dasar bernama SD YPPK (Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Katolik) Kenandega. Kenandega merupakan nama sebuah daerah di kampung Banda yang berbatasan dengan kampung Kalifam.

SD YPPK Kenandega adalah sekolah swasta yang merupakan satu-satunya satuan pendidikan di kampung Banda. Murid-muridnya berasal dari kampung Kalifam, Pund, Kalipai, Kalibom, dan Papua New Guinea. Tidak ada satuan pendidikan negeri baik SD, SMP, maupun SMA di Banda. Sekolah negeri yang paling dekat hanya ada di pinggir jalan Trans Papua di dusun Kalibom, kampung Kalifam, sekitar 5 km dari Banda. Setiap hari, anak-anak sekolah berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, sebagian menyusuri jalan yang buruk sejauh 5 km, sebagian menyusuri sungai yang deras. Bila malam atau pagi hari hujan deras, maka sebagian besar murid tidak akan berangkat ke sekolah karena akses yang buruk tersebut.


Sistem pendidikan di SD YPPK Kenandega sudah cukup baik karena mengikuti sistem yang diterapkan yayasan Katolik pusat. Setiap pagi sebelum masuk ke kelas, para siswa berbaris untuk mendapatkan pengarahan dari kepala sekolah dan berdoa bersama. Pengarahan biasanya disampaikan kepala sekolah untuk menghukum para siswa yang absen sekolah di hari sebelumnya, tidak ibadah hari Minggu di gereja, atau tidak mengikuti kegiatan tertentu yang sudah dijadwalkan. Hukuman yang diberikan oleh sekolah biasanya adalah anak-anak harus mengambil batu kali ke sekolah. Batu-batu yang bertumpuk saat ini sudah cukup banyak. Kepala sekolah menjelaskan pada saya bahwa batu-batu tersebut suatu saat bisa berguna untuk pembangunan sekolah.


Siswa-siswi SD YPPK Kenandega melakukan doa bersama sebelum masuk ke kelas. Foto oleh: Soni Mijaya
Kepala sekolah mengatakan bahwa anak-anak SD YPPK Kenandega memang cukup sulit diatur dalam pendidikan. Nasihat dan hukuman bahkan sudah sering diberikan, tetapi mereka tetap mengulangi kesalahan yang sama. Paling umum kesalahan mereka adalah malas berangkat sekolah. Pihak sekolah padahal sudah sering melakukan koordinasi dengan para orang tua siswa untuk bersinergi dalam pendidikan anak-anak. Namun, orang tua mereka juga mengakui bahwa anak-anak sulit diatur dan sering dijuluki kepala batu. Barang kali baru di sekolah ini saya sering mendengarkan julukan kepala batu diberikan pada murid.


Menurut saya, hadirnya organisasi Katolik untuk bertugas dalam pendidikan dan agama di kampung Banda sangat membantu bagi masyarakat perbatasan. Namun demikian, fasilitas yang mereka miliki masih cukup minim. Sekolah belum teraliri listrik. Para guru dan petugas sekolah harus pergi ke Arso, pusat kabupaten Keerom, selama 2 jam perjalanan untuk mencetak dan mengopi lembaran soal dan materi pelajaran. Selain itu, tenaga pengajar yang ada di sekolah masih kurang baik secara kuantitasa maupun kualitas. Kepala sekolah mengatakan bahwa ada sepuluh kelas di SD YPPK Kenandega dan hanya ada delapa guru yang aktif. Dari delapan guru tersebut, sebagiannya hanyalah lulusan SMA.

Para siswa harus melalui sungai tanpa jembatan untuk sampai di sekolah. Foto oleh: Soni Mijaya
Dalam hal ini, sayang sekali peran pemerintah daerah maupun pusat masih minim. Banyak sekali tugas rumah untuk memajukan pendidikan di Papua. Hambatan lagi-lagi terletak pada akses (jalan), sumber daya manusia, dan fasilitas pendidikan. Bila menilik kemajuan yang dicapai di era sekarang bisa diselesaikan melalui pendidikan, maka sebaiknya pendidikan menjadi perhatian prioritas untuk pembangunan di Papua.

Sosial Masyarakat

Seorang petugas di Koramil suatu ketika pernah berkata secara berkelakar pada saya. Dia mengatakan, “Tuhan menakdirkan tiga al- di dunia ini. Pertama Almarhum karena setiap manusia yang hidup pasti meninggal. Kedua adalah Al-Quran. Ketiga adalah Al-kitab (injil). Tapi, khusus di Papua Tuhan menurunkan satu lagi al- yaitu Al-kohol.”


Saya kira ucapan bapak Koramil tadi ada benarnya. Lima bulan tinggal di Papua, saya sering melihat warga yang suka mabuk. Biasanya mereka mabuk setelah mendapatkan uang banyak, baik dari bekerja atau pun palang (memalak). Minimnya wawasan untuk menabung bagi masyarakat Papua membuat mereka boros secara ekonomi. Ketika mereka memiliki uang, mereka akan membelanjakannya dan menghabiskannya saat itu juga, baik sesuai kebutuhan atau pun tidak. Tampaknya budaya menghabiskan uang seketika ini telah merambah baik pada anak-anak atau pun orang tua. Saya sering melihat warga, baik anak kecil maupun orang tua, awalnya hendak membeli kebutuhan tertentu saja di kios tetapi kemudian menghabiskan seluruh kembalian uang tersebut untuk membeli barang-barang lainnya.

Patok perbatasan RI - Papua New Guinea di kampung Banda, kabupaten Keerom, Papua

Bagi kaum lelaki, kebiasaan menghabiskan uang ini dampaknya cukup buruk. Mereka yang suka mabuk akan menghabiskan uang gaji pada suatu malam untuk mabuk-mabukan. Mabuk alkohol di Papua berbeda dengan tempat lain seperti NTT atau pun Maluku. Pasalnya, orang mabuk di NTT dan Maluku akan terkapar dan tidur saat mencapai puncak mabuk. Warga yang mabuk di Papua sering membuat kegaduhan. Saya menyaksikan sendiri seorang warga yang mabuk tengah malam membawa parang sambil berteriak-teriak teror.

Kebiasaan buruk lain yang sudah membudaya di Papua adalah palang (memalak). Tidak berbeda dengan memalak pada umumnya, palang merupakan kegiatan meminta secara paksa atau memeras orang lain agar diberi uang. Di sepanjang jalan Trans Papua terdapat banyak kampung dan hampir di setiap kampung tersebut mengadakan palang bagi truk-truk yang lewat. Hal ini ternyata ditiru oleh generasi muda Papua. Saya beberapa kali pernah melihat para siswa SMA memberhentikan truk di jalan raya untuk meminta uang.


Hal yang paling miris untuk disaksikan adalah pemandangan warga Papua asli yang tidak menjadi tuan di tanah mereka sendiri. Di sepanjang jalan pusat kota Jayapura, saya menyaksikan orang-orang asli Papua berjualan secara emperan di pinggiran trotoar. Mereka berjualan pinang, sirih, kapur, noken, dan sayur-mayur. Saya melihat kota Jayapura seperti sebuah kota di Jawa yang dipindahkan ke Papua. Deretan toko, rumah makan, pengendara mobil, dan sepeda motor kebanyakan dimiliki oleh orang pendatang. Warga Papua asli hanya menyaksikan itu semua sambil berjalan dengan kaki telanjang, mengunyah sirih pinang, dan membawa tas noken. Hanya sebagian kecil saja warga Papua asli yang beruntung menjadi pegawai negeri sipil atau pengusaha.
Salah seorang tokoh adat di kampung Banda dalam acara adat dansa wama. Foto oleh Soni Mijaya
Problem di Papua memang sangat kompleks sejak dari aspek pendidikan, ekonomi, sosial, sampai budaya. Namun, hal tersebut menurut saya bukan tidak bisa diselesaikan. Kembali lagi ke kampung Banda, di sana saya banyak berbicara dengan kepala kampung dan para tokoh masyarakat setempat. Mereka merupakan suku asli Papua yang sudah terbuka wawasannya. Saat saya bertemu dengan Pak Joni May, bapak kepala kampung Banda, ia merasa bersyukur akhirnya listrik bisa masuk ke Banda. Ia sangat mengharapkan listrik bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga, khususnya anak-anak bisa belajar di malam hari.

