Sunday, 14 August 2016

Ibu, Sosok yang Melintasi Batas Manusia (2)

Mencoba merefleksikan –


1 Juli 2016

Saat tulisan ini kubuat, ritual doa untuk 100 hari meninggalnya ibu baru saja selesai seminggu lalu. Aku memang tidak bisa hadir secara fisik pada peringatan tersebut, tapi doa untuknya terpanjat setiap lima waktu. Tak kusangka sebelumnya bahwa tulisan ini akan kubuat di Pusdiklat EBTKE, tempat terakhir aku berpamitan pada almarhumah ibu tahun lalu sebelum akhirnya tanpa bertemu dengannya lagi langsung berangkat ke Kalimantan. Kali ini, aku bahkan akan pergi meninggalkan rumah untuk tempat yang lebih jauh dan lebih lama: Papua untuk satu tahun. Mengapa? Semoga tulisan ini bisa menjawabnya.

Selama seratus hari lebih setelah ibu meninggal aku banyak menemukan hal baru. Aku merasa ada sesuatu yang menggumpal dalam pikiran dan jiwaku yang semakin lama semakin menguat, sebuah kesimpulan atas kehidupan yang fana dan sifatnya sementara, sebuah skenario yang telah ditulis dan diarahkan menuju hal-hal yang berkaitan. Hasil refleksi itu “mendatangiku” tanpa kurencanakan dari pengalaman pribadi, juga dari buku-buku yang “menemukanku”.

Beberapa hari yang lalu Osa memintaku untuk mengumpulkan catatan harian sewaktu di lokasi penempatan karena diminta oleh ESDM. Kucari file catatan harian di Kalimantan, meskipun tidak utuh bisa kukirimkan juga sekadarnya. Permintaan catatan harian itu membuatku ingin membaca kembali apa yang pernah kualami selama di Kalimantan. Ternyata secara mengejutkan, ada peristiwa yang menyadarkanku bahwa tanda-tanda meninggalnya ibu telah tampak sebelum kabar duka tiba.


Di dalam Islam, begitu juga ajaran spiritual kultural Jawa, peristiwa meninggalnya seseorang akan didahului dengan adanya tanda-tanda sekitar tujuh hari sebelum nyawa dicabut. Catatan harianku di atas bertanggalkan 7 Maret 2016, sedangkan ibu meninggal tanggal 13 Maret 2016 malam. Setelah kurenungkan, mungkin itulah cara Tuhan menyampaikan salam pamitan ibu untukku. Dia menyampaikan salam melalui seekor burung yang perkasa, yang suaranya sanggup membuat burung-burung lain berhenti berkicau agar salam itu benar-benar sampai padaku. Di tengah suasana obrolan sore yang entah kapan bisa lagi terulang bersama bapak angkatku di Kalimantan itu, aku saat ini baru bisa mengilhami bahwa suasana hati kami sebenarnya juga murung. Kami murung mendengar suara sasmita burung Kangkatau, murung bahwa kami suatu hari nanti akan mengenang suasana sore itu, juga Tuhan mungkin menyelipkan kemurungan salam pamit dari ibu yang belum kusadari.

Meskipun tak terlihat, aku masih bersedih. Apa lagi ingatan-ingatan bulan puasa seperti ini adalah bulan yang paling dirindukan. Biasanya ibu akan bangun lebih awal, menyiapkan hidangan sahur untuk keluarga, bersama bapak membangunkan anak-anaknya, lebih giat menyuruh anak-anaknya untuk sholat berjamaah ke masjid, sholat taraweh, menyiapkan kolak pisang dari pohon yang bapak tanam sendiri di kebun belakang rumah, dan pada saat senja tiba tidak ada kebahagiaan yang lebih bernilai daripada duduk bersama-sama sekeluarga di hadapan hidangan sambil menantikan maghrib.

Aku tahu itu cuma kenangan. Pernah kubilang sebelumnya bahwa “hari esok tidak akan lagi sama untukku”. Ya, hari ini tidak sama lagi. Bukan hanya aku yang terpukul, tapi bisa kurasakan bapak dan adik-adikku juga. Inilah pertama kalinya, aku belajar sahur, buka puasa, dan melakukan rutinitas lainnya di bulan Ramadhan tanpa ditemani ibu. Aku, bapak, saudara-saudariku belajar untuk pertama kalinya untuk banyak hal tanpa almarhumah.
“Belajar” ini adalah hasil refleksi yang paling utama untukku dari meninggalnya ibu. Aku belajar lebih mandiri, mengingat dan menaati perintah-perintah ibu ketika hidup, dan dalam beberapa kesempatan melakukan hal-hal yang biasa ibu lakukan di rumah. Semuanya itu merupakan hal baru yang membuatku menjadi pribadi yang lebih mandiri lagi.

Perlahan tapi pasti, ternyata ketiadaan ibu membuatku merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan. Aku merasakan bahwa orang sedekat ibu bisa dengan tanpa disangka diambil kehidupannya begitu saja. Namun ketika aku juga menemukan kehidupan dan kematian seseorang saat di Kalimantan, aku menjadi semakin yakin bahwa di mana pun, kehidupan dan kematian terjadi. Ada yang hidup di tengah keadaan yang berlimpah, berkecukupan, atau kekurangan. Ada yang meninggal dalam keadaan naas, tenang, atau penasaran.

Di belahan bumi mana pun, itu semua bisa terjadi. Selanjutnya, seperti telah Tuhan rencanakan buku-buku tentang kehidupan pun menemukanku. Buku-buku karangan Cak Nun, Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, dan Pram menguatkan ilham itu, ilham bukankah kita tidak pernah meminta untuk hidup? Lalu hidup begitu saja diberikan. Maka, sewaktu-waktu hidup itu diambil sebenarnya kita tidak punya hak apa pun untuk menuntutnya. Kita hanya bisa berterima kasih bahwa kita diberi kesempatan mengecap indahnya kehidupan, bisa belajar tentang banyak hal, bisa mengenal keluarga tempat kita dititipkan, sahabat, teman, sosok-sosok manusia yang agung, dan semua kesempatan yang pernah didapatkan. 
Begitu pun dengan kehidupan ibu. Aku dan saudara-saudaraku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan bahwa kami lahir dari rahimnya, bapak berterima kasih karena disandingkan dengan sosok wanita yang amat sangat penyabar, tak pernah menuntut apa pun kecuali kebahagiaan dan keberhasilan anak-anaknya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau telah berikan kami kesempatan berada di antara manusia agung seperti dia semasa hidup.

Aku masih ingat betul dulu ibu pernah berkata, “Semoga kelak kamu jadi manusia yang berguna buat bangsa, negara, dan agama.” Di kesempatan lain ibu pernah juga bilang, ”Laki-laki itu jauh lengkah. Jangan pikirkan wanita dulu. Artinya, laki-laki itu langkahnya jauh, kejar dulu cita-cita, jangan terburu-buru untuk menikah. Ketika aku berpamitan untuk pergi ke Kalimantan, ibu pun mendukungku. Aku cukup bersyukur bahwa aku ditinggalkan ibu dalam keadaan diridhainya. Di akhir pertemuan kami, di tepi jalan raya saat menunggu bis yang akan mengantarkanku ke Ciracas bulan September tahun 2015, aku masih ingat betul ibu memelukku sambil mengucurkan air mata haru bahagia bahwa anaknya bisa terus belajar, berkenalan dengan banyak orang, dan mencari pengalaman hidup. Aku hanya bisa terdiam sambil mengusap-usap punggungnya.

Kalimantan mengajarkanku banyak hal: ketulusan manusia, kebersamaan, kesederhanaan, kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, perpisahan, merasa bersyukur, dan banyak lagi. Banyak sekali dari mereka yang tidak bisa merasakan fasilitas-fasilitas yang memadai. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang pedalaman begitu sejak lahir. Sedih rasanya saat menyebutkan doraemon kepada anak-anak dan tidak ada yang mengenalnya. Perasaan ini semakin mengharukan ketika mereka dalam keadaan serba terbatas tersebut memiliki ketulusan hati. Mereka tidak mengenal aku sebelumnya. Aku bukan teman, saudara, apa lagi keluarga buat mereka. Namun, ketika aku membutuhkan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kehidupan sosial mereka dengan tulus memberikan apa yang mereka miliki: makanan, tempat tinggal, waktu, tenaga, dan pikiran. 

