Sunday, 14 August 2016

Bulan Purnama Pertama di Papua

Danau Sentani terbentang panjang dengan kesamaran awan-awan tipis dari atas pesawat. Foto oleh: Soni Mijaya


16 Juli 2016

Tadi malam aku tidak tidur setelah acara Pensi, malah nongkrong di gazebo dan mengobrol dengan Bri, Judin, Citra, dan NK yang sedang "minum". Jam setengah lima pagi aku sudah harus masukin barang-barang ke bis, sarapan, upacara sebentar, lalu berangkat ke komplek perkantoran ESDM. Kami upacara lagi bersama menteri di halaman perkantoran ESDM, kebetulan aku disuruh baca doa ketika upacara. Sempat ada wartawan dari internal ESDM juga melakukan wawancara padaku kenapa masih ingin ikut program begini.

Aku hanya punya sedikit waktu untuk memberikan kado dan mengobrol empat mata dengannya. Aku ajak dia keluar dari keramaian, kuberikan kado kenang-kenangan sebuah buku yang tadi malam sempat kusiapkan. Aku sampaikan padanya terima kasih dan apa pun yang akan terjadi 1 tahun ke depan dia tetap orang yang kukenal. Aku tidak minta tanggapan atau balasan apa pun darinya. Ia hanya bilang merasa tidak enak karena tidak bisa memberi apa pun. Aku lalu pamitan.

Aku sudah sepakat dengan Judin. Aku dan dia punya kepribadian yang mirip persis, hanya saja dia tipe extrovert sedangkan aku introvertnya. Kami sepakat bahwa apa pun yg terjadi, sebagai orang Feeling kami harus belajar menjalani apa adanya. Biar semuanya mengalir meskipun memang untuk orang feeling sebuah peristiwa akan cukup lama melekat di perasaan. Namun, aku senang kami sama-sama bersyukur karena melalui program patriot energi ini kami merasa bisa mengenal tuhan lebih dekat secara spiritual. Itu yg kutanamkan dalam diriku saat ini. Aku tidak bisa menahan perasaan, tapi apa pun hasilnya harus kurelakan. Tuhan pasti ada maksud untuk semua ini.

Pukul 23.45 WIB aku brsama 16 orang tim Papua terbang dari bandara Soetta menggunakan Batik Air menuju bandara Sentani, Papua.


17 Juli 2016

Sebelum landing di bandara Sentani Jayapura, aku kagum pada pemandangan indah alam Papua. Ada danau yang luas, laut yang indah, lembah dan pegunungan yang kokoh. Pemandangan di bandara pun seperti sangat lain karena sangat banyak suku melanesia (orang asli Papua). Aku merasa seperti berada di benua Afrika.

Aku bersama 16 patriot lainnya dijemput dua mobil menuju hotel Sabang Land milik saudaranya Eki GoPro. Kegiatan selanjutnya adalah hibernasi panjang sebagai balasan terjaga di hari kemarin.


18 Juli 2016

Pagi hari kami menyewa 2 mobil dengan harga masing-masing Rp 700.000 untuk mengurus perizinan ke dinas-dinas provinsi. Lagi dan lagi aku takjub dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Ada danau, laut, pantai, gunung, lembah, perkampungan di punggung-punggung gunung dan lembah, kukira ini seperti Rio de janero di Brazil. Lebih indah lagi saat kami melakukan perizinan di Kodam yang terletak di dataran tinggi. Alam Jayapura terbentang oleh gunung dan lembah yang berbatasan dengan laut biru. Sempat juga kupotret burung Kasuari yang dipelihara di komplek Kodam.

Aku dan kawan-kawan sempat mampir untuk minum kelapa muda di dataran tinggi bernama Skyline. Kami duduk tepat di atas bukit yang langsung menghadap laut. Syahdunya menikmati pemandangan pantai dan laut dari ketinggian sambil melepas lelah. Foto terindahku sejauh ini salah satunya dari tempat ini kupikir.

Kami pulang malam hari. Makan malam di warung pinggir jalan, aku menyesal memesan ikan mujair yang ternyata harganya Rp 70.000. Kalau saja aku tahu harganya tak sebanding dengan menunya, aku pesan ayam goreng saja yang harganya setengah lebih hemat. Sebelum tidur, kami sempat membicarakan rencana kegiatan esok hari.


19 Juli 2016

Hari ini aku dan teman-teman masih melanjutkan proses perizinan. Kami kembali lagi ke Dinas ESDM Provinsi untuk menemui Kadis. Karena beliau sakit, kami cukup bertemu dengan beberapa orang perwakilannya.

Sepanjang perjalanan, aku baru menyadari bahwa banyak orang-orang berkendaraan mewah tetapi bukan orang Papua asli. Benar berita yang pernah kudengar dulu bahwa orang Papua asli paling tinggi menjadi PNS sedangkan kebanyakannya adalah miskin. Sepanjang jalan membentang, banyak kutemukan para pedagang buah pinang dengan meja kumuh di pinggir jalan. Mereka semua adalah orang Papua asli.

Betapa sedihnya menyaksikan kenyataan ini secara langsung. Orang-orang pendatang berlalu lalang dengan kendaraan mewah dan pakaian bagus, sedangkan banyak orang Papua asli berpakaian lusuh, kadang tak memakai sandal, berjalan kaki di pinggiran jalan yang terik atau berjualan buah pinang yang sepi pembeli.
Di tengah alam yang memesona, orang-orang asli Papua masih termarjinalkan.


20 Juli 2016

Pagi hari kami moving sekaligus pindah tempat tinggal ke rumah saudaranya Arya di Hamadi, Jayapura. Aku sempat mengobrol dengan supir angkot yang disewa. Dia berasal dari Jawa Tengah. Menurutnya, hidup di Papua ini harus hati-hati karena orang Papua asli sering bikin ulah. Dia sudah beberapa kali ditipu dan tidak dibayar oleh orang Papua yang menyewa mobil angkotnya. Namun, meskipun demikian ia mengatakan bahwa orang-orang Papua adalah orang bodoh. Aku hanya mendengarkan, tidak untuk setuju atau tak setuju dengannya. Yang kuamati pasti adalah ia sendiri masih mendiskriminasikan fisik orang Papua asli.

Malam hari, baru aku bisa lebih mengenal keluarga orang Papua asli. Mertua kakaknya Sisca mengajak kami makan malam di Hamadi Atas/Gunung. Di sana, pemandangan bukit-bukit Jayapura yang dipenuhi lampu pemukiman warga tampak sangat indah apa lagi terlihat juga air laut di bawahnya. Aku dan kawan-kawan satu tim cukup lama mengobrol dengan keluarganya Sisca. Menurutku mereka adalah orang-orang asli Papua yang baik dan berjiwa sosial tinggi. Kupikir tdak bisa digeneralisasi juga bagaimana orang-orang Papua. Yang pasti, setelah kulihat memang faktor pendidikan banyak memengaruhi sikap dan perilaku orang Papua. Kupikir keluarganya Sisca tidak merokok dan minum minuman keras karena faktor pendidikan juga. Jadi, untuk membangun orang-orang Papua kukira harus berangkat dari pendidikan, tentu tidak hanya pendidikan sekolah tetapi justru lebih dini yaitu pendidikan sejak dari keluarga.



21 Juli 2016

Aku pergi menonton film Rudi Habibie di Mal Jayapura karena kapan lagi kalau di desa bisa menonton bersama seperti ini. Filmnya diperankan oleh Reza Rahadian dan Chelsea Islan, sangat berkarakter dan bagus. Film ini kembali mengingatkan semangatku untuk lanjut kuliah lagi. Pengalaman unik menonton di bioskop Jayapura hari ini adalah sempat mati lampu dua kali di tengah-tengah berputarnya film. Walaupun film berlanjut lagi, tapi penonton sempat kecewa.

Aku hampir saja putus asa karena barang belanjaan termasuk HP androidku tertinggal di mobil angkot. Beruntung mobil angkot masih bisa kudapati dengan sepeda motor milik keluarga tempat tinggalku, meskipun masih mati lampu.

Malam ini malam yang asyik. Aku dan kawan-kawan diajak oleh keluarga iparnya Sisca yang orang Jayapura makan malam (lagi) dengan menu Papeda di rumahnya. Kemudian kami diajak Kak Petrus naik ke tempat yang lebih tinggi lagi untuk melihat lampu-lampu seluas kota jayapura, gunung, lembah, dan pelabuhannya. Indah!


22 Juli 2016

Setelah kemarin gagal, pagi ini aku dan Diza mencoba lagi ke Grapari untuk mengubah kartu Telkomsel menjadi tipe 4G. Akhirnya kami berhasil setelah menunggu satu setengah jam.

Sore hari aku, Aki, Eki, dan Diza jalan-jalan ke Pantai Hamadi. Kasian, pantainya kotor sekali. Kami sempat foto-foto kreatif lalu pulang.

Malam hari, Kak Petrus datang ke tempat kami tinggal mengantarkan jaketku yang 
tertinggal kemarin. Kami sempat mengobrol banyak tentang lokasi penempatan. Ia banyak mengingatkan untuk selalu waspada terhadap malaria, OPM, masyarakat, adat, budaya, dan penculikan.



23 Juli 2016

Kak Ajun, saudaranya Arya malam hari mengajak kami ke pinggiran pantai Kupang (Kursi panjang), tempat orang-orang Jayapura nongkrong. Pemandangan lampu-lampu rumah yang berada di dataran rendah dan bukit-bukit sekitar Jayapura terlihat sangat indah.



24 Juli 2016

Hari ini kami satu tim diantar kak Jun dan temannya ke kabupaten Keerom. Aku dan beberapa cowok naik di bak mobil pick up yang juga mengangkut barang-barang bawaan satu tim. Perjalanan Jayapura - Keerom ditempuh dalam waktu dua jam melintasi beberapa kampung, bukit yang menghadap laut, dan tentu hutan di mana-mana.