Namun, di sisi lain ia lebih banyak berbincang tentang Papua. Selama ini, ia merasa sedih karena Papua di mata media dan masyarakat ibukota selalu identik dengan kekerasan dan disintegrasi bangsa. Ia menekankan sekali pada saya bahwa hal tersebut hanya terjadi di wilayah tertentu saja, tidak semua Papua. Ia tekankan bahwa warga Papua, khususnya di kampung Banda dan sekitarnya, merupakan bangsa Indonesia yang cinta tanah air dan menghindari kekerasan. Hal yang senada juga disampaikan oleh Pak Jack May, salah seorang tokoh masyarakat di kampung Banda.

Bapak Joni May dan Jack May adalah dua orang yang lama merantau di luar Papua. Mereka pernah mengenyam pendidikan di Jawa, tinggal lama di Sulawesi, dan bahkan ada yang pernah pergi ke Singapura dan Jepang untuk even kebudayaan. Perantauan tersebut menurut saya yang berpengaruh besar bagi keterbukaan wawasan mereka. Selain mencoba mengklarifikasi hal yang menurut mereka keliru tentang pandangan orang-orang terhadap Papua, mereka juga memiliki pandangan yang luas tentang pembangunan kampung, pelestarian adat istiadat suku Walsa, dan pendidikan di kampung Banda.

Maka menurut saya, pendidikan dari luar Papua bisa dijadikan model untuk membuka cakrawala wawasan warga Papua. Pendidikan dari luar Papua tersebut bisa dimaknai luas. Generasi masyarakat Papua bisa memperolehnya melalui perantauan ke luar Papua atau pun melalui hadirnya external activator bidang pendidikan di Papua. Mungkin masalah-masalah di Papua tidak bisa diselesaikan oleh generasi masyarakat Papua saat ini, tetapi melalui pendidikan perlahan-lahan generasi pengganti bisa mengisi kekuangan-kekurangan leluhur mereka di masa yang akan datang.


Potensi dan Tantangan

Kondisi masyarakat perbatasan Indonesia – Malaysia masih lebih baik daripada kondisi perbatasan di Indonesia – PNG. Masyarakat Kalimantan sudah lumayan maju dari segi pendidikan daripada Papua, meskipun keduanya tetap memiliki masalah di bidang SDM. Pertanian sebetulnya selalu menjadi sebuah potensi besar bagi kedua wilayah. Sementara ini, mainset masyarakat terhadap pertanian masih konvensional. Selain itu, minimnya wawasan keilmuan pertanian hanya memberikan produktivitas yang rendah. Seandainya masyarakat memperoleh keilmuan pertanian yang baik sejak dari pengolahan lahan hingga pengolahan pascapanen, maka bukan mustahil produktivitas yang tinggi bisa menjadikan kedua wilayah tersebut untuk swasembada.

Di sisi lain, lagi-lagi masalah yang hadir ialah masyarakat butuh pasar. Produktivitas tinggi tidak ada artinya jika hasil-hasil pertanian tidak memperoleh pasar yang menjanjikan. Maka dari itu, masyarakat di Kalimantan contohnya lebih condong memilih kelapa sawit karena perusahaan langsung mendatangi kebun mereka untuk menukarnya dengan uang. Dalam hal ini, jika pemerintah melalui kementerian pertanian mampu membuat terobosan baru untuk pendistribusian produk hasil pertanian secara baik, maka pemerataan produk pertanian dan kesejahteraan bisa dicapai.

Kemandirian lokal bisa dicapai dengan menerapkan kemandirian itu sendiri sejak dalam pikiran. Masyarakat terlanjur bergantung dan kecanduan dengan produk-produk luar, baik sebagai kebutuhan primer maupun tambahan. Sebagai contoh, untuk makan nasi masyarakat lebih memilih membeli beras dari luar daripada berusaha untuk menanam padi sendiri padahal lahan yang mereka miliki cukup luas.


Khusus untuk wilayah Papua, masyarakat saat ini lebih memilih makan nasi daripada pappeda. Hal ini berpengaruh pada besarnya permintaan beras dari luar karena mereka tidak menanam padi sendiri. Keadaan ini cukup memprihatinkan karena warga akhirnya tidak lagi ramai menanam pohon sagu. Untuk lauk pauk, banyak warga Kalimantan masih membeli sarden di tengah-tengah wilayah yang kaya hasil ikan sungainya. Pernah suatu ketika di Kalimantan saya pergi memancing dengan warga. Ternyata sekitar dua jam duduk di dermaga sungai bisa mendapatkan sejumlah ekor ikan yang bisa dikonsumsi untuk satu keluarga selama satu hari. Barang kali kedaulatan pangan memang harus ditumbuhsuburkan sejak dari kebudayaan masyarakat setempat agar mereka berupaya memanfaatkan potensi yang sebenarnya melimpah ruah.

Sunday, 14 August 2016

Bulan Purnama Pertama di Papua

Danau Sentani terbentang panjang dengan kesamaran awan-awan tipis dari atas pesawat. Foto oleh: Soni Mijaya


16 Juli 2016

Tadi malam aku tidak tidur setelah acara Pensi, malah nongkrong di gazebo dan mengobrol dengan Bri, Judin, Citra, dan NK yang sedang "minum". Jam setengah lima pagi aku sudah harus masukin barang-barang ke bis, sarapan, upacara sebentar, lalu berangkat ke komplek perkantoran ESDM. Kami upacara lagi bersama menteri di halaman perkantoran ESDM, kebetulan aku disuruh baca doa ketika upacara. Sempat ada wartawan dari internal ESDM juga melakukan wawancara padaku kenapa masih ingin ikut program begini.

Aku hanya punya sedikit waktu untuk memberikan kado dan mengobrol empat mata dengannya. Aku ajak dia keluar dari keramaian, kuberikan kado kenang-kenangan sebuah buku yang tadi malam sempat kusiapkan. Aku sampaikan padanya terima kasih dan apa pun yang akan terjadi 1 tahun ke depan dia tetap orang yang kukenal. Aku tidak minta tanggapan atau balasan apa pun darinya. Ia hanya bilang merasa tidak enak karena tidak bisa memberi apa pun. Aku lalu pamitan.

Aku sudah sepakat dengan Judin. Aku dan dia punya kepribadian yang mirip persis, hanya saja dia tipe extrovert sedangkan aku introvertnya. Kami sepakat bahwa apa pun yg terjadi, sebagai orang Feeling kami harus belajar menjalani apa adanya. Biar semuanya mengalir meskipun memang untuk orang feeling sebuah peristiwa akan cukup lama melekat di perasaan. Namun, aku senang kami sama-sama bersyukur karena melalui program patriot energi ini kami merasa bisa mengenal tuhan lebih dekat secara spiritual. Itu yg kutanamkan dalam diriku saat ini. Aku tidak bisa menahan perasaan, tapi apa pun hasilnya harus kurelakan. Tuhan pasti ada maksud untuk semua ini.