Aku tidak butuh alasan lebih lagi untuk mencintai mereka. Aku menemukan cinta di Kalimantan, cinta kepada keluarga, saudara setanah air, cinta kepada sesama manusia.
Maka sebenarnya, menyenangkan almarhumah ibu agar harapan terhadap anaknya tercapai menjadi alasan utamaku untuk melanjutkan jalan ini, menuju Papua, memberi dan menerima, menguatkan cinta kepada mereka sebagai saudara setanah air, sebagai sesama manusia. Ketiadaan ibu buatku menjadi pemacu tersendiri untuk lebih keras lagi terhadap diri sendiri dan dunia ini. Barang kali Kalimantan atau Papua memiliki rintangan, itu lah resiko yang akan dan harus kuhadapi untuk menggapai menjadi manusia seperi yang ibu doakan.

Dalam alasan lain, aku pernah menjawab pertanyaan seseorang. “Kenapa kamu ikut program ke Papua ini?” katanya di sebuah rumah antik. Aku cuma menjawab, “Jalan-jalan dan mencari.” Aku tahu, banyak teman-teman yang lebih berhasil daripada aku sewaktu penempatan lokasi di Kalimantan. Aku sadar belum banyak aksi yang kuperbuat dalam konteks pemberdayaan masyarakat banyak. Namun, di luar itu ada hal-hal yang aku yakin sulit untuk diukur mengenai pengalaman dan pembelajaran pribadi selama di desa pedalaman. Pengalaman dan pembelajaran itu barang kali tidak bisa terlihat sebagai sesuatu yang kasat mata, tetapi terasa sangat mendalam buatku. Hal itu yang masih ingin kucari dan kudapatkan dengan “berjalan-jalan”, bertemu dengan orang-orang, menjalin hubungan kekeluargaan dengan mereka, menerima dan memberi, serta menemukan makna dari semua ini.

Aku masih mencari seberapa besar yang bisa kuberikan, aku berutang pada mereka yang berada di pedalaman atas semua pendidikan dan ilmu yang telah kuperoleh karena secara tak langsung ada hak mereka di diriku, maka utang itu harus kubayar. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan negara seindah Indonesia. Aku masih mencari untuk apa Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan. Aku masih mencari untuk apa kita saling mengenal. Aku masih mencari untuk apa hidup ini.


Tuhan telah memberikanku akal dan hati. Meninggalnya ibu bisa menjadi sebab keterpurukan atau justru kebangkitan diriku. Bekal akal dan hati telah Tuhan berikan untuk menunjukkanku bahwa aku harus bangkit. Aku ingin ibu di sana dalam keadaan terang benderang, lapang, melihatku berproses untuk menjadi manusia. Aku yakin bahwa suatu saat nanti, akan ada tempat aku dan ibu bisa berkumpul lagi. Di sana aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah lulus menjadi manusia.

Sunday, 29 May 2016

Ibu, Sosok yang Melintasi Batas Kelemahan Manusia



















I love my mom, Gunung Lawu 1-12-2013. Kuperlihatkan foto ini pada ibu beberapa waktu setelah pendakian Gunung Lawu. Ia malah berkata, "Kenapa wajahmu merah begitu?" Mungkin ia malu untuk mengomentari tulisan di atas kertas. Foto oleh Hanif Junaedi Adi Putra.




Sebuah Kronologi –


Namaku Soni Mijaya. Tulisan ini menceritakan sebuah kisah saat usiaku hampir 25 tahun. Asalku dari Pandeglang, Banten. Dalam program Patriot Energi aku ditempatkan di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Bukan Pandeglang, Kediri (tempatku sekolah), atau Jogja (tempatku kuliah) tempat yang menyaksikanku menangis panjang untuk hal ini. Adalah sebuah desa di seberang pulau yang jauhnya ribuan kilometer dari asalku, desa yang bernama Mansalong di Kalimantan Utara yang menjadi saksi bisu malam itu. Saksi bisu akan perasaan sedih, kecewa, bersalah, lelah, bingung, dan takut karena sebuah kabar: ibu meninggal dunia.

Tulisan ini kubuat dua bulan setelah berlalunya ibu sehingga kurasa sudah cukup reda perasaan ini kalau mengingat-ingatnya kembali. Malam itu, 13 Maret 2016 waktu menunjukkan hampir pukul 12. Aku baru saja selesai mengobrol dengan Pak Rudi, bapak sekretaris camat Sebuku di ruang televisinya. Kami asyik mengobrolkan banyak hal, mulai dari ide-ide Pak Rudi jika pemekaran kabupaten Bumi Daya Perbatasan (BDP) telah disahkan sampai perkembangan olahraga tinju bebas di Indonesia yang dipantau salah satu stasiun televisi swasta. Temanku, Rico sudah pulas terlentang di kamar.

Aku dan Rico tiba di rumah Pak Rudi sehari sebelumnya. Tugas kami di desa masing-masing telah selesai sehingga berencana mengunjungi desa lokasi Patriot lainnya yang ada di wilayah III Kabupaten Nunukan. Beberapa hari sebelumnya telah kami habiskan di desa lokasi Din dan Nanda, mengikuti mereka melakukan sosialisasi tentang PLTS, dan mengenal serta bermain voli bersama para warga di sana. Setelah dari lokasi Din dan Nanda, kami berencana mengunjungi desa Sumentobol, tempat Makruf dan Anggun berada. Selanjutnya, bersama-sama secara serempak kami bisa meninggalkan Kalimantan karena beberapa hari lagi masa tugas mereka pun telah selesai.

Desa Sumentobol merupakan salah satu desa di hulu sungai Sebuku yang cukup terisolasi. Tidak ada sinyal, tidak ada akses yang mudah untuk ke sana. Jalur yang harus ditempuh untuk sampai ke sana adalah sungai yang punya banyak jeram. Perahu yang digunakan pun adalah perahu panjang dengan mesin dan kapasitas terbatas. Aku dan Rico singgah di rumah Pak Rudi dalam rangka menanti perahu tersebut. Dan malam itu adalah hari kedua kami di rumah Pak Rudi karena kami belum juga mendapatkan perahu. Besok kami akan menengok kembali pangkalan perahu.

Namun, rencana tinggal rencana. Takdir berbicara lain. Saat aku masuk kamar, kulihat ada beberapa missed call dari kakakku. Firasatku mengatakan ini musibah karena tak pernah sekali pun ia menelepon pada saat larut malam. Maka, seketika itu pun kutelepon kembali nomornya.

Lututku lemas saat telepon diangkat di ujung sana. Yang kudengar hanya isak tangis yang tak henti-henti sambil mengatakan, “Encon, mamah Encon. Mamah meninggal.”

Aku masih sadar untuk mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.” Kupandangi dinding kayu bekirai dari kamar yang mengurungku. Telepon genggam masih melekat di telingaku dan suara isak tangis di ujung sana masih meraung-raung. Sebagai lelaki yang paling tua, aku coba menguatkan kakak perempuanku, memintanya bersabar, dan menyebut asma Allah.
Aku masih ingat betul malam itu, meski perasaanku sendiri kacau tapi kucoba untuk tidak membuat suasana keluarga semakin larut dalam kesedihan. Kucoba untuk meyakinkannya bahwa aku cukup tabah mengahadapi ini, sendirian di daerah yang sangat jauh dari kampung halaman. Kutunggu kakak mereda beberapa menit dari telepon dan kututup telepon saat suara tangisnya mulai merendah.

Telepon kuletakkan kembali di tempat semula. Rico telah pulas tertidur di tempat tidur. Segan kubangunkan dia meski dalam keadaan begini. Biar kunikmati ini sendirian. Kusandarkan kening di dinding kamar dengan tangan yang menopang. Kulepaskan semuanya dari pikiran yang kalut, hati yang hancur, dan raga yang lemas.

Tetes-tetes, air mata jatuh dari kelenjar yang kempis dan kembung selebar-lebarnya. Asin air mata dan ingus yang mengalir ke mulut terasa pahit di dadaku. Kurasa pahit untuk mengenangkan bahwa ibu yang hanya satu kumiliki di dunia ini meninggal di usia 44 tahun, tanpa disangka, tanpa dimengerti. Kurasa kecewa karena perpisahan ini terjadi tanpa ucapan selamat tinggal dan berada di sisinya. Kekhawatiran yang semula hinggap di diriku akan nenek yang telah sering sakit-sakitan ternyata terbantahkan oleh kenyataan ini, anak perempuannya telah mendahului dirinya.