25 Juli 2016

Pergerakan selanjutnya adalah perizinan ke Distamben Kabupaten. Ternyata ada konflik internal di Distamben kabupaten. Salah satu pegawainya bercerita bahwa konflik tersebut berkaitan dengan terpilihnya bupati baru, ambisi baru, politik daerah. Tim Papua hanya mengikuti alur saja supaya tidak tergiring masuk ke dalam perpolitikan tersebut.

Di Distamben kabupaten kami bertemu dengan kepala dinas dan para pejabatnya. Setelah bercerita banyak dan saling berkenalan, aku baru menyadari bahwa tak seorang pun dari pejabat Distamben tersebut merupakan suku asli Papua. Kebanyakan dari mereka adalah suku asli Sulawesi.

Aku bersyukur mereka cukup peduli pada kehadiran kami. Kami disediakan angkutan ke desa dan siap difasilitasi untuk dikenalkan kepada kepala kampung penempatan kami masing-masing. Namun, mirip dengan cerita-cerita seperti sebelumnya merek pun banyak sekali menceritakan rawannya masyarakat suku asli Papua. Aku tidak mau langsung percaya pada mereka. Aku sendiri tidak bisa menyalahkan pandangan mereka terhadap masyarakat Papua.

Malam hari aku ceritakan pada Anggun bahwa mungkin benar mereka para pegawai Distamben punya banyak pengalaman survey ke segala penjuru Papua, tetapi selama tidak live in dalam waktu yang lama pemahaman terhadap keinginan atau kebutuhan masyarakat suku asli Papua pun kupikir masih parsial. Maka dari itu, kupikir aku dan teman-teman punya kesempatan besar dengan live in selama satu tahun bersama warga untuk mengerti secara betul kebutuhan dan keinginan warga Papua. Yuk berjuang kawan-kawan!



27 Juli 2016

Hari ini, 6 orang dari tim diberangkatkan ke tiga desa. Mereka adalah Arya & Anggun (desa Ampas), Upi & Septi (desa Kalifam), Diza & Nana (desa Skofro). Agak tegang dan terharu melihat mereka dinaikkan ke atas mobil 4WD dengan separo bak terbuka. Besok adalah giliranku.



28 Juli 2016

Pagi menjelang siang ini perjalananku dan Ria, partner satu desaku berangkat dari Arso ke Desa Banda. Perjalanan ditempuh dengan mobil 4 WD, kecepatan maksimal kecuali di jalan-jalan dan jembatan rusak. Sepanjang perjalanan, tampak beberapa waktu pemandangan sawit, sisanya adalah hutan lebat yang rapat membentang di gunung dan lembah-lembah. Cuaca drastis berubah tak menentu. Perjalanan dua jam mengalami cuaca panas, mendung, gerimis, sampai hujan deras. Keadaan medan dan alam ini lebih berat daripada yang pernah kurasakan saat menempuh perjalanan Malinau - Sebuku di Kaltara.

Tiba di desa Banda, aku hanya banyak-banyak mengucapkan syukur. Alamnya sejuk, warga kampungnya adalah suku Papua asli yang ramah pula, desanya tertata rapi, dan pembangunan PLTS ternyata sudah 70%. Aku dan Ria dititipkan oleh Pak Daniel, kepala bidang Kelistrikan Distamben Keerom kepada pengurus puskesmas untuk tinggal di rumah pegawai puskesmas yang ada di desa Banda. Aku tinggal satu rumah dengan Heri, salah satu perawat di puskesmas, keturunan Batak tapi sejak lahir tinggal di Arso. Ria tinggal satu rumah dengan Kak Fero.

Sinyal sangat minim di sini. Sinyal telkomsel hanya ada ketika HP ditempelkan ke jendela tertentu. Aku terkejut sekali saat sekonyong-konyong ada dua orang datang menyambut HP mereka yang ditempel ramai-ramai di jendela. Ternyata, mereka adalah tim Nusantara Sehat. Betapa dunia ini masih hanya sedaun kelor. Ada lima orang dari Nusantara Sehat di sini, yaitu Aim (Buton), Wulan (Riau), Emarsu (Medan), Leksi (Kupang), dan satu lagi wanita yang masih di kampung halamannya, Makassar.


29 Juli 2016

Pagi hari aku ikut nimbrung bersama tiga orang warga Banda  suku asli Papua di halaman Puskesmas. Kuperkenalkan diri dan tujuanku ditempatkan selama satu tahun di desa ini. Mereka termasuk orang yang cukup berwawasan sehingga tanpa kumulai mereka sudah menceritakan bagaimana pentingnya pemeliharaan PLTS dan resiko-resikonya. Aku cukup senang pagi itu. Sambil mengunyah pinang, mereka bercerita cukup panjang tentang pengalaman bantuan-bantuan pemerintah yang pernah ada. Mereka sangat bersyukur ada pendampingan Patriot Energi yang bertugas membantu masyarakat memelihara PLTS.

Agak siang, aku dan Ria pergi menemui Pak Jonni May, kepala kampung Banda. Aku cukup senang bahwa Pak Jonni menerima kedatangan kami dengan senang hati. Dia pun bersyukur bahwa ada pendampingan untuk masyarakat tentang PLTS. Sekitar 1 jam kami mengobrol. Dia berkeinginan agar masyarakatnya terus berkembang dengan ilmu pengetahuan dan wawasan dari luar. Dia juga bercerita bahwa banyak warga Papua New Guinea (PNG) yang sering masuk ke Banda dan bahkan sebagian dari mereka sudah menjadi warga kampung Banda.

Kampung di PNG yang berbatasan dengan kampung Banda bernama kampung Boda. Berdasarkan pengakuan Pak Jonny May, warga di Boda sangat kurang diperhatikan oleh pemerintahnya. Maka dari itu banyak dari mereka pergi ke Indonesia. Selain karena masih satu suku juga dengan warga kampung Banda, banyak dari mereka juga yang bekerja di Keerom, mencari pengobatan di Puskesmas kampung Banda, dan pemenuhan kebutuhan lainnya.

Siang hari, setelah selesai sholat Jumat yang hanya dihadiri sekitar 10 orang, aku mampir 
di pos Kopassus. Ternyata banyak dari mereka yang dinasnya berlokasi di Taman (Gatot Subroto) Serang. Aku berkenalan dengan beberapa anggotanya, yaitu Bang Wira (Danpos), Jaya, Salam, serta Ali dan Jefri yang kemarin main kartu bersama teman-teman Nusantara Sehat. Aku bersyukur bisa cepat akrab dengan mereka. Mereka juga baik, menawariku agar sering-sering main ke pos, bisa charge hp dan nonton tv karena mereka punya beberapa modul surya, bisa juga makan kapan pun di pos karena bahan makanan berlimpah.



30 Juli 2016

Pagi hari aku diajak Bang Ali untuk jalan-jalan ke kampung Pund bersama Bang Salam. Di sana aku juga bertemu dengan Putty dan Isa. Lalu kami main ke "bukit sinyal" untuk mencari sinyal sambil memperkenalkan Putty dan Isa pada anggota pos.

Di bukit sinyal, ada semacam tempat duduk dengan atap rumbia yang nyaman untuk bersantai. Sebelum yang lain tiba, aku sempat mengobrol lama dengan Bang Salam di bukit sinyal. Lumayan kaget setelah tahu bahwa dia dulu juga santri di Pesantren Suci Gresik sejak kelas 3 MI sampai lulus Aliyah. Kami bernostalgia panjang tentang pesantren. Kebetulan aku dulu sempat tinggal di Suci selama satu minggu mengikuti lomba. Bang Salam banyak bercerita bagaimana nakalnya dia di pesantren, lulus, sampai akhirnya bisa masuk tentara dan kopassus. Kebetulan dia pernah juga ke pesantrenku, Lirboyo karena mengikuti lomba. Ah, lagi-lagi dunia terbukti sempit.

Dia bilang padaku bahwa dia menyesal dulu pernah nakal sekali. Dia khawatir karena adiknya cantik dan sedang kuliah kedokteran di daerah yang jauh dari orang tua. Orang tuanya memang asli dari Surabaya, tetapi sudah lama tinggal di Makassar. Lalu dia coba telepon adiknya supaya kami bisa mengobrol, tetapi tak terangkat. Tak lama kemudian teman-teman yang lain pun sampai.



31 Juli 2016

Hari ini aku, Ria, Heri pergi menuju patok perbatasan Papua New Guinea yang ada di kampung Paitenda bersama-sama dengan Putty, Isa, dan Bang Ali. Awalnya kami mengunjungi Putty dan Isa terlebih dulu di kampung Pund. Dengan menggunakan tiga motor, kami pergi ke pos TNI yang ada di Kalifai. Setelah mengobrol sebentar di pos, kami baru berangkat ke patok perbatasan. Sebenarnya dari kampung Pund ke patok perbatasan Paitenda bisa melalui dua jalur. Jalur yang paling dekat yaitu dengan menyeberangi sungai. Namun, salah satu motor dari kami berenam tidak memungkinkan untuk menyeberangi sungai karena jenis matic.

Dengan mengambil jalur yang jauh, perjalanan ke patok perbatasan Indonesia - PNG baik dari kampung Banda maupun Pund adalah sekitar 45 menit perjalanan. Di perbatasan, ada sebuah patok dan plang bertuliskan Anda memasuki kawasan Indonesia berbahasa Indonesia dan Inggris. Pulang dari patok perbatasan, kami menghabiskan waktu sore di pos perbatasan Kalifai, berbincang-bincang dengan para anggota Kopasus sambil makan pop mie. Hujan turun di bawah cahaya matahari sore. Mungkin ada pelangi di sebuah tempat di sini.