Pukul 23.45 WIB aku brsama 16 orang tim Papua terbang dari bandara Soetta menggunakan Batik Air menuju bandara Sentani, Papua.


17 Juli 2016

Sebelum landing di bandara Sentani Jayapura, aku kagum pada pemandangan indah alam Papua. Ada danau yang luas, laut yang indah, lembah dan pegunungan yang kokoh. Pemandangan di bandara pun seperti sangat lain karena sangat banyak suku melanesia (orang asli Papua). Aku merasa seperti berada di benua Afrika.

Aku bersama 16 patriot lainnya dijemput dua mobil menuju hotel Sabang Land milik saudaranya Eki GoPro. Kegiatan selanjutnya adalah hibernasi panjang sebagai balasan terjaga di hari kemarin.


18 Juli 2016

Pagi hari kami menyewa 2 mobil dengan harga masing-masing Rp 700.000 untuk mengurus perizinan ke dinas-dinas provinsi. Lagi dan lagi aku takjub dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Ada danau, laut, pantai, gunung, lembah, perkampungan di punggung-punggung gunung dan lembah, kukira ini seperti Rio de janero di Brazil. Lebih indah lagi saat kami melakukan perizinan di Kodam yang terletak di dataran tinggi. Alam Jayapura terbentang oleh gunung dan lembah yang berbatasan dengan laut biru. Sempat juga kupotret burung Kasuari yang dipelihara di komplek Kodam.

Aku dan kawan-kawan sempat mampir untuk minum kelapa muda di dataran tinggi bernama Skyline. Kami duduk tepat di atas bukit yang langsung menghadap laut. Syahdunya menikmati pemandangan pantai dan laut dari ketinggian sambil melepas lelah. Foto terindahku sejauh ini salah satunya dari tempat ini kupikir.

Kami pulang malam hari. Makan malam di warung pinggir jalan, aku menyesal memesan ikan mujair yang ternyata harganya Rp 70.000. Kalau saja aku tahu harganya tak sebanding dengan menunya, aku pesan ayam goreng saja yang harganya setengah lebih hemat. Sebelum tidur, kami sempat membicarakan rencana kegiatan esok hari.


19 Juli 2016

Hari ini aku dan teman-teman masih melanjutkan proses perizinan. Kami kembali lagi ke Dinas ESDM Provinsi untuk menemui Kadis. Karena beliau sakit, kami cukup bertemu dengan beberapa orang perwakilannya.

Sepanjang perjalanan, aku baru menyadari bahwa banyak orang-orang berkendaraan mewah tetapi bukan orang Papua asli. Benar berita yang pernah kudengar dulu bahwa orang Papua asli paling tinggi menjadi PNS sedangkan kebanyakannya adalah miskin. Sepanjang jalan membentang, banyak kutemukan para pedagang buah pinang dengan meja kumuh di pinggir jalan. Mereka semua adalah orang Papua asli.

Betapa sedihnya menyaksikan kenyataan ini secara langsung. Orang-orang pendatang berlalu lalang dengan kendaraan mewah dan pakaian bagus, sedangkan banyak orang Papua asli berpakaian lusuh, kadang tak memakai sandal, berjalan kaki di pinggiran jalan yang terik atau berjualan buah pinang yang sepi pembeli.
Di tengah alam yang memesona, orang-orang asli Papua masih termarjinalkan.


20 Juli 2016

Pagi hari kami moving sekaligus pindah tempat tinggal ke rumah saudaranya Arya di Hamadi, Jayapura. Aku sempat mengobrol dengan supir angkot yang disewa. Dia berasal dari Jawa Tengah. Menurutnya, hidup di Papua ini harus hati-hati karena orang Papua asli sering bikin ulah. Dia sudah beberapa kali ditipu dan tidak dibayar oleh orang Papua yang menyewa mobil angkotnya. Namun, meskipun demikian ia mengatakan bahwa orang-orang Papua adalah orang bodoh. Aku hanya mendengarkan, tidak untuk setuju atau tak setuju dengannya. Yang kuamati pasti adalah ia sendiri masih mendiskriminasikan fisik orang Papua asli.

Malam hari, baru aku bisa lebih mengenal keluarga orang Papua asli. Mertua kakaknya Sisca mengajak kami makan malam di Hamadi Atas/Gunung. Di sana, pemandangan bukit-bukit Jayapura yang dipenuhi lampu pemukiman warga tampak sangat indah apa lagi terlihat juga air laut di bawahnya. Aku dan kawan-kawan satu tim cukup lama mengobrol dengan keluarganya Sisca. Menurutku mereka adalah orang-orang asli Papua yang baik dan berjiwa sosial tinggi. Kupikir tdak bisa digeneralisasi juga bagaimana orang-orang Papua. Yang pasti, setelah kulihat memang faktor pendidikan banyak memengaruhi sikap dan perilaku orang Papua. Kupikir keluarganya Sisca tidak merokok dan minum minuman keras karena faktor pendidikan juga. Jadi, untuk membangun orang-orang Papua kukira harus berangkat dari pendidikan, tentu tidak hanya pendidikan sekolah tetapi justru lebih dini yaitu pendidikan sejak dari keluarga.



21 Juli 2016

Aku pergi menonton film Rudi Habibie di Mal Jayapura karena kapan lagi kalau di desa bisa menonton bersama seperti ini. Filmnya diperankan oleh Reza Rahadian dan Chelsea Islan, sangat berkarakter dan bagus. Film ini kembali mengingatkan semangatku untuk lanjut kuliah lagi. Pengalaman unik menonton di bioskop Jayapura hari ini adalah sempat mati lampu dua kali di tengah-tengah berputarnya film. Walaupun film berlanjut lagi, tapi penonton sempat kecewa.

Aku hampir saja putus asa karena barang belanjaan termasuk HP androidku tertinggal di mobil angkot. Beruntung mobil angkot masih bisa kudapati dengan sepeda motor milik keluarga tempat tinggalku, meskipun masih mati lampu.

Malam ini malam yang asyik. Aku dan kawan-kawan diajak oleh keluarga iparnya Sisca yang orang Jayapura makan malam (lagi) dengan menu Papeda di rumahnya. Kemudian kami diajak Kak Petrus naik ke tempat yang lebih tinggi lagi untuk melihat lampu-lampu seluas kota jayapura, gunung, lembah, dan pelabuhannya. Indah!


22 Juli 2016

Setelah kemarin gagal, pagi ini aku dan Diza mencoba lagi ke Grapari untuk mengubah kartu Telkomsel menjadi tipe 4G. Akhirnya kami berhasil setelah menunggu satu setengah jam.

Sore hari aku, Aki, Eki, dan Diza jalan-jalan ke Pantai Hamadi. Kasian, pantainya kotor sekali. Kami sempat foto-foto kreatif lalu pulang.

Malam hari, Kak Petrus datang ke tempat kami tinggal mengantarkan jaketku yang 
tertinggal kemarin. Kami sempat mengobrol banyak tentang lokasi penempatan. Ia banyak mengingatkan untuk selalu waspada terhadap malaria, OPM, masyarakat, adat, budaya, dan penculikan.



23 Juli 2016

Kak Ajun, saudaranya Arya malam hari mengajak kami ke pinggiran pantai Kupang (Kursi panjang), tempat orang-orang Jayapura nongkrong. Pemandangan lampu-lampu rumah yang berada di dataran rendah dan bukit-bukit sekitar Jayapura terlihat sangat indah.



24 Juli 2016

Hari ini kami satu tim diantar kak Jun dan temannya ke kabupaten Keerom. Aku dan beberapa cowok naik di bak mobil pick up yang juga mengangkut barang-barang bawaan satu tim. Perjalanan Jayapura - Keerom ditempuh dalam waktu dua jam melintasi beberapa kampung, bukit yang menghadap laut, dan tentu hutan di mana-mana.