Telepon kembali berdering, kuusap mataku dan kutahan isak tangis sebaik mungkin. Bapak berbicara di ujung telepon dan mempertanyakan apa yang akan kulakukan. Kubilang aku akan pulang hari ini juga. Paling cepat besok malam aku bisa tiba di rumah. Bapak pun meminta izin padaku untuk memakamkan ibu siang hari itu juga sehingga aku tidak akan punya kesempatan melihat lagi wajahnya. Aku hanya menjawab, “Iya, kasihan mamah. Segera dimakamkan saja.” Tangis berlanjut entah untuk berapa lama waktu berselang hingga pagi tiba tanpa kuketahui.

Kuceritakan pada Rico apa yang terjadi tadi malam. Sebagai sahabat seperjuangan, ia begitu hangat padaku, memintaku untuk bersabar dan menerima semuanya dengan hati yang lapang. Keluar kamar, kudapati Bu Sekcam dan menceritakan bahwa ibuku telah meninggal. Kubilang membatalkan kepergian ke Sumentobol. Setelah memberikan wedang uwuh dan kain batik dari Jogja pada ibu dan bapak Rudi, aku berpamitan. Masih kuingat raut wajah mereka yang terkejut dan prihatin kepadaku. Sempat beberapa pertanyaan kujawab singkat. Mereka pun bisa mengerti. Kuusapi kepala Aiman, adik kecilku yang manis. Sayang, meninggalkan keakraban kami dalam keadaan begini. Rico mengantarkanku ke pelabuhan Malinau pagi itu juga. Ia sempat memotretku dari belakang saat aku melangkahkan kaki ke speedboat. Sampai jumpa, Sahabat.

Aku tahu pikiran dan hatiku masih kacau. Tiga jam perjalanan melintasi sungai dan laut membuat pikiranku berkecamuk, tentang kenyataan baru ini, tentang kenyataan-kenyataan baru yang akan kuhadapi. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah “aku hanya tidak peduli”. Aku tidak peduli bagaimana caranya pulang dari pedalaman Kalimantan, ada atau tidak pesawat yang membawaku hari itu juga, berapa biaya yang harus kebayar, berapa besar sakit yang harus kutanggung, berapa banyak kebingungan-kebingungan yang menghantuiku atas pernyataan-pernyataan yang menyayat hati: itu dia ibumu, yang biasa memasakkan makanan untukmu di rumah, yang biasa menantikanmu dalam tangis ketika kau tiba di rumah setelah lama di perantauan, yang sering kau memanja padanya untuk mengerok punggungmu kalau kau masuk angin atau mengusapkan minyak kayu putih, yang biasa duduk di tengah rumah sambil minum teh, dan besok atau lusa akan seperti biasanya tetapi tidak untukmu.

Sepanjang perjalanan, aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa untuknya. Berulang kali mata berkaca-kaca, berulang kali pula kuusap. Aku hanya ingin tidur dan semoga bertemu dengannya dalam mimpi sehingga aku yang banyak bersalah ini bisa meminta maaf, mengucapkan selamat tinggal padanya, tetapi tak bisa. Begitulah perjalanan sepanjang Kalimantan hingga aku tiba di Jakarta. Keadaan semakin sendu saat bibiku menjemput di bandara dan kami duduk di rest area berbincang banyak apa yang terjadi selama aku di Kalimantan.

Setiba di rumah, orang-orang masih ramai padahal jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB. Mereka bergadang, menunggui rumah sambil mengobrol atau m0engaji. Semua adalah saudara-saudara ibu, kakek, nenek, bapak, dan adik-adikku. Tangis tak bisa dicegah lagi untuk pecah di situ, di rumah kami. Aku tak mau meraung, aku meyakinkan mereka bahwa aku cukup tegar. Aku pun sedih, tetapi biarlah semua telah ditentukan.

Kudengar cerita demi cerita bagaimana semuanya terjadi. Mereka yakin bahwa sebenarnya ibu telah diberi kesempatan kedua setelah bulan Desember tahun 2015 hampir saja tak bisa lagi “bangun”. Aku ingat bulan itu aku masih di desa Pembeliangan dan ditelepon bahwa ibu sedang dirawat di rumah sakit karena diabetes dan gejala liver, tetapi tidak lama berselang ibu sudah bisa dibawa pulang lagi ke rumah.  Meskipun aku juga sempat kaget karena saat melepas kepergianku ke Kalimantan ibu masih sehat dan bugar, tapi syukurlah ibu tak lama dirawat di rumah sakit.

Tidak ada yang menyangka juga bahwa ibu akan wafat karena sebelumnya keadaan ibu sudah mulai pulih. Ibu juga tidak pernah meninggalkan pesan apa-apa yang biasa menjadi pesan terakhir bagi orang yang akan meninggal. Keluargaku hanya bisa berserah bahwa semua terjadi karena takdir semata. Dan maut, bila Tuhan telah berkehendak maka tak bisa dipercepat atau diperlambat.

Bapak bercerita bahwa pada hari ibu meninggal, ibu seperti biasa dalam perawatan. Makan malam ibu disuapi oleh adik laki-lakiku lalu beristirahat di tempat tidur. Semuanya biasa saja sehingga adikku pergi main keluar dan bapak tidur di sebelah ibu. Namun, tiba-tiba saja nafas ibu seperti tersengal sekitar pukul 10 malam sehingga bapak terbangun. Bapak mendekatkan mulutnya ke telinga ibu untuk melafadzkan kalimat-kalimat syahadat. Bapak mulai berkaca-kaca karena ibu sempat kejang-kejang dan terlelap untuk selamanya.

Segera setelah itu bapak meminta bantuan para tetangga dan membawa ibu ke rumah sakit. Bapak hanya ingin memastikan apakah ibu “masih ada” ataukah tidak. Bantuan kejutan pun dilakukan, tetapi tak berdampak apa pun. Dokter pun memberi tahu bahwa ibu telah tiada. Kemungkinan besar meninggalnya adalah serangan jantung. Saat itulah kakak meneleponku.



Sunday, 22 May 2016

Kawanku Melamar Seorang Gadis

Sepanjang hari, fajar menyeruak di ufuk timur mengawal datangnya hari yang baru. Adakah posisi bumi terhadap matahari sang pembawa fajar meleset dari orbitnya hingga tadi pagi atau kemarin fajar terbit dari ufuk barat? Adakah semua ini berjalan secara kebetulan? Foto diambil di Sebuku, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto oleh Soni Mijaya.

Kemarin siang, seorang kawan dekat dengan usia terpaut dua tahun lebih tua melamar seorang gadis Jogja. Ah, aku kenal mereka berdua hampir dua tahun terakhir ini. Sungguh, tak kusangka kalau mereka sedekat itu dan berakhir dengan lamaran dan pernikahan. Tak banyak pertemuan yang kusaksikan karena kawanku kutahu betul, ia tinggal satu atap bahkan satu kamar denganku. Tak pernah juga kudengar cerita-cerita tentang sang gadis. Bahkan, yang sering kudengar adalah kisah gadis yang lain beberapa bulan sebelumnya (sebelum aku pergi ke Kalimantan). Sungguh, tak kusangka.

Melewati perjalanan selama satu jam pada Jumat siang yang cerah, mobil membawa rombongan kami menuju Kulonprogo, rumah sang gadis, dari jalan Ringroad barat menuju jalan Wates – Purworejo. Sekitar setengah jam melintas di jalan utama, mobil masuk ke dalam jalan kecil yang ternyata cukup dalam dan bertebaran hutan di kanan kirinya selama setengah jam berikutnya. Begitu dalam, begitu pelosok rumah sang gadis, pikirku. Namun, hal ini justru menimbulkan gairah ilham di alam pikiranku.

Kawanku, Bayu Sutrisno namanya, seorang Jawa yang tampan menurut pandangan umum. Ia berasal dari Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang kurang lebih mirip keadaannya dengan Kulonprogo. Ia berasal dari kampung yang dalam, penuh dengan hutan dan tambang-tambang tradisional peninggalan zaman kolonial. Meskipun aku belum pernah ke rumahnya, tapi berdasarkan cerita kawan yang lain, pelosok juga keberadaanya.