Hari ini adalah hari pertama aku makan pinang dengan sirih dan kapur. Pertama kali tiba di Papua, salah satu hal yang paling berkesan buatku adalah kebiasaan orang Papua makan pinang dengan sirih dan kapur. Sebagai penghargaan pada kearifan lokal dan usaha menyatu dengan adat Papua aku pun mencobanya. Rasa pinang itu sendiri pahit, sirih buah berasa khas, dan kapur memberikan sensasi panas di lidah. Awal kali merasakan makan pinang, aku masih bingung kenapa orang Papua suka mengunyah ini. Barang kali bisa kutemukan setelah kunyahan selanjut-lanjutnya.



1 Agustus 2016

Jam 09.30 aku pergi ke sekolah SD yang ada di dekat Kampung Banda. Rupanya sekolah sedang memasuki jam istirahat. Baru saja aku menginjakkan kaki di sekolah, banyak anak-anak dengan wajah cerah mendekati. Kuajak salah satu dari mereka berkenalan sebelum kuhampiri seorang ibu guru. Setelah menyalami ibu guru, aku masuk ke kantor sekolah. Di dalam kantor, aku berkenalan dan mendapat banyak informasi dari bapak guru sekolah yang juga seorang pater dan seorang guru yang bernama Hendrik.

SD ini merupakan SD swasta yang bernama SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Kenandega. Meskipun jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kampung Banda, tetapi secara administratif sekolah ini masuk ke dalam kawasan kampung Kalifam padahal berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduknya. Jumlah siswa dari kelas 1 sampai 6 di sekolah ada 260 anak yang berasal dari kampung Kalifam, Pund, Banda, dan beberapa warga Papua New Guinea. Jumlah guru yang terdaftar ada 12 orang, tetapi yang sedang aktif dan hadir hanya sejumlah 4 orang.

Dari para guru aku merasakan bahwa keadaan pendidikan di perbatasan sini sangat terbatas pula. Sekolah sangat minim dalam banyak hal, seperti tenaga pengajar, buku, bangku sekolah, listrik, dan perpustakaan. Di antara hal yang sangat kusesalkan adalah sekolah mendapat bantuan alat praktikum IPA yang menggunakan listrik sedangkan di sekolah tidak ada aliran listrik. Selain itu, sekolah diminta menerapkan kurikulum 2013, tetapi Pemda tidak memfasilitasi buku atau bahan ajarnya. Aku hanya geleng-geleng kepala.

Pak Hendrik bercerita bahwa ia tinggal di komplek rumah guru, di seberang sekolah. Ada 4 sampai 5 buah rumah di komplek, tetapi hanya ia dan istrinya yang tinggal di situ. Kondisi rumah guru itu cukup menyedihkan. Mereka hanya dibekali satu modul surya yang maksimal hanya bisa mengalirkan listrik selama 3 jam sehari. Sebagai guru, ia tidak bisa maksimal dalam menyiapkan bahan ajar. Kalau ada bahan ajar yang harus di-print, ia masih sering harus ke kota karena minimnya listrik.

Aku berencana mengajak Ria, Putty, dan Isa sekalian membantu di sekolah. Aku juga menyampaikan semoga selain membantu mengajar, kami juga bisa membantu bersama-sama para guru membuat proposal pengajuan bantuan buku dan fasilitas sekolah. Pak Hendrik bilang kalau aku mirip dengan salah satu guru bantuan dari Pertamina Foundation pada tahun 2014, katanya orangnya mudah akrab. Apapun itu, semoga semuanya dimudahkan. Amin.

Sore hari Putty dan Isa datang ke kampung Banda diantar mobil pak dokter Roni yang kebetulan sedang berkunjung ke pustu-pustu. Sebelumnya memang Putty juga sms aku, dengan bahasa "makasih mas Soni yang menawan", kalau dia mau ke Banda tapi tak ada kendaraan. Kalau aku ada kendaraan, Bang Ali dari pos juga siap menjemput. Sayang aku tertidur lama siang sampai sore dan baru tahu sms itu sebelum maghrib. Syukurlah kebetulan pak dokter Roni sedang berkunjung ke Banda dan Pund jadi mereka bisa nebeng. Setelah mereka tiba di puskesmas, aku ceritakan pada Ria, Putty, dan Isa bagaimana kondisi sekolah di dekat Banda. Besok lusa kami berencana ke sana.
Malam ini langit Banda sama seperti malam sebelumnya. Bintang-bintang tumpah ruah. Aku duduk di teras, menikmati pemandangan ini. Seperti melihat galaksi ruang angkasa yang terlihat gamblang di depan mata, satu per satu bintang jatuh. Mungkin 5, mungkin 10 bintang itu kusaksikan luruh, ada yang perlahan ada yang cepat. Meskipun kunikmati ini semua sendirian, tetapi di setiap bintang yang berkorban itu kupanjatkan doa. Dan muncullah bayangan-bayangan mereka yang pernah dalam suka dan duka mengisi hidupku.



2 Agustus 2016

Hari ini aku berkunjung ke PLTS bersama Ria, Putty, dan Isa. Sayang, ketua tim kontraktor bernama Yanto belum juga kembali dari kota Jayapura. Kabarnya ia sedang menyambut kedatangan bos kontraktor yang baru tiba di Papua kemarin. Di lokasi PLTS aku berkenalan dengan pekerja kontraktor bernama Ridwan dan beberapa warga lokal yang bekerja, yaitu Yopi, Feliks, dan satu orang lagi yang terlupa namanya.

Setelah berbincang-bincang, kudapati bahwa Yopi adalah salah satu warga lokal yang sudah terbuka wawasannya. Ia adalah perkerja bangunan yang juga pemilik asal lahan PLTS berdiri. Ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting untuk kemajuan warga desa. Uang mungkin akan habis, tetapi ilmu akan membantu kapan pun dan terbawa terus seumur hidup. Ia juga merelakan lahannya untuk digunakan sebagai PLTS demi desanya. Aku senang sudah mendapakan salah satu orang yang bisa dijadikan kandidat pengurus PLTS.

Saat perjalanan pulang dari PLTS, aku dan teman-teman seperti biasa menyapa warga sekitar. Namun, ada yang cukup aneh saat kami menyapa seorang warga lalu ia mengikuti kami. Aku mulai curiga kalau dia bukan orang yang normal karena saat kutanyai jawabannya tak jelas. Ia mengikuti kami bahkan sampai tiba di rumah puskesmas. Saat aku masuk ke dalam puskesmas yang kebetulan sedang ramai oleh pegawai, mereka mengatakan kalau dia adalah orang gila. Mereka menambahkan kalau kegilaannya disebabkan oleh seringnya menghisap ganja. Distrik Waris memang cukup terkenal dengan ladang ganjanya. Ladang tersebut susah dikenali karena katanya banyak terhampar di tengah-tengah hutan wilayah perbatasan Indonesia - PNG. Sebagai akibat dari ganja tersebut, banyak warga yang kehilangan akal warasnya. Seperti orang ini yang ternyata bernama Beni, ia mengalami gangguan jiwa. Maka ia tak pergi-pergi dari pintu rumah kami sampai salah seorang angggota NS (Nusantara Sehat) memberikan jeruk dan menyuruhnya pergi. Aku merasa iba melihatnya, seorang manusia utuh, berpakaian tak jauh berbeda dengan warga lainnya meskipun tak beralas kaki, tetapi punya gangguan kejiwaan. Teman-teman puskesmas bilang kalau orang gila di sini disebabkan oleh konsumsi ganja. Distrik Waris memang terkenal dengan ladang ganja.



3 Agustus 2016

Hari ini aku membawa Ria, Putty, dan Isa berkunjung ke SD YPPK Kenandega. Kami disambut oleh kepala sekolah, bapak Emanue Sain yang juga seorang Pastur asal NTT. Kami memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dan tujuan kami berkunjung. Aku mengulangi beberapa hal yang kemarin sempat kusampaikan pada Pak Hendrik saat kepala sekolah masih di Jayapura.

Pak Eman menyambut baik maksud kami. Ia menyampaikan banyak hal terkait kondisi sekolah, siswa, dan keadaan minim lainnya yang menghambat pendidikan SD di sini. Ia sempat mengatakan juga beberapa hal yang sama seperti pak Hendrik katakan kemarin. Ia menambahkan bahwa keadaan siswa di sini sangat memprihatinkan.

Kemarin memang aku sudah tahu bahwa siswa yang sekolah di SD ini berasal dari kampung Banda, Kalifam, dan Pund. Namun aku baru tahu dari Pak Eman bahwa perjuangan yang dilakukan anak-anak untuk tiba di sekolah tidaklah mudah, apa lagi yang berasal dari kampung yang jauh. Anak-anak dari Pund harus menempuh jalur sungai dengan berjalan kaki. Tidak jarang juga anak-anak tiba di sekolah dengan pakaian yang basah. Mereka harus melepas pakaian dan menjemurnya di sekolah supaya tidak kedinginan. Kalau malam hari hujan deras turun, mereka tidak bisa melalui sungai pagi harinya. Arus sungai setelah hujan akan menjadi sangat deras dan berbahaya. Sering pula hujan menjadi alasan sebagian anak tidak berangkat sekolah, meskipun ada beberapa anak yang semangat sekolah tak menjadikannya alasan. Sempat aku bertanya pada Pak Eman mengapa tidak diusulkan sarana transportasi untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Ia sendiri belum terpikirkan ke arah sana. Terlebih lagi, dengan proposal kebutuhan mendesak seperti kebutuhan guru dan buku saja tidak ada tanggapan dari Pemda apa lagi mobil sekolah.



4 Agustus 2016

Seperti kemarin, pagi ini aku masak air untuk kopi dan masak nasi goreng. Tapi ada yang spesial hari ini. Aku rasa nasi goreng kornet pagi ini adalah masakan terbaik yang pernah kubuat selama ini. Ria sampai-sampai minta resepnya padaku setelah lahap menghabiskan satu piring padahal dia juga sudah masak di rumahnya. Aku bilang bahwa resepnya biasa saja, hehe.