25 Juli 2016

Pergerakan selanjutnya adalah perizinan ke Distamben Kabupaten. Ternyata ada konflik internal di Distamben kabupaten. Salah satu pegawainya bercerita bahwa konflik tersebut berkaitan dengan terpilihnya bupati baru, ambisi baru, politik daerah. Tim Papua hanya mengikuti alur saja supaya tidak tergiring masuk ke dalam perpolitikan tersebut.

Di Distamben kabupaten kami bertemu dengan kepala dinas dan para pejabatnya. Setelah bercerita banyak dan saling berkenalan, aku baru menyadari bahwa tak seorang pun dari pejabat Distamben tersebut merupakan suku asli Papua. Kebanyakan dari mereka adalah suku asli Sulawesi.

Aku bersyukur mereka cukup peduli pada kehadiran kami. Kami disediakan angkutan ke desa dan siap difasilitasi untuk dikenalkan kepada kepala kampung penempatan kami masing-masing. Namun, mirip dengan cerita-cerita seperti sebelumnya merek pun banyak sekali menceritakan rawannya masyarakat suku asli Papua. Aku tidak mau langsung percaya pada mereka. Aku sendiri tidak bisa menyalahkan pandangan mereka terhadap masyarakat Papua.

Malam hari aku ceritakan pada Anggun bahwa mungkin benar mereka para pegawai Distamben punya banyak pengalaman survey ke segala penjuru Papua, tetapi selama tidak live in dalam waktu yang lama pemahaman terhadap keinginan atau kebutuhan masyarakat suku asli Papua pun kupikir masih parsial. Maka dari itu, kupikir aku dan teman-teman punya kesempatan besar dengan live in selama satu tahun bersama warga untuk mengerti secara betul kebutuhan dan keinginan warga Papua. Yuk berjuang kawan-kawan!



27 Juli 2016

Hari ini, 6 orang dari tim diberangkatkan ke tiga desa. Mereka adalah Arya & Anggun (desa Ampas), Upi & Septi (desa Kalifam), Diza & Nana (desa Skofro). Agak tegang dan terharu melihat mereka dinaikkan ke atas mobil 4WD dengan separo bak terbuka. Besok adalah giliranku.



28 Juli 2016

Pagi menjelang siang ini perjalananku dan Ria, partner satu desaku berangkat dari Arso ke Desa Banda. Perjalanan ditempuh dengan mobil 4 WD, kecepatan maksimal kecuali di jalan-jalan dan jembatan rusak. Sepanjang perjalanan, tampak beberapa waktu pemandangan sawit, sisanya adalah hutan lebat yang rapat membentang di gunung dan lembah-lembah. Cuaca drastis berubah tak menentu. Perjalanan dua jam mengalami cuaca panas, mendung, gerimis, sampai hujan deras. Keadaan medan dan alam ini lebih berat daripada yang pernah kurasakan saat menempuh perjalanan Malinau - Sebuku di Kaltara.

Tiba di desa Banda, aku hanya banyak-banyak mengucapkan syukur. Alamnya sejuk, warga kampungnya adalah suku Papua asli yang ramah pula, desanya tertata rapi, dan pembangunan PLTS ternyata sudah 70%. Aku dan Ria dititipkan oleh Pak Daniel, kepala bidang Kelistrikan Distamben Keerom kepada pengurus puskesmas untuk tinggal di rumah pegawai puskesmas yang ada di desa Banda. Aku tinggal satu rumah dengan Heri, salah satu perawat di puskesmas, keturunan Batak tapi sejak lahir tinggal di Arso. Ria tinggal satu rumah dengan Kak Fero.

Sinyal sangat minim di sini. Sinyal telkomsel hanya ada ketika HP ditempelkan ke jendela tertentu. Aku terkejut sekali saat sekonyong-konyong ada dua orang datang menyambut HP mereka yang ditempel ramai-ramai di jendela. Ternyata, mereka adalah tim Nusantara Sehat. Betapa dunia ini masih hanya sedaun kelor. Ada lima orang dari Nusantara Sehat di sini, yaitu Aim (Buton), Wulan (Riau), Emarsu (Medan), Leksi (Kupang), dan satu lagi wanita yang masih di kampung halamannya, Makassar.


29 Juli 2016

Pagi hari aku ikut nimbrung bersama tiga orang warga Banda  suku asli Papua di halaman Puskesmas. Kuperkenalkan diri dan tujuanku ditempatkan selama satu tahun di desa ini. Mereka termasuk orang yang cukup berwawasan sehingga tanpa kumulai mereka sudah menceritakan bagaimana pentingnya pemeliharaan PLTS dan resiko-resikonya. Aku cukup senang pagi itu. Sambil mengunyah pinang, mereka bercerita cukup panjang tentang pengalaman bantuan-bantuan pemerintah yang pernah ada. Mereka sangat bersyukur ada pendampingan Patriot Energi yang bertugas membantu masyarakat memelihara PLTS.

Agak siang, aku dan Ria pergi menemui Pak Jonni May, kepala kampung Banda. Aku cukup senang bahwa Pak Jonni menerima kedatangan kami dengan senang hati. Dia pun bersyukur bahwa ada pendampingan untuk masyarakat tentang PLTS. Sekitar 1 jam kami mengobrol. Dia berkeinginan agar masyarakatnya terus berkembang dengan ilmu pengetahuan dan wawasan dari luar. Dia juga bercerita bahwa banyak warga Papua New Guinea (PNG) yang sering masuk ke Banda dan bahkan sebagian dari mereka sudah menjadi warga kampung Banda.

Kampung di PNG yang berbatasan dengan kampung Banda bernama kampung Boda. Berdasarkan pengakuan Pak Jonny May, warga di Boda sangat kurang diperhatikan oleh pemerintahnya. Maka dari itu banyak dari mereka pergi ke Indonesia. Selain karena masih satu suku juga dengan warga kampung Banda, banyak dari mereka juga yang bekerja di Keerom, mencari pengobatan di Puskesmas kampung Banda, dan pemenuhan kebutuhan lainnya.

Siang hari, setelah selesai sholat Jumat yang hanya dihadiri sekitar 10 orang, aku mampir 
di pos Kopassus. Ternyata banyak dari mereka yang dinasnya berlokasi di Taman (Gatot Subroto) Serang. Aku berkenalan dengan beberapa anggotanya, yaitu Bang Wira (Danpos), Jaya, Salam, serta Ali dan Jefri yang kemarin main kartu bersama teman-teman Nusantara Sehat. Aku bersyukur bisa cepat akrab dengan mereka. Mereka juga baik, menawariku agar sering-sering main ke pos, bisa charge hp dan nonton tv karena mereka punya beberapa modul surya, bisa juga makan kapan pun di pos karena bahan makanan berlimpah.



30 Juli 2016

Pagi hari aku diajak Bang Ali untuk jalan-jalan ke kampung Pund bersama Bang Salam. Di sana aku juga bertemu dengan Putty dan Isa. Lalu kami main ke "bukit sinyal" untuk mencari sinyal sambil memperkenalkan Putty dan Isa pada anggota pos.