Di dalam jiwa dan pikiranku akhirnya semakin menguat kesimpulan-kesimpulan ini. Siapa kita yang sanggup melawan perasaan di dalam sukma terhadap seseorang? Siapa kita yang manusia kecil di antara semesta yang luas ini mampu menyangka bertemu jodoh dari kampung nan jauh di sana dengan kampung nun jauh pula di sini? Siapa kita yang akhirnya hanya mampu tersenyum dan semakin yakin bahwa pertemuan ini telah diatur, telah dirancang, dan telah ditentukan kapan dan bagaimananya? Siapa kita, kalau bukan hanya seorang hamba yang berada di bawah kehendak-Nya.

Akhirnya, proses lamaran berjalan dengan lancar. Lamaran telah diterima. Dua keluarga telah dipertemukan. Sepasang kekasih telah bertukar senyuman. Doa-doa telah diucapkan. Tanggal pernikahan pula telah ditetapkan. Dari persaksian ini, aku banyak belajar. Kupikir, sebenarnya anugerah Tuhan yang bernama cinta itu adalah suci. Hanya, tinggal bagaimana manusianya yang menuntun anugerah itu ke arah mana. Dan Bayu sudah menunjukkan padaku mewahnya kesucian itu dalam cara yang mulia.


Sepanjang perjalanan pulang, tampak olehku mentari sore tampak bulat penuh bersarang di atas bukit Menoreh. Lamat-lamat dalam hati aku menginsyafi bahwa sampai saat ini, anugerah Tuhan yang suci itu belum kuperlakukan seharusnya. Entah, mungkin masih panjangkah perjalanan hidup ini atau kah memang belum saatnya kudapati keyakinan. Aku berserah.

Thursday, 19 May 2016

Amat Idang

Tiang-Tiang Jaringan Listrik. Akhirnya pada tahun 2015, tiang-tiang jaringan distribusi listrik berdiri tegak di antara lebatnya hutan Desa Pembeliangan. Jaringan listrik tersebut mendistribusikan energi listrik dari PLTS dan PLN melalui sistem hybrid. Foto oleh Soni Mijaya



Hari itu adalah hari Kamis, 29 Oktober 2015, satu minggu sejak kedatanganku untuk sebuah program di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Aku duduk di sebuah kursi panjang di teras kantor desa. Urusan administrasi dan perkenalan tentang program pendampingan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kepala desa telah selesai. Meskipun cara penuturan bahasanya tidak biasa bagi perasaanku, tetapi aku cukup diterima olehnya. 

Beberapa perangkat desa tampak sibuk berjalan kesana kemari. Hampir tak kuhirauhkan mereka karena pikiranku masih melayang mencari cara agar mendapatkan tempat tinggal untuk lima bulan ke depan. Kepala desa maupun sekretarisnya juga tidak bisa memberikan jalan keluar, baik berupa kos atau sewa rumah. Selama satu minggu lebih ini, aku tinggal di rumah seorang sekretaris camat di desa lain yang ditempuh selama 2 jam perjalanan darat. Terlalu berat bagiku jika harus berangkat setiap hari dengan kendaraan yang belum pasti ada. Di tengah lamunanku, tiba-tiba seorang bapak setengah baya menghampiriku.

“Mas.” Dia tersenyum sambil duduk di sebelahku dengan memegang selembar kertas seperti peta.

Kami pun berkenalan. Bapak berperawakan besar dengan kumis tebal yang rapi itu adalah ketua RT 3 sekaligus orang yang ditugaskan kepala desa untuk mengurus pembangunan PLTS di desa. Mengetahui aku adalah orang dari Jawa yang ditugaskan untuk pendampingan PLTS, alih-alih ia berbicara tentang PLTS, ia malah banyak bercerita tentang keadaan di desa. Dengan antusias, ia gambarkan bagaimana keadaan Desa Pembeliangan, termasuk kekayaan hutan, sungai, udang, ikan, lahan, dan potensi-potensi besar lainnya yang belum dikembangkan secara maksimal. Ia juga bercerita bahwa ia memiliki kelompok di RT-nya yang berfungsi layaknya koperasi meskipun tidak bersifat resmi. Tampaknya, ia ingin potensi-potensi tersebut diketahui orang pendatang sepertiku.

Banyak informasi yang kuperoleh darinya. Hal itu memudahkanku untuk mengenal lebih dekat desa Pembeliangan. Selanjutnya, aku kembali lagi pada kegundahanku. “Ada kah tempat tinggal yang bisa kutempati di desa untuk lima bulan ke depan, Pak?”

Ia mengernyitkan dahinya beberapa saat. “Wah, maaf sepertinya tidak ada, Mas.” 

Baiklah, bertambah besar kekhawatiranku karena sudah tiga orang perangkat desa yang kutanyai mengenai tempat tinggal memberikan jawaban serupa. Akhirnya, setelah bertukar nomor ponsel dengannya aku pun pulang. 

Seminggu kemudian, aku belum bisa beranjak ke desa Pembeliangan lagi karena terkena penyakit yang sangat mengganggu. Seminggu lamanya pergerakanku terbatas di dalam rumah. Beruntung bagiku Bapak sekretaris camat adalah orang yang sangat baik. Ia merawatku layaknya anak sendiri hingga sungkan rasaku terus tinggal di rumahnya. Di hari ketika penyakitku berangsur-angsur pulih, ponselku berdering. Pak RT menelepon.

“Halo, Pak.”

“Halo, Mas Soni. Sekarang Mas Soni di mana?”

“Di Mansalong, Pak. Ada apa, Pak?”

“Wah, jauh benar tinggalnya. Mas Soni ke sini saja. Lebih baik tinggal di rumah saya, ya meskipun kondisi rumah saya seadanya. Kebetulan ini kontraktor PLTS juga baru tiba dan tinggal di rumah saya. Bagaimana, Mas?“

Seperti mendapatkan angin segar yang kutunggu-tunggu sekian lama, kontan aku langsung saja mengiyakan ajakannya. “Baik, Pak. Besok saya berangkat ke Pembeliangan ya.” Sebenarnya sedikit terbersit dalam benakku mengapa Pak RT mengajakku tinggal di rumahnya setelah seminggu yang lalu ia tidak memberikan kesempatan. Pikiran ini pun kusimpan dulu. Suatu saat kemudian akhirnya kutemukan sendiri jawabannya.

Keesokan harinya, aku sudah tiba lagi di desa Pembeliangan dengan membawa barang-barang perlengkapan. Rumah Pak RT memang lazimnya rumah warga lainnya di sini, berupa rumah panggung kayu, tetapi ada kesan yang menarik di sini. Di depan rumahnya ada sungai kecil yang ditumbuhi dengan teratai dan rerumputan rawa. Sebuah jembatan kayu membentang di atasnya, menyuguhkan sebuah rumah panggung cantik berwarna biru di ujungnya. Sederhana memang, tak ada kemewahan dari bahan-bahan yang mahal, tetapi kesan yang diberikan adalah keelokan alam. Aku bertemu Pak RT dan orang-orang kontraktor PLTS di sana. Aku dan para kontraktor sebanyak tiga orang dipersilakan tinggal di tengah rumah untuk meletakkan barang-barang juga beristirahat. Kami dipinjami kasur lantai dan beberapa bantal untuk beristirahat. Tidak ada kamar mandi di rumah Pak RT. Yang ada hanyalah sebuah tempat mandi terbuka di samping rumah dan sebuah WC “alam” dengan jarak agak jauh dari rumah. Dari rumah amat sederhana ini lah pengalaman hidup yang berarti dimulai.

Selama pembangunan PLTS, hampir setiap hari Pak RT, aku, dan para kontraktor pergi ke lokasi pembangunan PLTS. Kontraktor melakukan pembangunan PLTS sebagaimana mestinya. Pak RT dan aku kadang hanya memantau dari sekitar, tetapi tidak jarang juga ikut andil dalam pekerjaan fisik pembangunan PLTS. Setiap saat jam makan, baik pagi, siang, atau pun malam Pak RT selalu mengajakku untuk makan bersama.

Setelah satu minggu tinggal di rumah Pak RT, aku bingung karena tidak pernah membayar makanan. Bapak atau pun Ibu RT tidak pernah membicarakan sebelumnya jika harus membayar setiap kali makan atau berapa harganya. Akhirnya kuputuskan bertanya pada kontraktor yang setiap hari juga makan makanan yang sama denganku.

“Mas, selama ini makan di rumah Pak RT bagaimana ketentuannya?” Tanyaku pada salah satu dari tiga orang kontraktor yang tinggal bersamaku.

“Oh itu bayar per menu Rp 15.000, Mas.” Jawabnya.