Menjelang siang, aku dan Ria berkunjung lagi ke rumah bapak kepala kampung, Pak Joni May. Sebelumnya kami sempat berjalan sampai ujung jalan kampung yang berbatasan dengan PNG dan mengobrol dengan warga kampung. Jadi, berdasarkan cerita mereka warga di distrik Waris masih satu suku dengan warga PNG yang berbatasan dengan Indonesia, yaitu suku Walsa. Suku Walsa terdiri dari banyak marga, di antaranya adalah May, Ibe, Meho, Mou, dan Tuwo yang tersebar di Waris dan PNG perbatasan.

Setelah bertemu dengan pak Joni May, aku baru sadar kalau kami datang tidak pada waktu yang tepat. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIT siang pada saat kami dipersilakan masuk ke rumahnya. Aku lihat pak Joni tidak sesemangat seperti kemarin. Ia bahkan sempat menguap. Sepertinya kami mengganggu jam istirahatnya. Lain kali kami akan datang sore hari saja.

Malam harinya aku, Wulan, Leksi, Heri, dan Meki (pacarnya Lina) duduk asyik main kartu bridge. Kami berkumpul dalam permainan bernama Sambung Tulang. Permainan ini menggunakan dua pack kartu bridge. Aku memelajarinya beberapa hari lalu saat beberapa anggota Kopassus main kartu bersama pegawai puskesmas. Permainan ini mengasyikkan seperti main remi, meskipun beberapa kali kupingku kena hukum jepitan jemuran. Kami main kartu dari jam 9 malam sampai jam setengah 2 pagi.




5 Agustus 2016

Hari ini adalah Jumatan kedua untukku dengan jumlah jamaah sekitar sepuluh orang, kebanyakan adalah anggota pos TNI dan Kopassus. Pagi hari malas rasanya untuk memasak. Aku sarapan kopi instan dan biskuit saja pagi ini. Beruntung mas Ruli masak nasi dan mie campur telur. Tinggal kutaburi abon sapi, lumayan lengkap sudah makan siangku. Sore hari ini aku jogging lagi. Aku agak ngeri melihat Lina, salah satu suster puskesmas yang sedang kena malaria Tersiana mix Tropica. Malam harinya ia padahal masih bercanda dengan kami di teras rumah. Sepertinya olahragaku harus rutin benar.



6 Agustus 2016

Beberapa hari ini asupan sayurku kurang karena stok sudah habis. Hari ini adalah hari Sabtu, salah satu hari jadwal adanya pasar sayur selain Senin dan Rabu. Seharusnya setelah sholat subuh aku langsung pergi ke pasar karena jam 5.30 saja biasanya jualan sudah habis. Tapi apa daya, hujan turun deras benar dan aku lebih memilih kembali ke kasur. Aku bangun lagi jam setengah 7 pagi setelah Wulan berisik di rumah. Kulihat hujan mulai reda, meskipun langit masih mendung gelap dan cuaca dingin sekali. Aku langsung pinjam motor Heri dan langsung menuju pasar di tikungan depan. Beruntung rasanya masih ada beberapa ikat daun singkong, pisang masak, dan ikan di pasar.



7 Agustus 2016

Saat tidur, aku masih merasakan mimpi. Seperti suara barang-barang yang dipukul keras, perlahan-lahan ia semakin mendekat. Semakin lama suaranya semakin keras dan gaduh. Dalam keadaan kaget aku terbangun, ternyata itu bukan mimpi. Kudengar ember, pintu, tempat sampah dan entah barang apa lagi yang ada di depan kamarku dihancurkan disertai suara cacian-cacian. Perasaanku jadi tidak nyaman. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIT. Kudengar teriakan-teriakan cacian dan suara gesekan parang dengan lantai teras rumah. Aku diam saja, mengawasi cemas apa yang akan dilakukannya. Heri yang tidur satu kamar denganku menjauhi posisi tidurnya dari jendela. Aku pun cemas jika ia pecahkan kaca jendela. Sempat ia sebut-sebut pegawai puskesmas, TNI serta ancaman potong leher. Setengah jam lamanya ia membuat kegaduhan sampai akhirnya menghilang. Aku kembali tidur sambil berpikir, "Gila kalau orang sudah mabuk di sini. Bawaannya parang!"

Pagi hari ada hal yang tak terduga terjadi. Entah karena apa teman-teman Nusantara Sehat tidak seakrab biasanya. Aku pergi ke tempat mereka di rumah belakang. Mereka baru bilang kalau mereka merasa tersinggung sekali karena tadi pagi Putty dan Ria tertawa cekikikan di dapur mereka. Mereka kira kami menertawakan teman-teman NS yang tadi malam dijelek-jelekkan oleh si pemabuk. Aku langsung meminta maaf pada mereka dan akan bilang pada Putty dan Ria, meskipun aku kenal betul Putty dan Ria tidak mungkin sejahat itu.

Aku bertemu Putty dan Ria di rumah mereka, dua rumah di sebelah rumah tempatku tinggal. Benar seperti dugaanku, mereka bukan bermaksud menertawakan teman-teman NS. Mereka tertawa karena bercanda untuk melepas ketegangan setelah peristiwa semalam. Mereka jujur sangat ketakutan karena berkali-kali jendela dan pintu rumah mereka diteror oleh si pemabuk. Aku menjadi kasihan juga pada mereka. Aku kembali lagi kepada teman-teman NS dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Teman-teman NS pun bisa mengerti.

Ada dua hal dari peristiwa ini yang menjadi pembelajaranku pribadi. Pertama, aku masih kurang peka untuk mengerti kondisi psikologis orang yang sedang down karena peristiwa tak terduga. Kedua, aku masih lemah dan belum bisa berpikir secara jernih betul saat dalam keadaan terteror, meskipun memang dalam menghadapi orang mabuk yang membawa parang lebih baik menghindar.



8 Agustus 2016

Siang ini, paman (Pak Mantri) Robi, yang kemarin mabuk, datang ke teras rumah tempatku tinggal dan mengobrol denganku, Heri, dan dua orang mantri lain. Dia mengatakan kenapa bisa membuat kegaduhan dan berkata bahwa TNI tidak bisa seenaknya masuk ke area puskesmas pada malam hari. Dia bilang itu semua karena ada masyarakat yang mengadu padanya. Masyarakat merasa tidak etis bila TNI masuk area puskesmas malam hari, main ke rumah-rumah dinas suster puskesmas. Aku hanya mendengarkan penjelasannya. Obrolan itu berlangsung sambil minum teh, tanpa ada emosi dan kengerian seperti saat dia mabuk.

Menjelang siang hari, tim Patriot Banda dan Pund berangkat ke kampung Kalimo untuk memberi tahu Eka dan Dimas bahwa kita akan turun ke kota pada tanggal 10. Rencana awal, kami akan tanggal 14 untuk menyusun dan mengirim laporan. Namun, karena tanggal 17 Agustus kami harus menjadi panitia di acara HUT Kemerdekaan maka kami merencanakan turun lebih awal.

Ibu, Sosok yang Melintasi Batas Manusia (2)

Mencoba merefleksikan –


1 Juli 2016

Saat tulisan ini kubuat, ritual doa untuk 100 hari meninggalnya ibu baru saja selesai seminggu lalu. Aku memang tidak bisa hadir secara fisik pada peringatan tersebut, tapi doa untuknya terpanjat setiap lima waktu. Tak kusangka sebelumnya bahwa tulisan ini akan kubuat di Pusdiklat EBTKE, tempat terakhir aku berpamitan pada almarhumah ibu tahun lalu sebelum akhirnya tanpa bertemu dengannya lagi langsung berangkat ke Kalimantan. Kali ini, aku bahkan akan pergi meninggalkan rumah untuk tempat yang lebih jauh dan lebih lama: Papua untuk satu tahun. Mengapa? Semoga tulisan ini bisa menjawabnya.

Selama seratus hari lebih setelah ibu meninggal aku banyak menemukan hal baru. Aku merasa ada sesuatu yang menggumpal dalam pikiran dan jiwaku yang semakin lama semakin menguat, sebuah kesimpulan atas kehidupan yang fana dan sifatnya sementara, sebuah skenario yang telah ditulis dan diarahkan menuju hal-hal yang berkaitan. Hasil refleksi itu “mendatangiku” tanpa kurencanakan dari pengalaman pribadi, juga dari buku-buku yang “menemukanku”.

Beberapa hari yang lalu Osa memintaku untuk mengumpulkan catatan harian sewaktu di lokasi penempatan karena diminta oleh ESDM. Kucari file catatan harian di Kalimantan, meskipun tidak utuh bisa kukirimkan juga sekadarnya. Permintaan catatan harian itu membuatku ingin membaca kembali apa yang pernah kualami selama di Kalimantan. Ternyata secara mengejutkan, ada peristiwa yang menyadarkanku bahwa tanda-tanda meninggalnya ibu telah tampak sebelum kabar duka tiba.


Di dalam Islam, begitu juga ajaran spiritual kultural Jawa, peristiwa meninggalnya seseorang akan didahului dengan adanya tanda-tanda sekitar tujuh hari sebelum nyawa dicabut. Catatan harianku di atas bertanggalkan 7 Maret 2016, sedangkan ibu meninggal tanggal 13 Maret 2016 malam. Setelah kurenungkan, mungkin itulah cara Tuhan menyampaikan salam pamitan ibu untukku. Dia menyampaikan salam melalui seekor burung yang perkasa, yang suaranya sanggup membuat burung-burung lain berhenti berkicau agar salam itu benar-benar sampai padaku. Di tengah suasana obrolan sore yang entah kapan bisa lagi terulang bersama bapak angkatku di Kalimantan itu, aku saat ini baru bisa mengilhami bahwa suasana hati kami sebenarnya juga murung. Kami murung mendengar suara sasmita burung Kangkatau, murung bahwa kami suatu hari nanti akan mengenang suasana sore itu, juga Tuhan mungkin menyelipkan kemurungan salam pamit dari ibu yang belum kusadari.