Di bukit sinyal, ada semacam tempat duduk dengan atap rumbia yang nyaman untuk bersantai. Sebelum yang lain tiba, aku sempat mengobrol lama dengan Bang Salam di bukit sinyal. Lumayan kaget setelah tahu bahwa dia dulu juga santri di Pesantren Suci Gresik sejak kelas 3 MI sampai lulus Aliyah. Kami bernostalgia panjang tentang pesantren. Kebetulan aku dulu sempat tinggal di Suci selama satu minggu mengikuti lomba. Bang Salam banyak bercerita bagaimana nakalnya dia di pesantren, lulus, sampai akhirnya bisa masuk tentara dan kopassus. Kebetulan dia pernah juga ke pesantrenku, Lirboyo karena mengikuti lomba. Ah, lagi-lagi dunia terbukti sempit.

Dia bilang padaku bahwa dia menyesal dulu pernah nakal sekali. Dia khawatir karena adiknya cantik dan sedang kuliah kedokteran di daerah yang jauh dari orang tua. Orang tuanya memang asli dari Surabaya, tetapi sudah lama tinggal di Makassar. Lalu dia coba telepon adiknya supaya kami bisa mengobrol, tetapi tak terangkat. Tak lama kemudian teman-teman yang lain pun sampai.



31 Juli 2016

Hari ini aku, Ria, Heri pergi menuju patok perbatasan Papua New Guinea yang ada di kampung Paitenda bersama-sama dengan Putty, Isa, dan Bang Ali. Awalnya kami mengunjungi Putty dan Isa terlebih dulu di kampung Pund. Dengan menggunakan tiga motor, kami pergi ke pos TNI yang ada di Kalifai. Setelah mengobrol sebentar di pos, kami baru berangkat ke patok perbatasan. Sebenarnya dari kampung Pund ke patok perbatasan Paitenda bisa melalui dua jalur. Jalur yang paling dekat yaitu dengan menyeberangi sungai. Namun, salah satu motor dari kami berenam tidak memungkinkan untuk menyeberangi sungai karena jenis matic.

Dengan mengambil jalur yang jauh, perjalanan ke patok perbatasan Indonesia - PNG baik dari kampung Banda maupun Pund adalah sekitar 45 menit perjalanan. Di perbatasan, ada sebuah patok dan plang bertuliskan Anda memasuki kawasan Indonesia berbahasa Indonesia dan Inggris. Pulang dari patok perbatasan, kami menghabiskan waktu sore di pos perbatasan Kalifai, berbincang-bincang dengan para anggota Kopasus sambil makan pop mie. Hujan turun di bawah cahaya matahari sore. Mungkin ada pelangi di sebuah tempat di sini.

Hari ini adalah hari pertama aku makan pinang dengan sirih dan kapur. Pertama kali tiba di Papua, salah satu hal yang paling berkesan buatku adalah kebiasaan orang Papua makan pinang dengan sirih dan kapur. Sebagai penghargaan pada kearifan lokal dan usaha menyatu dengan adat Papua aku pun mencobanya. Rasa pinang itu sendiri pahit, sirih buah berasa khas, dan kapur memberikan sensasi panas di lidah. Awal kali merasakan makan pinang, aku masih bingung kenapa orang Papua suka mengunyah ini. Barang kali bisa kutemukan setelah kunyahan selanjut-lanjutnya.



1 Agustus 2016

Jam 09.30 aku pergi ke sekolah SD yang ada di dekat Kampung Banda. Rupanya sekolah sedang memasuki jam istirahat. Baru saja aku menginjakkan kaki di sekolah, banyak anak-anak dengan wajah cerah mendekati. Kuajak salah satu dari mereka berkenalan sebelum kuhampiri seorang ibu guru. Setelah menyalami ibu guru, aku masuk ke kantor sekolah. Di dalam kantor, aku berkenalan dan mendapat banyak informasi dari bapak guru sekolah yang juga seorang pater dan seorang guru yang bernama Hendrik.

SD ini merupakan SD swasta yang bernama SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Kenandega. Meskipun jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kampung Banda, tetapi secara administratif sekolah ini masuk ke dalam kawasan kampung Kalifam padahal berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduknya. Jumlah siswa dari kelas 1 sampai 6 di sekolah ada 260 anak yang berasal dari kampung Kalifam, Pund, Banda, dan beberapa warga Papua New Guinea. Jumlah guru yang terdaftar ada 12 orang, tetapi yang sedang aktif dan hadir hanya sejumlah 4 orang.

Dari para guru aku merasakan bahwa keadaan pendidikan di perbatasan sini sangat terbatas pula. Sekolah sangat minim dalam banyak hal, seperti tenaga pengajar, buku, bangku sekolah, listrik, dan perpustakaan. Di antara hal yang sangat kusesalkan adalah sekolah mendapat bantuan alat praktikum IPA yang menggunakan listrik sedangkan di sekolah tidak ada aliran listrik. Selain itu, sekolah diminta menerapkan kurikulum 2013, tetapi Pemda tidak memfasilitasi buku atau bahan ajarnya. Aku hanya geleng-geleng kepala.

Pak Hendrik bercerita bahwa ia tinggal di komplek rumah guru, di seberang sekolah. Ada 4 sampai 5 buah rumah di komplek, tetapi hanya ia dan istrinya yang tinggal di situ. Kondisi rumah guru itu cukup menyedihkan. Mereka hanya dibekali satu modul surya yang maksimal hanya bisa mengalirkan listrik selama 3 jam sehari. Sebagai guru, ia tidak bisa maksimal dalam menyiapkan bahan ajar. Kalau ada bahan ajar yang harus di-print, ia masih sering harus ke kota karena minimnya listrik.

Aku berencana mengajak Ria, Putty, dan Isa sekalian membantu di sekolah. Aku juga menyampaikan semoga selain membantu mengajar, kami juga bisa membantu bersama-sama para guru membuat proposal pengajuan bantuan buku dan fasilitas sekolah. Pak Hendrik bilang kalau aku mirip dengan salah satu guru bantuan dari Pertamina Foundation pada tahun 2014, katanya orangnya mudah akrab. Apapun itu, semoga semuanya dimudahkan. Amin.

Sore hari Putty dan Isa datang ke kampung Banda diantar mobil pak dokter Roni yang kebetulan sedang berkunjung ke pustu-pustu. Sebelumnya memang Putty juga sms aku, dengan bahasa "makasih mas Soni yang menawan", kalau dia mau ke Banda tapi tak ada kendaraan. Kalau aku ada kendaraan, Bang Ali dari pos juga siap menjemput. Sayang aku tertidur lama siang sampai sore dan baru tahu sms itu sebelum maghrib. Syukurlah kebetulan pak dokter Roni sedang berkunjung ke Banda dan Pund jadi mereka bisa nebeng. Setelah mereka tiba di puskesmas, aku ceritakan pada Ria, Putty, dan Isa bagaimana kondisi sekolah di dekat Banda. Besok lusa kami berencana ke sana.
Malam ini langit Banda sama seperti malam sebelumnya. Bintang-bintang tumpah ruah. Aku duduk di teras, menikmati pemandangan ini. Seperti melihat galaksi ruang angkasa yang terlihat gamblang di depan mata, satu per satu bintang jatuh. Mungkin 5, mungkin 10 bintang itu kusaksikan luruh, ada yang perlahan ada yang cepat. Meskipun kunikmati ini semua sendirian, tetapi di setiap bintang yang berkorban itu kupanjatkan doa. Dan muncullah bayangan-bayangan mereka yang pernah dalam suka dan duka mengisi hidupku.



2 Agustus 2016

Hari ini aku berkunjung ke PLTS bersama Ria, Putty, dan Isa. Sayang, ketua tim kontraktor bernama Yanto belum juga kembali dari kota Jayapura. Kabarnya ia sedang menyambut kedatangan bos kontraktor yang baru tiba di Papua kemarin. Di lokasi PLTS aku berkenalan dengan pekerja kontraktor bernama Ridwan dan beberapa warga lokal yang bekerja, yaitu Yopi, Feliks, dan satu orang lagi yang terlupa namanya.