Astagfirullah. Aku tak tahu jika ada ketentuan tersebut. Maka, setiba di rumah Pak RT aku langsung menuju dapur dan menemui Bapak dan Ibu RT. 

“Pak, Bu, mohon maaf saya sudah seminggu tinggal di sini dan makan seenaknya saja tanpa membayar.” Kataku penuh penyesalan. Langsung kusambung lagi, “Mungkin ini sedikit biaya untuk belanja makan sehari-hari, Pak, Bu.”

“Wah Mas Soni, tidak usah. Benar-benar tidak usah. Kalau untuk makan tidak usah bayar. Kami sudah biasa. Kalau ada yang bisa dimakan ya alhamdulillah, kalau tidak ada ya tidak bisa makan. Tidak perlu membayar Mas Soni.”

Aku semakin bingung. Tadi kontraktor berkata jika mereka membayar. Sekarang aku ingin membayar tapi Bapak tidak mau. Kemudian sedikit kupaksakan untuk tetap membayar. Namun, Pak RT semakin tidak ingin juga untuk dibayar hingga akhirnya aku menarik diri, khawatir jika membuat Pak RT tersinggung.

“Benar, tidak perlu Mas Soni. Kalau sedang ada makanan ya alhamdulillah ada yang bisa dimakan.”

“Aduh, Bapak. Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi selain terima kasih.” Maka sejak saat itu, aku bagaikan menemukan ayah dan ibu kedua, keluarga baru di sebuah tempat antah-berantah yang bahkan tak kukenal sama sekali sebelumnya. Adalah hati nurani yang ikhlas dan tulus jawaban atas pertanyaanku mengapa aku ditelepon saat itu untuk tinggal di rumah Pak RT.

Hari-hari selanjutnya kulalui hampir selalu bersama-sama Pak RT. Selain mengunjungi lokasi pembangunan PLTS, ia sering mengajakku pada acara-acara kemasyarakatan, seperti rapat desa, pembacaan doa selamat orang yang meninggal, bayi yang baru lahir, pendataan warga, hingga gotong royong acara adat. Ia bahkan beberapa kali mengajakku ke hutan rimba di desa yang memiliki luas wilayah 70.000 ha ini untuk menunjukkan padaku segelintir orang yang rela tinggal berbulan-bulan lamanya di hutan untuk menjaga hutan dari eksploitasi. Tampak terlihat olehku setiap orang yang kami temui begitu menaruh rasa hormat kepada Pak RT, baik warga RT 3 atau pun RT lain.


Pembuatan Perahu Panjang Adat Irau.  Para warga bergotong royong membuat perahu panjang untuk perayaan acara Adat Irau yang diselenggarkan satu tahun sekali. Tampak pada foto, Pak RT yang mengenakan tutup kepala dan mandau adat suku Tidung memahat kayu untuk menjadi badan perahu. Foto oleh Soni Mijaya


Pada suatu malam, ketika listrik dari PLTD desa telah padam pukul 24.00 WITA (listrik PLTD desa hanya menyala dari pukul 18.00 s.d. 24.00), aku dan Pak RT masih duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati segelas teh panas.

“Kenapa tidak berkebun sayur-mayur, Pak?” Tanyaku malam itu. Kulihat banyak lahan Pak RT yang tertidur, tak termanfaatkan secara maksimal. Jika saja dimanfaatkan untuk sayur mayur, akan ada tambahan penghasilan untuk keluarga Pak RT.

“Dulu aku dan ibu bertanam sayur-mayur, Son. Kau bisa lihat bekas-bekas bedengannya di kebun sawit. Namun, sejak menjadi ketua RT tidak ada lagi waktu luang buatku berkebun sayuran. Padahal, dengan berkebun sayuran dulu aku bisa membangun rumah ini dan bisa saja menguliahkan anakku yang pertama jika ia tak memilih langsung menikah.”

“Memang sejak kapan jadi ketua RT 3, Pak?”

“Sudah lama, mungkin belasan tahun sudah lamanya aku menjadi ketua RT. Sebenarnya sudah cukup lelah aku menjadi ketua RT, tetapi apalah daya wargaku hanya ingin aku yang menjadi ketua RT. Kau lihat sendiri kan, semua ketua RT diganti setelah kepala desa yang baru dilantik beberapa bulan lalu, terkecuali aku. Tak tahulah aku juga Son, kenapa warga tidak mau memilih orang lain.”

“Mungkin karena sudah sangat percaya pada Bapak.” Aku menukas.

“Entahlah. Rumah ini dari dulu selalu didatangi orang-orang dari jauh, ada yang membangun rumah sakit, PLTD, PAM, dan sekarang PLTS padahal ada rumah kepala desa atau pun kantor desa.”

“Rumah sakit yang di pinggir jalan sebelum lokasi PLTS itu, Pak?” Aku ingat ada rumah sakit Pratama yang sedang dibangun beberapa puluh meter sebelum lokasi PLTS.

“Iya, Son. Dulu aku yang mengurus pembukaan lahan hutan di lokasi rumah sakit tersebut sampai pengerukan dan perataan tanahnya. Mungkin orang-orang berpikir ketua RT 3 ini banyak uangnya. Padahal, tugas tersebut dipasrahkan padaku karena tidak orang lain yang mau, tidak ada uangnya. Tanah-tanah timbunan dari pengerukan lahan kupersilakan pada warga untuk mengambilnya cuma-cuma asal mereka ada truk pengangkut. Itu pun masih ada warga yang berprasangka buruk bahwa aku menjual tanah hasil kerukan tersebut.” 

“Kenapa ya Pak masih ada yang berprasangka buruk begitu?”

“Ya begitulah warga di sini, Son.” Pak RT menghembuskan asap-asap rokok sambil bersiap meneruskan bicara. “Faktor pendidikan yang terbatas, wawasan yang kurang, dan pergaulan yang sempit barang kali adalah penyebabnya. Lumayan lebih baik saat ini pendidikan dari SD sampai SMA sudah ada di wilayah kecamatan. Dulu, untuk bisa sekolah SMP dan SMA kami harus ke luar wilayah dan tinggal di sana dengan indekos atau mengontrak rumah. Aku sendiri dulu sekolah SMP dan SMA sambil berjualan. Pulang sekolah, aku berjualan untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah. Enam tahun lamanya aku sekolah dan belum pernah sekali pun aku pulang demi pendidikan saat itu.”

Aku membayangkan betapa sulit hidup zaman itu di sini. Jalan belum ada, alat transportasi mungkin hanya melalui sungai, terlebih lagi listrik karena saat ini saja listrik hanya bisa menyala beberapa jam di malam hari. Gelap gulita semua yang tampak.

“Maka kami benar-benar bersyukur akhirnya setelah sekian lama merdeka listrik bisa masuk juga ke desa kami.” Pak RT melanjutkan. “Bayangkan, bertahun-tahun lamanya kami hidup tanpa penerangan lampu. Bantuan PLTD desa dari Pemda juga belum lama beroperasi, beberapa tahun ini saja. Sebelumnya hanya lampu minyak yang kami gunakan. Sedangkan harga minyak di sini dua kali lipat dari harga minyak di Jawa.” Ia tertawa.

Aku hanya bisa terdiam membisu, turut prihatin dengan keadaan yang timpang ini. Aku jadi ingat bagaimana listrik setiap saat bisa dinikmati di kota. Ketika mata terpejam dan lampu kamar tidur masih menyala di sana, anak-anak di sini untuk belajar di malam hari harus bersusah payah mendekati pelita yang dikerumuni kelekatu. Ketika mal besar berkilauan dengan jutaan watt daya di sana, para warga di sini harus meraba-raba dalam kegelapan untuk sekadar membuang hajat. Saat gegap gempita lampu sorot dan sound system setiap malam menggelegar di sana, orang-orang di sini hanya bisa merayakannya dengan sepi dan sunyi senyap yang mencekam. 

Waktu pun berlalu begitu cepat. Pembangunan PLTS telah selesai. Kontraktor telah pulang, pemasangan instalasi sedang dilakukan. Masa tugasku pun telah usai. Tak ada perpisahan yang tak menyedihkan, karena tak ada manusia di jagat raya ini yang bisa menjanjikan waktu pertemuan kembali di masa yang akan datang. Mungkin air mata tak bisa mengobati kesedihan ini, tetapi paling tidak bisa memberikan sedikit rasa lega meski tanpa alasan. Pelajaran yang tak pernah kulupakan dalam program ini adalah mengenal seorang ketua RT, pahlawan tak dikenal yang tulus dan sabar mengurus warganya dan bekontribusi besar dalam pembangunan desanya, bapakku Amat Idang.