Meskipun tak terlihat, aku masih bersedih. Apa lagi ingatan-ingatan bulan puasa seperti ini adalah bulan yang paling dirindukan. Biasanya ibu akan bangun lebih awal, menyiapkan hidangan sahur untuk keluarga, bersama bapak membangunkan anak-anaknya, lebih giat menyuruh anak-anaknya untuk sholat berjamaah ke masjid, sholat taraweh, menyiapkan kolak pisang dari pohon yang bapak tanam sendiri di kebun belakang rumah, dan pada saat senja tiba tidak ada kebahagiaan yang lebih bernilai daripada duduk bersama-sama sekeluarga di hadapan hidangan sambil menantikan maghrib.

Aku tahu itu cuma kenangan. Pernah kubilang sebelumnya bahwa “hari esok tidak akan lagi sama untukku”. Ya, hari ini tidak sama lagi. Bukan hanya aku yang terpukul, tapi bisa kurasakan bapak dan adik-adikku juga. Inilah pertama kalinya, aku belajar sahur, buka puasa, dan melakukan rutinitas lainnya di bulan Ramadhan tanpa ditemani ibu. Aku, bapak, saudara-saudariku belajar untuk pertama kalinya untuk banyak hal tanpa almarhumah.
“Belajar” ini adalah hasil refleksi yang paling utama untukku dari meninggalnya ibu. Aku belajar lebih mandiri, mengingat dan menaati perintah-perintah ibu ketika hidup, dan dalam beberapa kesempatan melakukan hal-hal yang biasa ibu lakukan di rumah. Semuanya itu merupakan hal baru yang membuatku menjadi pribadi yang lebih mandiri lagi.

Perlahan tapi pasti, ternyata ketiadaan ibu membuatku merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan. Aku merasakan bahwa orang sedekat ibu bisa dengan tanpa disangka diambil kehidupannya begitu saja. Namun ketika aku juga menemukan kehidupan dan kematian seseorang saat di Kalimantan, aku menjadi semakin yakin bahwa di mana pun, kehidupan dan kematian terjadi. Ada yang hidup di tengah keadaan yang berlimpah, berkecukupan, atau kekurangan. Ada yang meninggal dalam keadaan naas, tenang, atau penasaran.

Di belahan bumi mana pun, itu semua bisa terjadi. Selanjutnya, seperti telah Tuhan rencanakan buku-buku tentang kehidupan pun menemukanku. Buku-buku karangan Cak Nun, Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, dan Pram menguatkan ilham itu, ilham bukankah kita tidak pernah meminta untuk hidup? Lalu hidup begitu saja diberikan. Maka, sewaktu-waktu hidup itu diambil sebenarnya kita tidak punya hak apa pun untuk menuntutnya. Kita hanya bisa berterima kasih bahwa kita diberi kesempatan mengecap indahnya kehidupan, bisa belajar tentang banyak hal, bisa mengenal keluarga tempat kita dititipkan, sahabat, teman, sosok-sosok manusia yang agung, dan semua kesempatan yang pernah didapatkan. 
Begitu pun dengan kehidupan ibu. Aku dan saudara-saudaraku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan bahwa kami lahir dari rahimnya, bapak berterima kasih karena disandingkan dengan sosok wanita yang amat sangat penyabar, tak pernah menuntut apa pun kecuali kebahagiaan dan keberhasilan anak-anaknya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau telah berikan kami kesempatan berada di antara manusia agung seperti dia semasa hidup.

Aku masih ingat betul dulu ibu pernah berkata, “Semoga kelak kamu jadi manusia yang berguna buat bangsa, negara, dan agama.” Di kesempatan lain ibu pernah juga bilang, ”Laki-laki itu jauh lengkah. Jangan pikirkan wanita dulu. Artinya, laki-laki itu langkahnya jauh, kejar dulu cita-cita, jangan terburu-buru untuk menikah. Ketika aku berpamitan untuk pergi ke Kalimantan, ibu pun mendukungku. Aku cukup bersyukur bahwa aku ditinggalkan ibu dalam keadaan diridhainya. Di akhir pertemuan kami, di tepi jalan raya saat menunggu bis yang akan mengantarkanku ke Ciracas bulan September tahun 2015, aku masih ingat betul ibu memelukku sambil mengucurkan air mata haru bahagia bahwa anaknya bisa terus belajar, berkenalan dengan banyak orang, dan mencari pengalaman hidup. Aku hanya bisa terdiam sambil mengusap-usap punggungnya.

Kalimantan mengajarkanku banyak hal: ketulusan manusia, kebersamaan, kesederhanaan, kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, perpisahan, merasa bersyukur, dan banyak lagi. Banyak sekali dari mereka yang tidak bisa merasakan fasilitas-fasilitas yang memadai. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang pedalaman begitu sejak lahir. Sedih rasanya saat menyebutkan doraemon kepada anak-anak dan tidak ada yang mengenalnya. Perasaan ini semakin mengharukan ketika mereka dalam keadaan serba terbatas tersebut memiliki ketulusan hati. Mereka tidak mengenal aku sebelumnya. Aku bukan teman, saudara, apa lagi keluarga buat mereka. Namun, ketika aku membutuhkan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kehidupan sosial mereka dengan tulus memberikan apa yang mereka miliki: makanan, tempat tinggal, waktu, tenaga, dan pikiran. 

Aku tidak butuh alasan lebih lagi untuk mencintai mereka. Aku menemukan cinta di Kalimantan, cinta kepada keluarga, saudara setanah air, cinta kepada sesama manusia.
Maka sebenarnya, menyenangkan almarhumah ibu agar harapan terhadap anaknya tercapai menjadi alasan utamaku untuk melanjutkan jalan ini, menuju Papua, memberi dan menerima, menguatkan cinta kepada mereka sebagai saudara setanah air, sebagai sesama manusia. Ketiadaan ibu buatku menjadi pemacu tersendiri untuk lebih keras lagi terhadap diri sendiri dan dunia ini. Barang kali Kalimantan atau Papua memiliki rintangan, itu lah resiko yang akan dan harus kuhadapi untuk menggapai menjadi manusia seperi yang ibu doakan.

Dalam alasan lain, aku pernah menjawab pertanyaan seseorang. “Kenapa kamu ikut program ke Papua ini?” katanya di sebuah rumah antik. Aku cuma menjawab, “Jalan-jalan dan mencari.” Aku tahu, banyak teman-teman yang lebih berhasil daripada aku sewaktu penempatan lokasi di Kalimantan. Aku sadar belum banyak aksi yang kuperbuat dalam konteks pemberdayaan masyarakat banyak. Namun, di luar itu ada hal-hal yang aku yakin sulit untuk diukur mengenai pengalaman dan pembelajaran pribadi selama di desa pedalaman. Pengalaman dan pembelajaran itu barang kali tidak bisa terlihat sebagai sesuatu yang kasat mata, tetapi terasa sangat mendalam buatku. Hal itu yang masih ingin kucari dan kudapatkan dengan “berjalan-jalan”, bertemu dengan orang-orang, menjalin hubungan kekeluargaan dengan mereka, menerima dan memberi, serta menemukan makna dari semua ini.

Aku masih mencari seberapa besar yang bisa kuberikan, aku berutang pada mereka yang berada di pedalaman atas semua pendidikan dan ilmu yang telah kuperoleh karena secara tak langsung ada hak mereka di diriku, maka utang itu harus kubayar. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan negara seindah Indonesia. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan. Aku masih mencari untuk apa kita saling mengenal. Aku masih mencari untuk apa hidup ini.


Tuhan telah memberikanku akal dan hati. Meninggalnya ibu bisa menjadi sebab keterpurukan atau justru kebangkitan diriku. Bekal akal dan hati telah Tuhan berikan untuk menunjukkanku bahwa aku harus bangkit. Aku ingin ibu di sana dalam keadaan terang benderang, lapang, melihatku berproses untuk menjadi manusia. Aku yakin bahwa suatu saat nanti, akan ada tempat aku dan ibu bisa berkumpul lagi. Di sana aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah lulus menjadi manusia.

Sunday, 29 May 2016

Ibu, Sosok yang Melintasi Batas Kelemahan Manusia



















I love my mom, Gunung Lawu 1-12-2013. Kuperlihatkan foto ini pada ibu beberapa waktu setelah pendakian Gunung Lawu. Ia malah berkata, "Kenapa wajahmu merah begitu?" Mungkin ia malu untuk mengomentari tulisan di atas kertas. Foto oleh Hanif Junaedi Adi Putra.




Sebuah Kronologi –


Namaku Soni Mijaya. Tulisan ini menceritakan sebuah kisah saat usiaku hampir 25 tahun. Asalku dari Pandeglang, Banten. Dalam program Patriot Energi aku ditempatkan di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Bukan Pandeglang, Kediri (tempatku sekolah), atau Jogja (tempatku kuliah) tempat yang menyaksikanku menangis panjang untuk hal ini. Adalah sebuah desa di seberang pulau yang jauhnya ribuan kilometer dari asalku, desa yang bernama Mansalong di Kalimantan Utara yang menjadi saksi bisu malam itu. Saksi bisu akan perasaan sedih, kecewa, bersalah, lelah, bingung, dan takut karena sebuah kabar: ibu meninggal dunia.

Tulisan ini kubuat dua bulan setelah berlalunya ibu sehingga kurasa sudah cukup reda perasaan ini kalau mengingat-ingatnya kembali. Malam itu, 13 Maret 2016 waktu menunjukkan hampir pukul 12. Aku baru saja selesai mengobrol dengan Pak Rudi, bapak sekretaris camat Sebuku di ruang televisinya. Kami asyik mengobrolkan banyak hal, mulai dari ide-ide Pak Rudi jika pemekaran kabupaten Bumi Daya Perbatasan (BDP) telah disahkan sampai perkembangan olahraga tinju bebas di Indonesia yang dipantau salah satu stasiun televisi swasta. Temanku, Rico sudah pulas terlentang di kamar.