Setelah berbincang-bincang, kudapati bahwa Yopi adalah salah satu warga lokal yang sudah terbuka wawasannya. Ia adalah perkerja bangunan yang juga pemilik asal lahan PLTS berdiri. Ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting untuk kemajuan warga desa. Uang mungkin akan habis, tetapi ilmu akan membantu kapan pun dan terbawa terus seumur hidup. Ia juga merelakan lahannya untuk digunakan sebagai PLTS demi desanya. Aku senang sudah mendapakan salah satu orang yang bisa dijadikan kandidat pengurus PLTS.

Saat perjalanan pulang dari PLTS, aku dan teman-teman seperti biasa menyapa warga sekitar. Namun, ada yang cukup aneh saat kami menyapa seorang warga lalu ia mengikuti kami. Aku mulai curiga kalau dia bukan orang yang normal karena saat kutanyai jawabannya tak jelas. Ia mengikuti kami bahkan sampai tiba di rumah puskesmas. Saat aku masuk ke dalam puskesmas yang kebetulan sedang ramai oleh pegawai, mereka mengatakan kalau dia adalah orang gila. Mereka menambahkan kalau kegilaannya disebabkan oleh seringnya menghisap ganja. Distrik Waris memang cukup terkenal dengan ladang ganjanya. Ladang tersebut susah dikenali karena katanya banyak terhampar di tengah-tengah hutan wilayah perbatasan Indonesia - PNG. Sebagai akibat dari ganja tersebut, banyak warga yang kehilangan akal warasnya. Seperti orang ini yang ternyata bernama Beni, ia mengalami gangguan jiwa. Maka ia tak pergi-pergi dari pintu rumah kami sampai salah seorang angggota NS (Nusantara Sehat) memberikan jeruk dan menyuruhnya pergi. Aku merasa iba melihatnya, seorang manusia utuh, berpakaian tak jauh berbeda dengan warga lainnya meskipun tak beralas kaki, tetapi punya gangguan kejiwaan. Teman-teman puskesmas bilang kalau orang gila di sini disebabkan oleh konsumsi ganja. Distrik Waris memang terkenal dengan ladang ganja.



3 Agustus 2016

Hari ini aku membawa Ria, Putty, dan Isa berkunjung ke SD YPPK Kenandega. Kami disambut oleh kepala sekolah, bapak Emanue Sain yang juga seorang Pastur asal NTT. Kami memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dan tujuan kami berkunjung. Aku mengulangi beberapa hal yang kemarin sempat kusampaikan pada Pak Hendrik saat kepala sekolah masih di Jayapura.

Pak Eman menyambut baik maksud kami. Ia menyampaikan banyak hal terkait kondisi sekolah, siswa, dan keadaan minim lainnya yang menghambat pendidikan SD di sini. Ia sempat mengatakan juga beberapa hal yang sama seperti pak Hendrik katakan kemarin. Ia menambahkan bahwa keadaan siswa di sini sangat memprihatinkan.

Kemarin memang aku sudah tahu bahwa siswa yang sekolah di SD ini berasal dari kampung Banda, Kalifam, dan Pund. Namun aku baru tahu dari Pak Eman bahwa perjuangan yang dilakukan anak-anak untuk tiba di sekolah tidaklah mudah, apa lagi yang berasal dari kampung yang jauh. Anak-anak dari Pund harus menempuh jalur sungai dengan berjalan kaki. Tidak jarang juga anak-anak tiba di sekolah dengan pakaian yang basah. Mereka harus melepas pakaian dan menjemurnya di sekolah supaya tidak kedinginan. Kalau malam hari hujan deras turun, mereka tidak bisa melalui sungai pagi harinya. Arus sungai setelah hujan akan menjadi sangat deras dan berbahaya. Sering pula hujan menjadi alasan sebagian anak tidak berangkat sekolah, meskipun ada beberapa anak yang semangat sekolah tak menjadikannya alasan. Sempat aku bertanya pada Pak Eman mengapa tidak diusulkan sarana transportasi untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Ia sendiri belum terpikirkan ke arah sana. Terlebih lagi, dengan proposal kebutuhan mendesak seperti kebutuhan guru dan buku saja tidak ada tanggapan dari Pemda apa lagi mobil sekolah.



4 Agustus 2016

Seperti kemarin, pagi ini aku masak air untuk kopi dan masak nasi goreng. Tapi ada yang spesial hari ini. Aku rasa nasi goreng kornet pagi ini adalah masakan terbaik yang pernah kubuat selama ini. Ria sampai-sampai minta resepnya padaku setelah lahap menghabiskan satu piring padahal dia juga sudah masak di rumahnya. Aku bilang bahwa resepnya biasa saja, hehe.

Menjelang siang, aku dan Ria berkunjung lagi ke rumah bapak kepala kampung, Pak Joni May. Sebelumnya kami sempat berjalan sampai ujung jalan kampung yang berbatasan dengan PNG dan mengobrol dengan warga kampung. Jadi, berdasarkan cerita mereka warga di distrik Waris masih satu suku dengan warga PNG yang berbatasan dengan Indonesia, yaitu suku Walsa. Suku Walsa terdiri dari banyak marga, di antaranya adalah May, Ibe, Meho, Mou, dan Tuwo yang tersebar di Waris dan PNG perbatasan.

Setelah bertemu dengan pak Joni May, aku baru sadar kalau kami datang tidak pada waktu yang tepat. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIT siang pada saat kami dipersilakan masuk ke rumahnya. Aku lihat pak Joni tidak sesemangat seperti kemarin. Ia bahkan sempat menguap. Sepertinya kami mengganggu jam istirahatnya. Lain kali kami akan datang sore hari saja.

Malam harinya aku, Wulan, Leksi, Heri, dan Meki (pacarnya Lina) duduk asyik main kartu bridge. Kami berkumpul dalam permainan bernama Sambung Tulang. Permainan ini menggunakan dua pack kartu bridge. Aku memelajarinya beberapa hari lalu saat beberapa anggota Kopassus main kartu bersama pegawai puskesmas. Permainan ini mengasyikkan seperti main remi, meskipun beberapa kali kupingku kena hukum jepitan jemuran. Kami main kartu dari jam 9 malam sampai jam setengah 2 pagi.




5 Agustus 2016

Hari ini adalah Jumatan kedua untukku dengan jumlah jamaah sekitar sepuluh orang, kebanyakan adalah anggota pos TNI dan Kopassus. Pagi hari malas rasanya untuk memasak. Aku sarapan kopi instan dan biskuit saja pagi ini. Beruntung mas Ruli masak nasi dan mie campur telur. Tinggal kutaburi abon sapi, lumayan lengkap sudah makan siangku. Sore hari ini aku jogging lagi. Aku agak ngeri melihat Lina, salah satu suster puskesmas yang sedang kena malaria Tersiana mix Tropica. Malam harinya ia padahal masih bercanda dengan kami di teras rumah. Sepertinya olahragaku harus rutin benar.



6 Agustus 2016

Beberapa hari ini asupan sayurku kurang karena stok sudah habis. Hari ini adalah hari Sabtu, salah satu hari jadwal adanya pasar sayur selain Senin dan Rabu. Seharusnya setelah sholat subuh aku langsung pergi ke pasar karena jam 5.30 saja biasanya jualan sudah habis. Tapi apa daya, hujan turun deras benar dan aku lebih memilih kembali ke kasur. Aku bangun lagi jam setengah 7 pagi setelah Wulan berisik di rumah. Kulihat hujan mulai reda, meskipun langit masih mendung gelap dan cuaca dingin sekali. Aku langsung pinjam motor Heri dan langsung menuju pasar di tikungan depan. Beruntung rasanya masih ada beberapa ikat daun singkong, pisang masak, dan ikan di pasar.