PLTS Hybrid Desa Pembeliangan. Pembangunan PLTS hybrid di desa Pembeliangan dengan kapasitas 100 kwp (kilo watt peak) selesai dalam waktu tiga bulan. Normalnya, PLTS berkapasitas 100 kwp bisa melistriki sekitar 500 rumah khusus untuk penerangan. Foto oleh Soni Mijaya




Thursday, 12 May 2016

Yang Sempat Mati Suri

Lilin-lilin peneman makan malam di sebuah kafe di sudut Ciputat, Tangerang Selatan. Foto oleh: Soni Mijaya

Lama sudah aku tidak menulis. Akhirnya kulakukan lagi aktivitas yang kusukai tetapi selalu berat untuk dimulai ini. Selalu saja segala seuatu itu membutuhkan momentum, entah, seperti tulisan ini yang telah mendapatkan momentumnya, kupikir. Atau adakah sesuatu yang terjadi tanpa momentum? Barang kali kau tahu, maka aku perlu mengerti.

Hampir satu tahun ini, telah terjadi dalam kehidupanku yang semakin rumit dan tidak membahagiakan – yang kumaksud adalah tidak membahagiakan seperti halnya hidupku saat-saat TK dan SD – momen-momen yang kuyakini tak dapat kulupakan selama perjalanan hidupku selanjutnya, tentunya asalkan aku tidak mendapat serangan amnesia berat.

Dalam taraf ini, aku akhirnya mengalami lagi hal yang secara mudah kusebut sebagai “loncatan hidup”. Ya, loncatan kusebut. Karena ada perpindahan dari suatu posisi ke posisi lain yang lebih jauh/tinggi. Posisi ini bagiku adalah hal yang sangat universal. Seperti kata capaian yang bisa digandengkan menjadi frasa capaian intelektual, capaian tenaga, dan capaian jaringan, atau bahkan lebih absurd lagi seperti capaian kedewasaan, beitulah posisi ini kutempatkan. Pada intinya, posisi ini berpindah. Seperti tanjakan, posisi ini justru cenderung menuju arah yang lebih tinggi dan kompleks, terjal dan lebih berat.

Loncatan ini mirip dengan saat hijrahku dari bangku SMA ke bangku kuliah, dari ruang kelas ke sekretariat, dari firman Tuhan ke pemikiran ilmuan, dari teori buku ke realitas sosial, dan dari domain ke domain yang lainnya. Aku yakin kau pun mengalaminya, menerima dan memaknai loncatan-loncatan itu dengan bentuk, cara, dan hasil yang berbeda. Kadang ada romantika yang berdrama, kadang pula tak sedikit dialektika yang berdialog di sana.

Aku atau kau menjadi orang yang bertemu dengan, menemukan, berpisah, meninggalkan, ditinggalkan, berbicara, mendengarkan, terhegemoni, memengaruhi, dan seterusnya. Semuanya dibungkus oleh package bernama waktu, dan waktu itu semua telah sepakat: tak terasa cepat berlalu. Dan yang menurutku paling istimewa adalah bukan aku atau kau yang menjadi seperti apa setelah melalui suatu dimensi waktu, tetapi bertemu dengan mereka, orang-orang itu yang hendak kuceritakan dan layak dikisahkan apa adanya di halaman-halaman selanjutnya.

Maka dalam kesempatan ini, kucoba menampilkan kembali hasil rekaman yang berserakan di lembar-lembar buku saku dalam loncatan hidup setahunan ini. Kuharap, untuk tahun-tahun berikutnya pun semoga aku sanggup untuk istiqomah merekam pelajaran-pelajaran berharga bertemu dengan mereka. Bukan untuk apa-apa, aku cukup senang jika hidangan ini menjadi salah satu menu dari kudapan yang biasanya sehari-hari kau cemili, habiskan, atau hanya dipandangi saja saat diet, ketika kau di kamar, kantor, warung, kafe, atau di mana pun. Terlebih senang lagi jika ada satu dua recehan kecil yang bisa kau ambil dari sini dan kau simpan baik-baik di saku yang kemudian bisa kau berikan pada pengamen, tukang parkir, atau celengan kaleng.

Terakhir, kuucapkan terima kasih sedalamnya pada kau yang membuka toples kudapan ini dan perlahan mengunyah renyah satu per satu isinya.


Semoga kau berkenan berdengar.

Saturday, 6 December 2014

Quote Film Finding Neverland


"All great writers begin with a good leather binding and a respectable title"
(James Barrie/Johny Depp)