Aku dan Rico tiba di rumah Pak Rudi sehari sebelumnya. Tugas kami di desa masing-masing telah selesai sehingga berencana mengunjungi desa lokasi Patriot lainnya yang ada di wilayah III Kabupaten Nunukan. Beberapa hari sebelumnya telah kami habiskan di desa lokasi Din dan Nanda, mengikuti mereka melakukan sosialisasi tentang PLTS, dan mengenal serta bermain voli bersama para warga di sana. Setelah dari lokasi Din dan Nanda, kami berencana mengunjungi desa Sumentobol, tempat Makruf dan Anggun berada. Selanjutnya, bersama-sama secara serempak kami bisa meninggalkan Kalimantan karena beberapa hari lagi masa tugas mereka pun telah selesai.

Desa Sumentobol merupakan salah satu desa di hulu sungai Sebuku yang cukup terisolasi. Tidak ada sinyal, tidak ada akses yang mudah untuk ke sana. Jalur yang harus ditempuh untuk sampai ke sana adalah sungai yang punya banyak jeram. Perahu yang digunakan pun adalah perahu panjang dengan mesin dan kapasitas terbatas. Aku dan Rico singgah di rumah Pak Rudi dalam rangka menanti perahu tersebut. Dan malam itu adalah hari kedua kami di rumah Pak Rudi karena kami belum juga mendapatkan perahu. Besok kami akan menengok kembali pangkalan perahu.

Namun, rencana tinggal rencana. Takdir berbicara lain. Saat aku masuk kamar, kulihat ada beberapa missed call dari kakakku. Firasatku mengatakan ini musibah karena tak pernah sekali pun ia menelepon pada saat larut malam. Maka, seketika itu pun kutelepon kembali nomornya.

Lututku lemas saat telepon diangkat di ujung sana. Yang kudengar hanya isak tangis yang tak henti-henti sambil mengatakan, “Encon, mamah Encon. Mamah meninggal.”

Aku masih sadar untuk mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.” Kupandangi dinding kayu bekirai dari kamar yang mengurungku. Telepon genggam masih melekat di telingaku dan suara isak tangis di ujung sana masih meraung-raung. Sebagai lelaki yang paling tua, aku coba menguatkan kakak perempuanku, memintanya bersabar, dan menyebut asma Allah.
Aku masih ingat betul malam itu, meski perasaanku sendiri kacau tapi kucoba untuk tidak membuat suasana keluarga semakin larut dalam kesedihan. Kucoba untuk meyakinkannya bahwa aku cukup tabah mengahadapi ini, sendirian di daerah yang sangat jauh dari kampung halaman. Kutunggu kakak mereda beberapa menit dari telepon dan kututup telepon saat suara tangisnya mulai merendah.

Telepon kuletakkan kembali di tempat semula. Rico telah pulas tertidur di tempat tidur. Segan kubangunkan dia meski dalam keadaan begini. Biar kunikmati ini sendirian. Kusandarkan kening di dinding kamar dengan tangan yang menopang. Kulepaskan semuanya dari pikiran yang kalut, hati yang hancur, dan raga yang lemas.

Tetes-tetes, air mata jatuh dari kelenjar yang kempis dan kembung selebar-lebarnya. Asin air mata dan ingus yang mengalir ke mulut terasa pahit di dadaku. Kurasa pahit untuk mengenangkan bahwa ibu yang hanya satu kumiliki di dunia ini meninggal di usia 44 tahun, tanpa disangka, tanpa dimengerti. Kurasa kecewa karena perpisahan ini terjadi tanpa ucapan selamat tinggal dan berada di sisinya. Kekhawatiran yang semula hinggap di diriku akan nenek yang telah sering sakit-sakitan ternyata terbantahkan oleh kenyataan ini, anak perempuannya telah mendahului dirinya.

Telepon kembali berdering, kuusap mataku dan kutahan isak tangis sebaik mungkin. Bapak berbicara di ujung telepon dan mempertanyakan apa yang akan kulakukan. Kubilang aku akan pulang hari ini juga. Paling cepat besok malam aku bisa tiba di rumah. Bapak pun meminta izin padaku untuk memakamkan ibu siang hari itu juga sehingga aku tidak akan punya kesempatan melihat lagi wajahnya. Aku hanya menjawab, “Iya, kasihan mamah. Segera dimakamkan saja.” Tangis berlanjut entah untuk berapa lama waktu berselang hingga pagi tiba tanpa kuketahui.

Kuceritakan pada Rico apa yang terjadi tadi malam. Sebagai sahabat seperjuangan, ia begitu hangat padaku, memintaku untuk bersabar dan menerima semuanya dengan hati yang lapang. Keluar kamar, kudapati Bu Sekcam dan menceritakan bahwa ibuku telah meninggal. Kubilang membatalkan kepergian ke Sumentobol. Setelah memberikan wedang uwuh dan kain batik dari Jogja pada ibu dan bapak Rudi, aku berpamitan. Masih kuingat raut wajah mereka yang terkejut dan prihatin kepadaku. Sempat beberapa pertanyaan kujawab singkat. Mereka pun bisa mengerti. Kuusapi kepala Aiman, adik kecilku yang manis. Sayang, meninggalkan keakraban kami dalam keadaan begini. Rico mengantarkanku ke pelabuhan Malinau pagi itu juga. Ia sempat memotretku dari belakang saat aku melangkahkan kaki ke speedboat. Sampai jumpa, Sahabat.

Aku tahu pikiran dan hatiku masih kacau. Tiga jam perjalanan melintasi sungai dan laut membuat pikiranku berkecamuk, tentang kenyataan baru ini, tentang kenyataan-kenyataan baru yang akan kuhadapi. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah “aku hanya tidak peduli”. Aku tidak peduli bagaimana caranya pulang dari pedalaman Kalimantan, ada atau tidak pesawat yang membawaku hari itu juga, berapa biaya yang harus kebayar, berapa besar sakit yang harus kutanggung, berapa banyak kebingungan-kebingungan yang menghantuiku atas pernyataan-pernyataan yang menyayat hati: itu dia ibumu, yang biasa memasakkan makanan untukmu di rumah, yang biasa menantikanmu dalam tangis ketika kau tiba di rumah setelah lama di perantauan, yang sering kau memanja padanya untuk mengerok punggungmu kalau kau masuk angin atau mengusapkan minyak kayu putih, yang biasa duduk di tengah rumah sambil minum teh, dan besok atau lusa akan seperti biasanya tetapi tidak untukmu.

Sepanjang perjalanan, aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa untuknya. Berulang kali mata berkaca-kaca, berulang kali pula kuusap. Aku hanya ingin tidur dan semoga bertemu dengannya dalam mimpi sehingga aku yang banyak bersalah ini bisa meminta maaf, mengucapkan selamat tinggal padanya, tetapi tak bisa. Begitulah perjalanan sepanjang Kalimantan hingga aku tiba di Jakarta. Keadaan semakin sendu saat bibiku menjemput di bandara dan kami duduk di rest area berbincang banyak apa yang terjadi selama aku di Kalimantan.

Setiba di rumah, orang-orang masih ramai padahal jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB. Mereka bergadang, menunggui rumah sambil mengobrol atau m0engaji. Semua adalah saudara-saudara ibu, kakek, nenek, bapak, dan adik-adikku. Tangis tak bisa dicegah lagi untuk pecah di situ, di rumah kami. Aku tak mau meraung, aku meyakinkan mereka bahwa aku cukup tegar. Aku pun sedih, tetapi biarlah semua telah ditentukan.

Kudengar cerita demi cerita bagaimana semuanya terjadi. Mereka yakin bahwa sebenarnya ibu telah diberi kesempatan kedua setelah bulan Desember tahun 2015 hampir saja tak bisa lagi “bangun”. Aku ingat bulan itu aku masih di desa Pembeliangan dan ditelepon bahwa ibu sedang dirawat di rumah sakit karena diabetes dan gejala liver, tetapi tidak lama berselang ibu sudah bisa dibawa pulang lagi ke rumah.  Meskipun aku juga sempat kaget karena saat melepas kepergianku ke Kalimantan ibu masih sehat dan bugar, tapi syukurlah ibu tak lama dirawat di rumah sakit.

Tidak ada yang menyangka juga bahwa ibu akan wafat karena sebelumnya keadaan ibu sudah mulai pulih. Ibu juga tidak pernah meninggalkan pesan apa-apa yang biasa menjadi pesan terakhir bagi orang yang akan meninggal. Keluargaku hanya bisa berserah bahwa semua terjadi karena takdir semata. Dan maut, bila Tuhan telah berkehendak maka tak bisa dipercepat atau diperlambat.

Bapak bercerita bahwa pada hari ibu meninggal, ibu seperti biasa dalam perawatan. Makan malam ibu disuapi oleh adik laki-lakiku lalu beristirahat di tempat tidur. Semuanya biasa saja sehingga adikku pergi main keluar dan bapak tidur di sebelah ibu. Namun, tiba-tiba saja nafas ibu seperti tersengal sekitar pukul 10 malam sehingga bapak terbangun. Bapak mendekatkan mulutnya ke telinga ibu untuk melafadzkan kalimat-kalimat syahadat. Bapak mulai berkaca-kaca karena ibu sempat kejang-kejang dan terlelap untuk selamanya.

Segera setelah itu bapak meminta bantuan para tetangga dan membawa ibu ke rumah sakit. Bapak hanya ingin memastikan apakah ibu “masih ada” ataukah tidak. Bantuan kejutan pun dilakukan, tetapi tak berdampak apa pun. Dokter pun memberi tahu bahwa ibu telah tiada. Kemungkinan besar meninggalnya adalah serangan jantung. Saat itulah kakak meneleponku.