7 Agustus 2016

Saat tidur, aku masih merasakan mimpi. Seperti suara barang-barang yang dipukul keras, perlahan-lahan ia semakin mendekat. Semakin lama suaranya semakin keras dan gaduh. Dalam keadaan kaget aku terbangun, ternyata itu bukan mimpi. Kudengar ember, pintu, tempat sampah dan entah barang apa lagi yang ada di depan kamarku dihancurkan disertai suara cacian-cacian. Perasaanku jadi tidak nyaman. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIT. Kudengar teriakan-teriakan cacian dan suara gesekan parang dengan lantai teras rumah. Aku diam saja, mengawasi cemas apa yang akan dilakukannya. Heri yang tidur satu kamar denganku menjauhi posisi tidurnya dari jendela. Aku pun cemas jika ia pecahkan kaca jendela. Sempat ia sebut-sebut pegawai puskesmas, TNI serta ancaman potong leher. Setengah jam lamanya ia membuat kegaduhan sampai akhirnya menghilang. Aku kembali tidur sambil berpikir, "Gila kalau orang sudah mabuk di sini. Bawaannya parang!"

Pagi hari ada hal yang tak terduga terjadi. Entah karena apa teman-teman Nusantara Sehat tidak seakrab biasanya. Aku pergi ke tempat mereka di rumah belakang. Mereka baru bilang kalau mereka merasa tersinggung sekali karena tadi pagi Putty dan Ria tertawa cekikikan di dapur mereka. Mereka kira kami menertawakan teman-teman NS yang tadi malam dijelek-jelekkan oleh si pemabuk. Aku langsung meminta maaf pada mereka dan akan bilang pada Putty dan Ria, meskipun aku kenal betul Putty dan Ria tidak mungkin sejahat itu.

Aku bertemu Putty dan Ria di rumah mereka, dua rumah di sebelah rumah tempatku tinggal. Benar seperti dugaanku, mereka bukan bermaksud menertawakan teman-teman NS. Mereka tertawa karena bercanda untuk melepas ketegangan setelah peristiwa semalam. Mereka jujur sangat ketakutan karena berkali-kali jendela dan pintu rumah mereka diteror oleh si pemabuk. Aku menjadi kasihan juga pada mereka. Aku kembali lagi kepada teman-teman NS dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Teman-teman NS pun bisa mengerti.

Ada dua hal dari peristiwa ini yang menjadi pembelajaranku pribadi. Pertama, aku masih kurang peka untuk mengerti kondisi psikologis orang yang sedang down karena peristiwa tak terduga. Kedua, aku masih lemah dan belum bisa berpikir secara jernih betul saat dalam keadaan terteror, meskipun memang dalam menghadapi orang mabuk yang membawa parang lebih baik menghindar.



8 Agustus 2016

Siang ini, paman (Pak Mantri) Robi, yang kemarin mabuk, datang ke teras rumah tempatku tinggal dan mengobrol denganku, Heri, dan dua orang mantri lain. Dia mengatakan kenapa bisa membuat kegaduhan dan berkata bahwa TNI tidak bisa seenaknya masuk ke area puskesmas pada malam hari. Dia bilang itu semua karena ada masyarakat yang mengadu padanya. Masyarakat merasa tidak etis bila TNI masuk area puskesmas malam hari, main ke rumah-rumah dinas suster puskesmas. Aku hanya mendengarkan penjelasannya. Obrolan itu berlangsung sambil minum teh, tanpa ada emosi dan kengerian seperti saat dia mabuk.

Menjelang siang hari, tim Patriot Banda dan Pund berangkat ke kampung Kalimo untuk memberi tahu Eka dan Dimas bahwa kita akan turun ke kota pada tanggal 10. Rencana awal, kami akan tanggal 14 untuk menyusun dan mengirim laporan. Namun, karena tanggal 17 Agustus kami harus menjadi panitia di acara HUT Kemerdekaan maka kami merencanakan turun lebih awal.

Ibu, Sosok yang Melintasi Batas Manusia (2)

Mencoba merefleksikan –


1 Juli 2016

Saat tulisan ini kubuat, ritual doa untuk 100 hari meninggalnya ibu baru saja selesai seminggu lalu. Aku memang tidak bisa hadir secara fisik pada peringatan tersebut, tapi doa untuknya terpanjat setiap lima waktu. Tak kusangka sebelumnya bahwa tulisan ini akan kubuat di Pusdiklat EBTKE, tempat terakhir aku berpamitan pada almarhumah ibu tahun lalu sebelum akhirnya tanpa bertemu dengannya lagi langsung berangkat ke Kalimantan. Kali ini, aku bahkan akan pergi meninggalkan rumah untuk tempat yang lebih jauh dan lebih lama: Papua untuk satu tahun. Mengapa? Semoga tulisan ini bisa menjawabnya.

Selama seratus hari lebih setelah ibu meninggal aku banyak menemukan hal baru. Aku merasa ada sesuatu yang menggumpal dalam pikiran dan jiwaku yang semakin lama semakin menguat, sebuah kesimpulan atas kehidupan yang fana dan sifatnya sementara, sebuah skenario yang telah ditulis dan diarahkan menuju hal-hal yang berkaitan. Hasil refleksi itu “mendatangiku” tanpa kurencanakan dari pengalaman pribadi, juga dari buku-buku yang “menemukanku”.

Beberapa hari yang lalu Osa memintaku untuk mengumpulkan catatan harian sewaktu di lokasi penempatan karena diminta oleh ESDM. Kucari file catatan harian di Kalimantan, meskipun tidak utuh bisa kukirimkan juga sekadarnya. Permintaan catatan harian itu membuatku ingin membaca kembali apa yang pernah kualami selama di Kalimantan. Ternyata secara mengejutkan, ada peristiwa yang menyadarkanku bahwa tanda-tanda meninggalnya ibu telah tampak sebelum kabar duka tiba.


Di dalam Islam, begitu juga ajaran spiritual kultural Jawa, peristiwa meninggalnya seseorang akan didahului dengan adanya tanda-tanda sekitar tujuh hari sebelum nyawa dicabut. Catatan harianku di atas bertanggalkan 7 Maret 2016, sedangkan ibu meninggal tanggal 13 Maret 2016 malam. Setelah kurenungkan, mungkin itulah cara Tuhan menyampaikan salam pamitan ibu untukku. Dia menyampaikan salam melalui seekor burung yang perkasa, yang suaranya sanggup membuat burung-burung lain berhenti berkicau agar salam itu benar-benar sampai padaku. Di tengah suasana obrolan sore yang entah kapan bisa lagi terulang bersama bapak angkatku di Kalimantan itu, aku saat ini baru bisa mengilhami bahwa suasana hati kami sebenarnya juga murung. Kami murung mendengar suara sasmita burung Kangkatau, murung bahwa kami suatu hari nanti akan mengenang suasana sore itu, juga Tuhan mungkin menyelipkan kemurungan salam pamit dari ibu yang belum kusadari.

Meskipun tak terlihat, aku masih bersedih. Apa lagi ingatan-ingatan bulan puasa seperti ini adalah bulan yang paling dirindukan. Biasanya ibu akan bangun lebih awal, menyiapkan hidangan sahur untuk keluarga, bersama bapak membangunkan anak-anaknya, lebih giat menyuruh anak-anaknya untuk sholat berjamaah ke masjid, sholat taraweh, menyiapkan kolak pisang dari pohon yang bapak tanam sendiri di kebun belakang rumah, dan pada saat senja tiba tidak ada kebahagiaan yang lebih bernilai daripada duduk bersama-sama sekeluarga di hadapan hidangan sambil menantikan maghrib.