Thursday, 13 November 2014

Senandung Beduk Kampung Ambuleuit

Senandung Beduk Kampung Ambuleuit

            Sudah sebelas tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Embah Pendi. Ah, bahkan sejak aku masih memanggilnya dengan sebutan Pak Pendi karena dulu belum begitu tua umurnya. Dia sudah seperti guruku sendiri meski aku tak belajar mengaji atau membaca darinya. Dia bukan kiai, ustadz, atau guru sekolah. Dia hanya orang biasa yang lihai membuat dan memainkan beduk.
Waktu kecil sering aku main di rumahnya, belajar tentang memainkan beduk, mendengarnya olah tarik suara bebeluk, dan melihat pemuda-pemuda minta dibersihkan tenggorokannya dengan cara gurah agar punya suara yang bagus.
Rumahnya tidak jauh dari rumahku, hanya terpisahkan beberapa rumah dan kebun di kampung Ambuleuit, kota kelahiranku Pandeglang. Saat aku  berkunjung, dia sedang duduk bersila di balai-balai depan rumahnya. “Kau?” serunya.
“Iya, Mbah.” Kucium tangannya. Garis-garis keriput dan kumis yang separo beruban di wajahnya menegaskanku bahwa dia sudah menjadi seorang embah.
Diajaknya aku masuk ke dalam rumah. Rumahnya masih seperti dulu. Dindingnya terbuat dari bilik bambu. Lantainya masih telanjang, tak ada keramik atau semen yang menutupi. Kursi, meja, dan perabot lainnya sebagian besar terbuat dari kayu. Tidak ada yang berubah selama ini bagiku, hanya terasa lebih sepi ketimbang dulu. Kabar yang kudengar di perantauan memang semua anaknya sudah berkeluarga dan tak ada yang tinggal di sini. Mungkin hanya lebaran waktu semua anggota keluarga berkumpul.
“Sekarang sepi ya, Mbah?” Tanyaku, memancing pembicaraan.
“Ya, tidak seperti dulu. Anak-anak sekarang sudah dewasa, sudah bisa menentukan nasib sendiri. Mereka bekerja di kota lalu menikah dan punya keluarga. Hanya aku dengan istri yang tinggal di sini.” Wajahnya terlihat sendu.
Betapa dulu aku masih ingat ramainya rumah ini. Anak-anak Embah Pendi hanya satu dan dua tahun lebih tua dariku. Aku sering main di sini bersama mereka. Apa lagi ketika tiba bulan puasa seperti ini. Di halaman rumah, Embah Pendi dan para pemuda memainkan beduk tiap sore sampai menjelang magrib. Dia menabuh tiga beduk kecil dengan bunyi berbeda dan para pemuda menabuh beduk besar yang berderet berdampingan. Kadang dia mengiringi rampak beduk itu dengan bebeluk keras-keras. Orang-orang ramai menonton. Aku dan anak-anak kecil lainnya berlarian lalu lalang di antara beduk-beduk sambil membawa ranting-ranting pohon. Kadang kami mencoba ikut andil meramaikan dengan memukuli pantat beduk yang terbuat dari pohon kelapa itu.
Embah Pendi tidak hanya terampil dalam memainkan beduk, tapi juga membuatnya. Dia handal dalam menyamak kulit kerbau, melubangi batang pohon kelapa, menghaluskan permukaannya, dan memasang kulit kerbau di ujungnya. Jadilah kulit beduk itu kencang dan nyaring bunyinya. Dari keterampilannya itu dia bisa mendapat pemasukan ketika ada yang memesan untuk dibuatkan beduk, untuk langgar, masjid, atau perlengkapan kampung memeriahkan hari raya.
“Di mana beduk-beduk, Mbah?” Tanyaku.
“Ah beduk-beduk itu sejak beberapa tahun lalu kalau bulan puasa seperti ini disimpan di kampung Cigadung. Pada setengah bulan puasa akhir, setiap malam kampung kita bergabung dengan kampung Cigadung. Begadang kita semalaman di sana beradu beduk dan bebeluk dengan kampung Sukalimas dan Cidahu sampai tiba waktunya sahur.”
Dia menyambung lagi. “Sekarang tradisi adu beduk sudah semakin sedikit. Beberapa kampung sudah tidak lagi memesan dibuatkan beduk. Orang-orang tuanya sudah malas, para pemudanya pun sudah jarang yang tinggal di kampung, mereka lebih memilih tinggal di kota karena di sana ada pekerjaan, ada uang. Ya beginilah keadaannya, sepi di mana-mana, di rumah sepi, di dapur sepi, di meja makan sepi, dan kampung semakin lama semakin sepi.”
Dia tertawa kecil lalu menghela nafas. “Beduk-beduk kampung Lembur Jambu, Carodok, Sampora, Ciceri, dan Pasir Peuteuy sudah tidak lagi bersuara. Dulu mungkin kau juga masih ingat, adu beduk cukup kita lakukan di sini. Beradu dengan kampung Cigadung saja sudah meriah, meriah di malam takbiran dan di hari raya. Sekarang, kampung Cigadung sendiri tidak lagi punya beduk paling hanya beduk untuk panggilan salat. Jadi, aku harus ke sana membawa beduk-beduk untuk dibunyikan menjawab tantangan beduk dari kampung Sukalimas dan Cidahu. Kalau dari sini, suara beduk tidak akan terdengar kedua kampung itu.”
Tapi, setua ini ia masih kuat dengan tradisi beduk itu. Bukan beduk itu saja yang kukhawatirkan, tapi yang lainnya juga. “Embah masih kuat bebeluk?” Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum.
Bebeluk ini adalah seni tarik suara, menyuarakan lafadz-lafadz arab yang mengandung pujian kepada Tuhan dengan nada tinggi dan lantang. Nada tinggi itu meliuk-liuk sampai bunyinya bisa menyerupai bunyi trompet pencak silat. Biasanya bebeluk mengiringi suara alunan beduk. Aku salut bila dia yang sudah setua ini masih kuat bebeluk.
“Kalau kau tidak percaya, nanti malam kita main beduk di sana bersama para pemuda.” Ajaknya. Kumisnya lantas mengembang di bibir.
Kami lalu banyak bercerita satu sama lain. Dia banyak bertanya tentang perantauanku sampai pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab. Ketika magrib tiba, aku ditawari untuk berbuka puasa. Sebenarnya dalam hati aku tak enak merepotkan begini, tapi dia memaksa. Kami makan dengan lahap. Menunya sederhana, hanya ikan asin, tempe, tahu, sambal, dan petai untuk lalap.
“Petai hari ini sedang murah karena di mana-mana panen jengkol sedang banyak. Makanya aku sanggup beli lalap ini.” Katanya sambil tertawa.
Di tengah tawanya aku melihat kekhawatiran. Aku bisa melihat tubuh yang dibungkus kaos dan kain sarung itu, kurus, keriput, beberapa belang merah sisa kerokan bisa terlihat di belakang leher dan lengannya, mungkin dia sakit, tapi ditahan-tahan. Tak terasa belasan tahun di perantauan, sekarang tampak padaku potret dia, hidup bertambah tua di gubuk sederhana begini. Anak-anaknya sudah tidak lagi di rumah, bahkan di kampung ini. Hanya seorang istri yang sama-sama sudah tua menemaninya. Saat aku menyuapkan makanan ke mulutku, aku seperti merasa bersalah besar, makan dari orang yang entah besok masih bisa membeli beras atau tidak sedang aku masih bisa menyimpan uang untuk beberapa minggu ke depan. Aku hanya makan secukupnya, sekadar melegakan ketulusannya menawariku berbuka puasa.
Malam harinya, aku benar diajak ke kampung Cigadung untuk menyaksikan adu beduk. Di sana beduk-beduk sudah berderet rapi menghadap alas luas yang membatasi kampung Cigadung dengan kampung Sukalimas dan Cidahu. Tempat itu hanya diterangi dua lampu neon, satu lampu di atas beduk-beduk besar dan satu lagi di atas beduk-beduk kecil. Beberapa mikrofon terpasang di belakang beduk besar dan kecil itu.
Orang-orang ramai berdatangan padahal malam cukup larut. Sebagian dari mereka ada yang membawakan makanan ringan, seperti rangginang, gipang, peyek, pisang, dan ubi rebus untuk para penabuh beduk. Embah pendi datang denganku, membawa satu teko penuh bajigur panas. Dia duduk di bawah pohon duku menghadap beberapa beduk kecil yang sudah disiapkan di sana lalu menyalakan sebatang rokok. Aku hanya berjongkok di antara para penonton lain tepat di belakangnya.
Pada pukul sepuluh dia mendendangkan beduk-beduk kecil yang berirama itu. Sebatang rokok kretek di mulutnya seakan menjadi ramuan untuk menikmati permainan ini. Alunan beduk kecil lalu diikuti oleh tabuhan beduk-beduk besar dengan kompak.
Aku tersirap. Irama keras beduk-beduk itu mengetuk keras hati kami para penonton, bunyinya sanggup membelah malam sepi di alas yang luas untuk sampai di kampung tetangga. Alunan beduk ini tidak lama, seakan menyelesaikan satu lagu lalu berhenti. Ternyata tabuhan pertama ini tanda disampaikannya salam adu beduk dengan kampung Cidahu dan Sukalimas.
Para penabuh beduk duduk sejenak, menunggu balasan dari kampung tetangga. Sambil menunggu, sebagian dari mereka mengobrol sambil merokok, sebagian lain makan ubi rebus dengan asap yang masih mengepul. Satu dua penonton menuangkan beberapa gelas bajigur panas lalu menawarkannya pada para penabuh, termasuk Embah Pendi. Panas-panas bajigur itu diseruput, aku pun mencicipinya, hangat sekali di tenggorokan dan di dalam perut, mengobati dinginnya angin malam ketika berhembus dari arah alas.
“Inilah ramuan utama untuk bebeluk supaya tenggorokan bersih, suara bagus dan panjang,” ujar Embah Pendi ketika menoleh padaku.
Beberapa saat kemudian balasan datang dari kampung tetangga, tampaknya dari kampung Cidahu karena datang dari arah tenggara. Kami mendengarkan baik-baik. Tidak lama, satu lagu mereka selesaikan untuk menjawab salam dari kampung kami. Setelah alunan beduk mereka tak lagi terdengar, para penabuh beduk kami segera bergegas kembali ke posisi masing-masing. Rangkaian alunan beduk kedua siap untuk dilepaskan.
Benarlah ketika rangkaian alunan beduk kedua, Embah Pendi mulai meneriakkan bebeluk. Terpana aku melihatnya. Meski dengan usia tua seperti itu, suaranya masih tinggi, bagus, dan indah, memekik di antara gemuruh tabuhan beduk. Urat lehernya mengencang, mulutnya bergetar, dan matanya terpejam mengilhami. Kukira, tanpa mikrofon di depan mulut pun suara lantang seperti itu bisa sampai ke kampung tetangga meski harus menembus satu hektar alas. Beberapa pemuda meletakkan ponsel mereka untuk merekam apa yang didengar malam itu. Ada yang meletakkan di pantat beduk untuk merekam lebih jelas tabuhan-tabuhan beduk, ada pula yang merekam suara bebeluk Embah Pendi.
Kali ini suara tabuhan beduk mengalun lebih lama. Kiranya bila diterjemahkan ke dalam durasi musik, beberapa lagu telah dirangkap menjadi satu. Selain itu, terdengar pula variasi yang dimainkan Embah Pendi untuk mengatur klimaks lagu-lagu beduk hingga permainan diselesaikan dengan gegap gempita. Selanjutnya suara beduk menderu lagi dari arah kampung tetangga.
Di tengah suasana malam yang semakin dingin, kukalungkan sarung di leher dan kunaikkan resleting jaket. Kutiupi bajigur panas sambil mendengar sayup-sayup suara beduk dari kampung tetangga. Sejenak kuperhatikan Embah Pendi. Ah, dia pun tampak kedinginan. Dia sempat terbatuk satu dua kali lalu seakan menahannya, menelan dahak dalam-dalam dan meneguk air bajigur.
Tak terasa, beduk telah ditabuh dan dibalas berkali-kali. Angin malam telah menusuk-nusuk tulang semakin dalam. Teko yang awalnya berisi bajigur penuh pun telah menjadi ringan, hanya berisi ampas jahe dan serasahnya. Kulihat ponsel, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kami masih menyimak balasan yang cukup lama dari kampung Sukalimas.
Suara beduk dari kampung Sukalimas akhirnya berhenti. Sekarang giliran kampung kami. Para penabuh lantas bergegas, kembali ke posisinya. Beduk-beduk kecil mulai disenandungkan diikuti tabuhan beduk-beduk besar. Tampaknya tabuhan kali ini menjadi paling keras yang digemakan. Mungkin inilah penghabisan sebelum tiba waktunya sahur.