Sunday, 22 May 2016

Kawanku Melamar Seorang Gadis

Sepanjang hari, fajar menyeruak di ufuk timur mengawal datangnya hari yang baru. Adakah posisi bumi terhadap matahari sang pembawa fajar meleset dari orbitnya hingga tadi pagi atau kemarin fajar terbit dari ufuk barat? Adakah semua ini berjalan secara kebetulan? Foto diambil di Sebuku, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto oleh Soni Mijaya.

Kemarin siang, seorang kawan dekat dengan usia terpaut dua tahun lebih tua melamar seorang gadis Jogja. Ah, aku kenal mereka berdua hampir dua tahun terakhir ini. Sungguh, tak kusangka kalau mereka sedekat itu dan berakhir dengan lamaran dan pernikahan. Tak banyak pertemuan yang kusaksikan karena kawanku kutahu betul, ia tinggal satu atap bahkan satu kamar denganku. Tak pernah juga kudengar cerita-cerita tentang sang gadis. Bahkan, yang sering kudengar adalah kisah gadis yang lain beberapa bulan sebelumnya (sebelum aku pergi ke Kalimantan). Sungguh, tak kusangka.

Melewati perjalanan selama satu jam pada Jumat siang yang cerah, mobil membawa rombongan kami menuju Kulonprogo, rumah sang gadis, dari jalan Ringroad barat menuju jalan Wates – Purworejo. Sekitar setengah jam melintas di jalan utama, mobil masuk ke dalam jalan kecil yang ternyata cukup dalam dan bertebaran hutan di kanan kirinya selama setengah jam berikutnya. Begitu dalam, begitu pelosok rumah sang gadis, pikirku. Namun, hal ini justru menimbulkan gairah ilham di alam pikiranku.

Kawanku, Bayu Sutrisno namanya, seorang Jawa yang tampan menurut pandangan umum. Ia berasal dari Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang kurang lebih mirip keadaannya dengan Kulonprogo. Ia berasal dari kampung yang dalam, penuh dengan hutan dan tambang-tambang tradisional peninggalan zaman kolonial. Meskipun aku belum pernah ke rumahnya, tapi berdasarkan cerita kawan yang lain, pelosok juga keberadaanya.

Di dalam jiwa dan pikiranku akhirnya semakin menguat kesimpulan-kesimpulan ini. Siapa kita yang sanggup melawan perasaan di dalam sukma terhadap seseorang? Siapa kita yang manusia kecil di antara semesta yang luas ini mampu menyangka bertemu jodoh dari kampung nan jauh di sana dengan kampung nun jauh pula di sini? Siapa kita yang akhirnya hanya mampu tersenyum dan semakin yakin bahwa pertemuan ini telah diatur, telah dirancang, dan telah ditentukan kapan dan bagaimananya? Siapa kita, kalau bukan hanya seorang hamba yang berada di bawah kehendak-Nya.

Akhirnya, proses lamaran berjalan dengan lancar. Lamaran telah diterima. Dua keluarga telah dipertemukan. Sepasang kekasih telah bertukar senyuman. Doa-doa telah diucapkan. Tanggal pernikahan pula telah ditetapkan. Dari persaksian ini, aku banyak belajar. Kupikir, sebenarnya anugerah Tuhan yang bernama cinta itu adalah suci. Hanya, tinggal bagaimana manusianya yang menuntun anugerah itu ke arah mana. Dan Bayu sudah menunjukkan padaku mewahnya kesucian itu dalam cara yang mulia.


Sepanjang perjalanan pulang, tampak olehku mentari sore tampak bulat penuh bersarang di atas bukit Menoreh. Lamat-lamat dalam hati aku menginsyafi bahwa sampai saat ini, anugerah Tuhan yang suci itu belum kuperlakukan seharusnya. Entah, mungkin masih panjangkah perjalanan hidup ini atau kah memang belum saatnya kudapati keyakinan. Aku berserah.

Thursday, 19 May 2016

Amat Idang

Tiang-Tiang Jaringan Listrik. Akhirnya pada tahun 2015, tiang-tiang jaringan distribusi listrik berdiri tegak di antara lebatnya hutan Desa Pembeliangan. Jaringan listrik tersebut mendistribusikan energi listrik dari PLTS dan PLN melalui sistem hybrid. Foto oleh Soni Mijaya



Hari itu adalah hari Kamis, 29 Oktober 2015, satu minggu sejak kedatanganku untuk sebuah program di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Aku duduk di sebuah kursi panjang di teras kantor desa. Urusan administrasi dan perkenalan tentang program pendampingan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kepala desa telah selesai. Meskipun cara penuturan bahasanya tidak biasa bagi perasaanku, tetapi aku cukup diterima olehnya. 

Beberapa perangkat desa tampak sibuk berjalan kesana kemari. Hampir tak kuhirauhkan mereka karena pikiranku masih melayang mencari cara agar mendapatkan tempat tinggal untuk lima bulan ke depan. Kepala desa maupun sekretarisnya juga tidak bisa memberikan jalan keluar, baik berupa kos atau sewa rumah. Selama satu minggu lebih ini, aku tinggal di rumah seorang sekretaris camat di desa lain yang ditempuh selama 2 jam perjalanan darat. Terlalu berat bagiku jika harus berangkat setiap hari dengan kendaraan yang belum pasti ada. Di tengah lamunanku, tiba-tiba seorang bapak setengah baya menghampiriku.

“Mas.” Dia tersenyum sambil duduk di sebelahku dengan memegang selembar kertas seperti peta.

Kami pun berkenalan. Bapak berperawakan besar dengan kumis tebal yang rapi itu adalah ketua RT 3 sekaligus orang yang ditugaskan kepala desa untuk mengurus pembangunan PLTS di desa. Mengetahui aku adalah orang dari Jawa yang ditugaskan untuk pendampingan PLTS, alih-alih ia berbicara tentang PLTS, ia malah banyak bercerita tentang keadaan di desa. Dengan antusias, ia gambarkan bagaimana keadaan Desa Pembeliangan, termasuk kekayaan hutan, sungai, udang, ikan, lahan, dan potensi-potensi besar lainnya yang belum dikembangkan secara maksimal. Ia juga bercerita bahwa ia memiliki kelompok di RT-nya yang berfungsi layaknya koperasi meskipun tidak bersifat resmi. Tampaknya, ia ingin potensi-potensi tersebut diketahui orang pendatang sepertiku.

Banyak informasi yang kuperoleh darinya. Hal itu memudahkanku untuk mengenal lebih dekat desa Pembeliangan. Selanjutnya, aku kembali lagi pada kegundahanku. “Ada kah tempat tinggal yang bisa kutempati di desa untuk lima bulan ke depan, Pak?”

Ia mengernyitkan dahinya beberapa saat. “Wah, maaf sepertinya tidak ada, Mas.” 

Baiklah, bertambah besar kekhawatiranku karena sudah tiga orang perangkat desa yang kutanyai mengenai tempat tinggal memberikan jawaban serupa. Akhirnya, setelah bertukar nomor ponsel dengannya aku pun pulang. 

Seminggu kemudian, aku belum bisa beranjak ke desa Pembeliangan lagi karena terkena penyakit yang sangat mengganggu. Seminggu lamanya pergerakanku terbatas di dalam rumah. Beruntung bagiku Bapak sekretaris camat adalah orang yang sangat baik. Ia merawatku layaknya anak sendiri hingga sungkan rasaku terus tinggal di rumahnya. Di hari ketika penyakitku berangsur-angsur pulih, ponselku berdering. Pak RT menelepon.

“Halo, Pak.”

“Halo, Mas Soni. Sekarang Mas Soni di mana?”

“Di Mansalong, Pak. Ada apa, Pak?”

“Wah, jauh benar tinggalnya. Mas Soni ke sini saja. Lebih baik tinggal di rumah saya, ya meskipun kondisi rumah saya seadanya. Kebetulan ini kontraktor PLTS juga baru tiba dan tinggal di rumah saya. Bagaimana, Mas?“

Seperti mendapatkan angin segar yang kutunggu-tunggu sekian lama, kontan aku langsung saja mengiyakan ajakannya. “Baik, Pak. Besok saya berangkat ke Pembeliangan ya.” Sebenarnya sedikit terbersit dalam benakku mengapa Pak RT mengajakku tinggal di rumahnya setelah seminggu yang lalu ia tidak memberikan kesempatan. Pikiran ini pun kusimpan dulu. Suatu saat kemudian akhirnya kutemukan sendiri jawabannya.

Keesokan harinya, aku sudah tiba lagi di desa Pembeliangan dengan membawa barang-barang perlengkapan. Rumah Pak RT memang lazimnya rumah warga lainnya di sini, berupa rumah panggung kayu, tetapi ada kesan yang menarik di sini. Di depan rumahnya ada sungai kecil yang ditumbuhi dengan teratai dan rerumputan rawa. Sebuah jembatan kayu membentang di atasnya, menyuguhkan sebuah rumah panggung cantik berwarna biru di ujungnya. Sederhana memang, tak ada kemewahan dari bahan-bahan yang mahal, tetapi kesan yang diberikan adalah keelokan alam. Aku bertemu Pak RT dan orang-orang kontraktor PLTS di sana. Aku dan para kontraktor sebanyak tiga orang dipersilakan tinggal di tengah rumah untuk meletakkan barang-barang juga beristirahat. Kami dipinjami kasur lantai dan beberapa bantal untuk beristirahat. Tidak ada kamar mandi di rumah Pak RT. Yang ada hanyalah sebuah tempat mandi terbuka di samping rumah dan sebuah WC “alam” dengan jarak agak jauh dari rumah. Dari rumah amat sederhana ini lah pengalaman hidup yang berarti dimulai.