Aku tahu itu cuma kenangan. Pernah kubilang sebelumnya bahwa “hari esok tidak akan lagi sama untukku”. Ya, hari ini tidak sama lagi. Bukan hanya aku yang terpukul, tapi bisa kurasakan bapak dan adik-adikku juga. Inilah pertama kalinya, aku belajar sahur, buka puasa, dan melakukan rutinitas lainnya di bulan Ramadhan tanpa ditemani ibu. Aku, bapak, saudara-saudariku belajar untuk pertama kalinya untuk banyak hal tanpa almarhumah.
“Belajar” ini adalah hasil refleksi yang paling utama untukku dari meninggalnya ibu. Aku belajar lebih mandiri, mengingat dan menaati perintah-perintah ibu ketika hidup, dan dalam beberapa kesempatan melakukan hal-hal yang biasa ibu lakukan di rumah. Semuanya itu merupakan hal baru yang membuatku menjadi pribadi yang lebih mandiri lagi.

Perlahan tapi pasti, ternyata ketiadaan ibu membuatku merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan. Aku merasakan bahwa orang sedekat ibu bisa dengan tanpa disangka diambil kehidupannya begitu saja. Namun ketika aku juga menemukan kehidupan dan kematian seseorang saat di Kalimantan, aku menjadi semakin yakin bahwa di mana pun, kehidupan dan kematian terjadi. Ada yang hidup di tengah keadaan yang berlimpah, berkecukupan, atau kekurangan. Ada yang meninggal dalam keadaan naas, tenang, atau penasaran.

Di belahan bumi mana pun, itu semua bisa terjadi. Selanjutnya, seperti telah Tuhan rencanakan buku-buku tentang kehidupan pun menemukanku. Buku-buku karangan Cak Nun, Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, dan Pram menguatkan ilham itu, ilham bukankah kita tidak pernah meminta untuk hidup? Lalu hidup begitu saja diberikan. Maka, sewaktu-waktu hidup itu diambil sebenarnya kita tidak punya hak apa pun untuk menuntutnya. Kita hanya bisa berterima kasih bahwa kita diberi kesempatan mengecap indahnya kehidupan, bisa belajar tentang banyak hal, bisa mengenal keluarga tempat kita dititipkan, sahabat, teman, sosok-sosok manusia yang agung, dan semua kesempatan yang pernah didapatkan. 
Begitu pun dengan kehidupan ibu. Aku dan saudara-saudaraku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan bahwa kami lahir dari rahimnya, bapak berterima kasih karena disandingkan dengan sosok wanita yang amat sangat penyabar, tak pernah menuntut apa pun kecuali kebahagiaan dan keberhasilan anak-anaknya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau telah berikan kami kesempatan berada di antara manusia agung seperti dia semasa hidup.

Aku masih ingat betul dulu ibu pernah berkata, “Semoga kelak kamu jadi manusia yang berguna buat bangsa, negara, dan agama.” Di kesempatan lain ibu pernah juga bilang, ”Laki-laki itu jauh lengkah. Jangan pikirkan wanita dulu. Artinya, laki-laki itu langkahnya jauh, kejar dulu cita-cita, jangan terburu-buru untuk menikah. Ketika aku berpamitan untuk pergi ke Kalimantan, ibu pun mendukungku. Aku cukup bersyukur bahwa aku ditinggalkan ibu dalam keadaan diridhainya. Di akhir pertemuan kami, di tepi jalan raya saat menunggu bis yang akan mengantarkanku ke Ciracas bulan September tahun 2015, aku masih ingat betul ibu memelukku sambil mengucurkan air mata haru bahagia bahwa anaknya bisa terus belajar, berkenalan dengan banyak orang, dan mencari pengalaman hidup. Aku hanya bisa terdiam sambil mengusap-usap punggungnya.

Kalimantan mengajarkanku banyak hal: ketulusan manusia, kebersamaan, kesederhanaan, kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, perpisahan, merasa bersyukur, dan banyak lagi. Banyak sekali dari mereka yang tidak bisa merasakan fasilitas-fasilitas yang memadai. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang pedalaman begitu sejak lahir. Sedih rasanya saat menyebutkan doraemon kepada anak-anak dan tidak ada yang mengenalnya. Perasaan ini semakin mengharukan ketika mereka dalam keadaan serba terbatas tersebut memiliki ketulusan hati. Mereka tidak mengenal aku sebelumnya. Aku bukan teman, saudara, apa lagi keluarga buat mereka. Namun, ketika aku membutuhkan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kehidupan sosial mereka dengan tulus memberikan apa yang mereka miliki: makanan, tempat tinggal, waktu, tenaga, dan pikiran. 

Aku tidak butuh alasan lebih lagi untuk mencintai mereka. Aku menemukan cinta di Kalimantan, cinta kepada keluarga, saudara setanah air, cinta kepada sesama manusia.
Maka sebenarnya, menyenangkan almarhumah ibu agar harapan terhadap anaknya tercapai menjadi alasan utamaku untuk melanjutkan jalan ini, menuju Papua, memberi dan menerima, menguatkan cinta kepada mereka sebagai saudara setanah air, sebagai sesama manusia. Ketiadaan ibu buatku menjadi pemacu tersendiri untuk lebih keras lagi terhadap diri sendiri dan dunia ini. Barang kali Kalimantan atau Papua memiliki rintangan, itu lah resiko yang akan dan harus kuhadapi untuk menggapai menjadi manusia seperi yang ibu doakan.

Dalam alasan lain, aku pernah menjawab pertanyaan seseorang. “Kenapa kamu ikut program ke Papua ini?” katanya di sebuah rumah antik. Aku cuma menjawab, “Jalan-jalan dan mencari.” Aku tahu, banyak teman-teman yang lebih berhasil daripada aku sewaktu penempatan lokasi di Kalimantan. Aku sadar belum banyak aksi yang kuperbuat dalam konteks pemberdayaan masyarakat banyak. Namun, di luar itu ada hal-hal yang aku yakin sulit untuk diukur mengenai pengalaman dan pembelajaran pribadi selama di desa pedalaman. Pengalaman dan pembelajaran itu barang kali tidak bisa terlihat sebagai sesuatu yang kasat mata, tetapi terasa sangat mendalam buatku. Hal itu yang masih ingin kucari dan kudapatkan dengan “berjalan-jalan”, bertemu dengan orang-orang, menjalin hubungan kekeluargaan dengan mereka, menerima dan memberi, serta menemukan makna dari semua ini.

Aku masih mencari seberapa besar yang bisa kuberikan, aku berutang pada mereka yang berada di pedalaman atas semua pendidikan dan ilmu yang telah kuperoleh karena secara tak langsung ada hak mereka di diriku, maka utang itu harus kubayar. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan negara seindah Indonesia. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan. Aku masih mencari untuk apa kita saling mengenal. Aku masih mencari untuk apa hidup ini.


Tuhan telah memberikanku akal dan hati. Meninggalnya ibu bisa menjadi sebab keterpurukan atau justru kebangkitan diriku. Bekal akal dan hati telah Tuhan berikan untuk menunjukkanku bahwa aku harus bangkit. Aku ingin ibu di sana dalam keadaan terang benderang, lapang, melihatku berproses untuk menjadi manusia. Aku yakin bahwa suatu saat nanti, akan ada tempat aku dan ibu bisa berkumpul lagi. Di sana aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah lulus menjadi manusia.