Kulihat Embah Pendi melenguhkan lagi bebeluk-nya. Urat lehernya mengencang, mulutnya bergetar, dan matanya terpejam mengilhami. Suaranya melengking, membelah hamparan kebun luas, terbang bersama angin, mengembara menyampaikan pesan bahwa ini beduk-beduk kami. Dari beduk ini kami hidup dan dengan beduk ini kami membawa kemeriahan dan kebahagiaan menyambut hari raya. Adakah dari kalian yang ingin menjawab beduk kami? Sayang, tidak lagi ada jawaban hingga aku kembali ke perantauan. 

Monday, 3 November 2014

Antara Awan dan Langit

Menikmati asap rokok yang hangat dan pemandangan di atas awan yang membentang luas seperti ini bisa kawan-kawan dapatkan di puncak Gunung Lawu..

Terjun Bebas

 
Kalian bisa temukan ini di Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta :)
 

Friday, 31 October 2014

Naik Gunung dan Naik Haji

Naik Gunung dan Naik Haji
sebuah renungan penulis

Mungkin Newton bila pada saat itu konteksnya adalah pembawa ajaran atau risalah tuhan, jadilah ia nabi. Teorinya tentang aksi-reaksi yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah suatu keseimbangan terbukti sudah di mana-mana. Ketika ada aksi terjadi pada suatu benda, keseimbangan selalu terjadi dengan adanya reaksi dari benda tersebut. Alamiah, natural, sunnatullah. Namun, Newton memang mungkin ditakdirkan bukan untuk menjadi nabi.
Orang-orang Indonesia yang mayoritas muslim selalu memercayai bahwa naik haji adalah suatu ritual sakral puncak rukun Islam. Hampir seluruh muslim Indonesia bercita-cita naik haji untuk menyempurnakan ibadah mereka. Frasa naik haji seakan menjadi tangga, di mana manusia melangkah untuk mencapai derajat spiritual yang “naik” atau lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, sebagaimana dikemukakan di awal tulisan ini, teori Newton tentang keseimbangan (aksi-reaksi) selalu terjadi. Barang kali tidak semua orang Islam menyadari bahwa naik haji itu pekerjaan “naik” yang harus diseimbangkan dengan pekerjaan “turun”.
Apa yang dimaksud  dengan pekerjaan “turun” tersebut? Yaitu pekerjaan menurunkan atau merendahkan segala hal yang bersifat duniawi. Dalam perjalanannya mencapai kenaikan derajat spiritual, muslim yang melakukan ibadah naik haji harus menyeimbangkan kenaikan itu dengan merendahkan hatinya, merendahkan nafsunya, merendahkan segala kuasanya, untuk bisa dekat pada yang Maha Tinggi. Newton menjelaskan bahwa reaksi terjadi sebagai peristiwa alamiah oleh adanya aksi. Peristiwa alamiah ini adalah suatu kesempurnaan yang telah ditetapkan Allah sehingga menjadi sunnah-Nya (sunnatullah) karena semua yang hasil karya-Nya adalah kesempurnaan. Meskipun teorisasi Newton mungkin sebatas pada perkara fisik, tetapi maknanya bisa cukup kuat untuk menjangkau hal-hal nonfisik. Gambaran jangkauan teori Newton itu bisa dijelaskan dengan konsep haji mabrur. Orang-orang yang melakukan ibadah naik haji selalu mengimpikan bagaimana hajinya mabrur. Mabrur itu sendiri ditandai dengan adanya peningkatan ibadah daripada sebelumnya. Peningkatan ibadah ini sendiri menjadi suatu yang sempurna, sebagaimana sunnatullah, bila dibarengi keseimbangan merendahnya hati serta merendahnya nafsu duniawi.
Lantas, apa hubungannya dengan naik gunung? Naik gunung pun adalah sesuatu pekerjaan “naik”. Hal yang menjadi inspirasi penulis adalah bahwa naik gunung tidak sekadar pekerjaan melalui jalan terjal, membuka semak belukar, atau menikmati pemandangan alam. Ada faktor nonfisik yang mesti diperhatikan oleh para pendaki gunung, seperti harus menjaga sikap dan tutur kata saat melakukan pendakian. Secara tidak langsung, peraturan ini merupakan manifestasi dari teori Newton atau keseimbangan atau sunnatullah di mana ketika melakukan pekerjaan “naik” gunung, pendaki tidak boleh ikut bertingkah atau bertutur kata tinggi/sombong. Terjadilah reaksi “turun” ketika pendaki memberikan aksi “naik” gunung di situ. Naik gunung mengajarkan pendaki bahwa mereka sangat kecil saat menghadapi alam ciptaan-Nya sebesar gunung, setinggi gunung. Meskipun kemudian mampu menaklukkan gunung, mencapai puncaknya, mereka dapat melihat bahwa mereka tidak lebih dari segelintir debu dari cahaya mentari yang sangat indah dan hamparan alam luas yang antah-berantah. Pencapaian ketinggian gunung pun menjadi seimbang dengan perendahan hati, pengakuan kecil, pengakuan lemah manusia di hadapan ciptaan-Nya, apa lagi kelak di hadapan-Nya.

Katakanlah, salah besar bila naik gunung itu untuk mencari hiburan terlebih hura-hura. Naik gunung adalah ritual di mana manusia bisa menyatu dengan alam, mendengarkan suara angin, menjadi bisu dan terpejam bahwa Allah membisikkan sesuatu di telinganya, “Rendah hatilah”.

Quotes Film X-Men Days of Future Past (2014)

"Kalian ciptakan senjata ini untuk menghancurkan kami. Kenapa? Karena kalian takut pada anugerah kami. Karena kami berbeda. Manusia selalu takut pada hal yang berbeda."
(Magneto)

Thursday, 30 October 2014

Quotes Film Automata (2014)

Di film ini, ada dialog yang menarik dari seorang manusia dan sebuah robot. Penulis rasa, percakapan ini adalah quotes terbaik minggu ini.


Robot: “Bertahan hidup tidaklah relevan. Hidup adalah: Kami ingin hidup.”

Jack Vauqan (manusia): “Hidup adalah: selalu berakhir menemukan jalan.”

Wednesday, 29 October 2014

Quotes dari Biografi Driyarkara

Quotes Driyarkara dalam "Driyarkara Si Jenthu, Napak Tilas Filsuf Pendidik (1913 - 1967)"


“Saya percaya kepada semboyan neng – ning – nung – nang! Barangsiapa meneng, akan menjadi hening, dari hening orang menjadi hanung, dan dengan hanung kita menjadi menang.”

“Kekuatan Anda tidak bersumber dari kemampuan menulis, melainkan pada kemampuan memimpin – janganlah mencari pada sumber lainnya. Lewat kesederhanaan Anda (yang masih harus dikembangkan lebih lanjut) dan keterbukaan hati Anda, Anda akan mudah berhubungan dengan jiwa yang satu ke jiwa yang lain. Pada kontak dengan satu jiwa itu, di situlah sumber kekuatan Anda.”

“Mati sajroning urip, urip sajroning palastra. Muji ing Gusti”

“Kritik tetap harus berdasarkan rasio dan lawannya harus juga melawan dengan rasio, bukan dengan kekuatan fisik. Salah, kritik yang tidak dikendalikan lagi, tapi salah pula dan adalah kontra-demokrasi jika kritik dibungkam. Rias demokrasi adalah alam dialog, wawan rembug yang dijalankan dengan rasio. Yang perlu dipahami bersama ialah bahwa demonstrasi dan mogok mempunyai tempat dalam alam demokrasi.”


“Hidup itu suatu kegembiraan yang besar… Setiap kehidupan adalah gerak ke arah Tuhan.”