Selama pembangunan PLTS, hampir setiap hari Pak RT, aku, dan para kontraktor pergi ke lokasi pembangunan PLTS. Kontraktor melakukan pembangunan PLTS sebagaimana mestinya. Pak RT dan aku kadang hanya memantau dari sekitar, tetapi tidak jarang juga ikut andil dalam pekerjaan fisik pembangunan PLTS. Setiap saat jam makan, baik pagi, siang, atau pun malam Pak RT selalu mengajakku untuk makan bersama.

Setelah satu minggu tinggal di rumah Pak RT, aku bingung karena tidak pernah membayar makanan. Bapak atau pun Ibu RT tidak pernah membicarakan sebelumnya jika harus membayar setiap kali makan atau berapa harganya. Akhirnya kuputuskan bertanya pada kontraktor yang setiap hari juga makan makanan yang sama denganku.

“Mas, selama ini makan di rumah Pak RT bagaimana ketentuannya?” Tanyaku pada salah satu dari tiga orang kontraktor yang tinggal bersamaku.

“Oh itu bayar per menu Rp 15.000, Mas.” Jawabnya.

Astagfirullah. Aku tak tahu jika ada ketentuan tersebut. Maka, setiba di rumah Pak RT aku langsung menuju dapur dan menemui Bapak dan Ibu RT. 

“Pak, Bu, mohon maaf saya sudah seminggu tinggal di sini dan makan seenaknya saja tanpa membayar.” Kataku penuh penyesalan. Langsung kusambung lagi, “Mungkin ini sedikit biaya untuk belanja makan sehari-hari, Pak, Bu.”

“Wah Mas Soni, tidak usah. Benar-benar tidak usah. Kalau untuk makan tidak usah bayar. Kami sudah biasa. Kalau ada yang bisa dimakan ya alhamdulillah, kalau tidak ada ya tidak bisa makan. Tidak perlu membayar Mas Soni.”

Aku semakin bingung. Tadi kontraktor berkata jika mereka membayar. Sekarang aku ingin membayar tapi Bapak tidak mau. Kemudian sedikit kupaksakan untuk tetap membayar. Namun, Pak RT semakin tidak ingin juga untuk dibayar hingga akhirnya aku menarik diri, khawatir jika membuat Pak RT tersinggung.

“Benar, tidak perlu Mas Soni. Kalau sedang ada makanan ya alhamdulillah ada yang bisa dimakan.”

“Aduh, Bapak. Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi selain terima kasih.” Maka sejak saat itu, aku bagaikan menemukan ayah dan ibu kedua, keluarga baru di sebuah tempat antah-berantah yang bahkan tak kukenal sama sekali sebelumnya. Adalah hati nurani yang ikhlas dan tulus jawaban atas pertanyaanku mengapa aku ditelepon saat itu untuk tinggal di rumah Pak RT.

Hari-hari selanjutnya kulalui hampir selalu bersama-sama Pak RT. Selain mengunjungi lokasi pembangunan PLTS, ia sering mengajakku pada acara-acara kemasyarakatan, seperti rapat desa, pembacaan doa selamat orang yang meninggal, bayi yang baru lahir, pendataan warga, hingga gotong royong acara adat. Ia bahkan beberapa kali mengajakku ke hutan rimba di desa yang memiliki luas wilayah 70.000 ha ini untuk menunjukkan padaku segelintir orang yang rela tinggal berbulan-bulan lamanya di hutan untuk menjaga hutan dari eksploitasi. Tampak terlihat olehku setiap orang yang kami temui begitu menaruh rasa hormat kepada Pak RT, baik warga RT 3 atau pun RT lain.


Pembuatan Perahu Panjang Adat Irau.  Para warga bergotong royong membuat perahu panjang untuk perayaan acara Adat Irau yang diselenggarkan satu tahun sekali. Tampak pada foto, Pak RT yang mengenakan tutup kepala dan mandau adat suku Tidung memahat kayu untuk menjadi badan perahu. Foto oleh Soni Mijaya


Pada suatu malam, ketika listrik dari PLTD desa telah padam pukul 24.00 WITA (listrik PLTD desa hanya menyala dari pukul 18.00 s.d. 24.00), aku dan Pak RT masih duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati segelas teh panas.

“Kenapa tidak berkebun sayur-mayur, Pak?” Tanyaku malam itu. Kulihat banyak lahan Pak RT yang tertidur, tak termanfaatkan secara maksimal. Jika saja dimanfaatkan untuk sayur mayur, akan ada tambahan penghasilan untuk keluarga Pak RT.

“Dulu aku dan ibu bertanam sayur-mayur, Son. Kau bisa lihat bekas-bekas bedengannya di kebun sawit. Namun, sejak menjadi ketua RT tidak ada lagi waktu luang buatku berkebun sayuran. Padahal, dengan berkebun sayuran dulu aku bisa membangun rumah ini dan bisa saja menguliahkan anakku yang pertama jika ia tak memilih langsung menikah.”

“Memang sejak kapan jadi ketua RT 3, Pak?”

“Sudah lama, mungkin belasan tahun sudah lamanya aku menjadi ketua RT. Sebenarnya sudah cukup lelah aku menjadi ketua RT, tetapi apalah daya wargaku hanya ingin aku yang menjadi ketua RT. Kau lihat sendiri kan, semua ketua RT diganti setelah kepala desa yang baru dilantik beberapa bulan lalu, terkecuali aku. Tak tahulah aku juga Son, kenapa warga tidak mau memilih orang lain.”

“Mungkin karena sudah sangat percaya pada Bapak.” Aku menukas.

“Entahlah. Rumah ini dari dulu selalu didatangi orang-orang dari jauh, ada yang membangun rumah sakit, PLTD, PAM, dan sekarang PLTS padahal ada rumah kepala desa atau pun kantor desa.”

“Rumah sakit yang di pinggir jalan sebelum lokasi PLTS itu, Pak?” Aku ingat ada rumah sakit Pratama yang sedang dibangun beberapa puluh meter sebelum lokasi PLTS.

“Iya, Son. Dulu aku yang mengurus pembukaan lahan hutan di lokasi rumah sakit tersebut sampai pengerukan dan perataan tanahnya. Mungkin orang-orang berpikir ketua RT 3 ini banyak uangnya. Padahal, tugas tersebut dipasrahkan padaku karena tidak orang lain yang mau, tidak ada uangnya. Tanah-tanah timbunan dari pengerukan lahan kupersilakan pada warga untuk mengambilnya cuma-cuma asal mereka ada truk pengangkut. Itu pun masih ada warga yang berprasangka buruk bahwa aku menjual tanah hasil kerukan tersebut.” 

“Kenapa ya Pak masih ada yang berprasangka buruk begitu?”

“Ya begitulah warga di sini, Son.” Pak RT menghembuskan asap-asap rokok sambil bersiap meneruskan bicara. “Faktor pendidikan yang terbatas, wawasan yang kurang, dan pergaulan yang sempit barang kali adalah penyebabnya. Lumayan lebih baik saat ini pendidikan dari SD sampai SMA sudah ada di wilayah kecamatan. Dulu, untuk bisa sekolah SMP dan SMA kami harus ke luar wilayah dan tinggal di sana dengan indekos atau mengontrak rumah. Aku sendiri dulu sekolah SMP dan SMA sambil berjualan. Pulang sekolah, aku berjualan untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah. Enam tahun lamanya aku sekolah dan belum pernah sekali pun aku pulang demi pendidikan saat itu.”

Aku membayangkan betapa sulit hidup zaman itu di sini. Jalan belum ada, alat transportasi mungkin hanya melalui sungai, terlebih lagi listrik karena saat ini saja listrik hanya bisa menyala beberapa jam di malam hari. Gelap gulita semua yang tampak.

“Maka kami benar-benar bersyukur akhirnya setelah sekian lama merdeka listrik bisa masuk juga ke desa kami.” Pak RT melanjutkan. “Bayangkan, bertahun-tahun lamanya kami hidup tanpa penerangan lampu. Bantuan PLTD desa dari Pemda juga belum lama beroperasi, beberapa tahun ini saja. Sebelumnya hanya lampu minyak yang kami gunakan. Sedangkan harga minyak di sini dua kali lipat dari harga minyak di Jawa.” Ia tertawa.

Aku hanya bisa terdiam membisu, turut prihatin dengan keadaan yang timpang ini. Aku jadi ingat bagaimana listrik setiap saat bisa dinikmati di kota. Ketika mata terpejam dan lampu kamar tidur masih menyala di sana, anak-anak di sini untuk belajar di malam hari harus bersusah payah mendekati pelita yang dikerumuni kelekatu. Ketika mal besar berkilauan dengan jutaan watt daya di sana, para warga di sini harus meraba-raba dalam kegelapan untuk sekadar membuang hajat. Saat gegap gempita lampu sorot dan sound system setiap malam menggelegar di sana, orang-orang di sini hanya bisa merayakannya dengan sepi dan sunyi senyap yang mencekam. 

Waktu pun berlalu begitu cepat. Pembangunan PLTS telah selesai. Kontraktor telah pulang, pemasangan instalasi sedang dilakukan. Masa tugasku pun telah usai. Tak ada perpisahan yang tak menyedihkan, karena tak ada manusia di jagat raya ini yang bisa menjanjikan waktu pertemuan kembali di masa yang akan datang. Mungkin air mata tak bisa mengobati kesedihan ini, tetapi paling tidak bisa memberikan sedikit rasa lega meski tanpa alasan. Pelajaran yang tak pernah kulupakan dalam program ini adalah mengenal seorang ketua RT, pahlawan tak dikenal yang tulus dan sabar mengurus warganya dan bekontribusi besar dalam pembangunan desanya, bapakku Amat Idang.

PLTS Hybrid Desa Pembeliangan. Pembangunan PLTS hybrid di desa Pembeliangan dengan kapasitas 100 kwp (kilo watt peak) selesai dalam waktu tiga bulan. Normalnya, PLTS berkapasitas 100 kwp bisa melistriki sekitar 500 rumah khusus untuk penerangan. Foto oleh Soni Mijaya